CHAPTER XXIII—A Kiss
Aku merasakan angin sejuk Bandung menyapa begitu aku turun dari mobil. Udara di sini begitu berbeda dari kota tempatku tinggal sehari-hari. Angin sepoi-sepoi menyentuh wajahku dengan lembut, membawa aroma segar dari pepohonan yang menjulang tinggi di sekitar rumah. Mas Rama dan Aruna mengikuti langkahku, dan bersama-sama kami melangkah menuju rumah asri yang dipenuhi dengan tanaman itu.
Rumah itu masih sama seperti terakhir kali aku kunjungi, dinding merah bata dengan jendela-jendela kayu putih yang terawat dengan baik, menciptakan kesan hangat dan mengundang. Ketika pintu rumah terbuka, aroma masakan Mama langsung menyanbut kami. Aku hampir bisa merasakan betapa lezatnya masakan itu hanya dari aromanya. Bau rempah-rempah dan pedasnya sambal menggoda selera makan. Aku tersenyum lebar ketika Mama dan Papa menghampiri kami, memelukku dan Aruna secara bergantian.
"Sehat, Ma?" tanyaku pada Mama, setelah melepaskan pelukannya yang hangat dan penuh rindur. Kini, tatapannya segera berpidah, tertuju pada orang di sampingku.
Aku mengikuti arah pandang Mama, berusaha tetap tenang meski di dalam dadaku ada perasaan was-was yang sulit disembunyikan. "Kenalin Ma, ini Mas Rama," ucapku, dengan suara yang kutekan agar terdengar wajar. Senyum kecil kucoba tampilkan, menyamarkan ketegangan yang semakin terasa kuat dalam hatiku.
Tatapan Mama sedikit menyipit, lalu memindai Mas Rama dari atas sampai bawah, seperti seorang ibu yang hendak menilai calon menantunya. Aku sendiri tidak bisa menebak apakah itu tatapan penasaran atau ada sesuatu yang lain.
Mas Rama, dengan gerak sopan dan penuh hormat, mengulurkan tangan, menyalami kedua orang tuaku. "Halo Om, Tante, saya Rama, pac—"
"Temen Tiwi di kantor," potongku cepat, sebelum kata-kata itu benar-benar keluar dari mulutnya. Astaga, dia hampir saja membuat satu rumah heboh! Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya. Aku belum siap cerita tentang hubungan kami, apalagi kepada Mama. Aku tahu betul bagaimana reaksinya kalau sampai mendengar kata "pacar", karena akan selalu berakhir dengan pertanyaan, "kapan nikah?" atau "Dia serius gak sama kamu?"
"Oh, temen?" Mama bertanya dengan mata yang semakin menyipit curiga. Tentu saja, Mama tidak mudah percaya. Dia selalu punya instring kuat ketika ada sesuatu yang kusembunyikan. Tapi, tetap saja aku harus berusaha meyakinkan dia.
Aku menekan bibirku sambil menarik napas pendek, "iya, Ma. Kebetulan Mas Rama juga lagi ada urusan di Bandung. Dia juga tinggal di sebelah rumah kita di Jakarta, loh. Tuh, kebetulan banget, kan?"
"Memang sudah jodoh," gumaman Papa terdengar samar tapi cukup jelas untuk membuatku melotot kaget ke arahnya. "Eh, bukannya itu rumahnya Pak Hasim sama Bu Harti?"
Dengan senyuman tetap sopan, Mas Rama mengangguk. "Betul, Om. Mereka kakek dan nenek saya."
Aku mengerutkan kening. Sejauh yang aku tahu, Pak Hasim dan Bu Harti itu tidak punya anak. Jadi, bagaimana tiba-tiba Mas Rama jadi cucu mereka?
Sebelum ada yang sempat menanggapi pernyataan itu, terdengar suara langkah kaki ringan dari arah dapur. "Ini kok pada diem di sini?" celetuk Devon, adikku, dengan kaus oblong dan rambut acak-acakan khas remaja yang baru bangun tidur siang. Dia melangkah ke arah kami, ekspresi wajahnya jelas menunjukkan kebingungan melihat tamu asing.
Mama memukul pelan punggung Devon, "kamu ini, mentang-mentang sekolah libur jadi begadang terus, bangun cuma buat makan doang."
Devon menyentuh punggungnya sambil meringis. "Gak begadang, Ma. Cuma tidur jam satu doang kok," jawabnya dengan nada protes, meski tetap tersirat rasa malas di dalam suaranya.
Tiba-tiba Devon menangkap sosok di sampingku dan alisnya terangkat. "Eh, siapa nih, Teh?" tanyanya sambil melirik Mas Rama. Aku belum sempat membuka suara, Devon sudah lebih dulu menyambar lagi. "Jangan mau sama Teh Tiwi deh, Bang. Dia jarang mandi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Butterfly Effect
RomanceDi usia yang telah memasuki 25 tahun, aku merasa seperti seorang penonton di pinggir lapangan, tersingkir dari hiruk-pikuk serunya kisah cinta masa remaja yang dulu begitu membara. Mati rasa kini perlahan menggerogoti diriku, mengambil alih hari-har...
