"gua ga mau di kurung di dalam sini, gua masih mau main bareng bareng sama anggota alpice lain nya" ucap naren setelah membanting pintu kamar nya.
naren terduduk di balik pintu, menenggelamkan wajah nya ke dengkul sesaat.
air mata nya menetes kembali, membasahi wajah nya.
"hiks... paan si ni aer mata biadab, lu tuh cowok ren, hiks... cowo ko cengeng" naren mengelap air mata itu dengan kasar.
naren berjalan ke arah cermin yang berada di depan hadapan nya, melihat seluruh tubuh nya.
dengan sedikit menyeringai, ia melihat ke arah pisau buah yang berada di meja kamar nya, mendekati nya dengan perlahan dan menyentuh nya.
saat ingin menggoreskan pisau itu ke lengan nya.
TOK TOK TOK.
ketukan pintu itu membuat naren tersadar dari perbuatan nya yang ingin menyelakakan diri nya sendiri.
naren yang merasa kaget dengan apa yang ia pegang, melempar pisau itu dan tidak sengaja mengenai cermin.
lagi dan lagi mereka semua di buat khawatir oleh naren, dengan suara pecahan kaca kaca tersebut.
mereka semua telah berkumpul di depan pintu kamar naren setelah mendengar suara pecahan kaca, mereka ingin masuk tetapi pintu telah di kunci dari dalam.
"baby, buka pintu nya" ucap alex.
"ren, buka ren" juan dan alvi mengetok ngetok pintu kamar naren.
"baby, bukan pintu nya jika tidak ingin abang dobrak" ucap alva.
tidak ada jawaban dari yang di panggil.
"BABY, DADDY AKAN MENDOBRAK NYA JIKA TIDAK BABY BUKA" teriak alex dari luar pintu kamar.
"TIGA... DUA... SAT" belum sempat alex menyelesaikan hitungan nya, pintu kamar sudah di buka oleh naren.
"BABYYY" panggil mereka dengan tidak sengaja menaikan nada tinggi nya.
naren yang mendengar nya pun terkejut. "naren ga budeg"
alex tidak mendengar apa yang naren ucapkan, ia memutar mutar badan kecil naren, melihat apakah ada luka di tubuh nya atau tidak.
dan ternyata tidak ada.
"memang sangat nakal, ini semua demi kebaikan mu baby, menurutlah" kata abraham yang melihat naren.
"sssttt diamlah dulu opa" bisik alvi.
"kau yang diam bocah" bisik balik abraham.
naren yang baru saja mendengar perkataan sang opa ingin kembali menutup pintu, menyesal ia membukakan nya.
sebelum tertutup, xandrio menahan pintu itu dan kembali membuka nya.
naren melihat ke arah xandrio.
"sudah malam, makanlah bersama kami terlebih dulu, baby"
"naren ga laper" pembohongan besar.
naren melihat ke arah mereka.
"kalian mau naren homeschool dan meninggalkan sekolah lama naren kan? baik, naren turuti, seterusnya jangan bicara sama naren lagi, anggap kehadiran naren di sini hanyalah sekedar budak kalian, yang harus menuruti apa yang kalian mau tanpa memikirkan apa yang naren mau" ucap naren.
naren memperlihatkan senyuman nya, walupun terlihat sama tetapi senyuman itu terlihat berbeda dengan senyuman yang sebelum nya.
braggg
setelah mengatakan itu, lalu naren menutup kembali pintu itu dengan capat.
naren kira bakal ada lagi yang menahan nya, maka nya ia menutup nya dengan cepat, tetapi tidak ada sama sekali yang menahan nya, bahkan sekedar memotong ucapan nya pun tidak ada.
mereka semua terdiam, mencerna setiap kata apa yang naren ucapkan barusan, bagaimana jika naren tidak ingin berbicara lagi bersama mereka.
tidak, itu tidak boleh terjadi, tidak akan.
saat abraham ingin mencoba mendobrak pintu itu, abraham mengurungkan niat nya.
"jangan mencoba mendobrak pintu itu, jika ga mau naren berbuat hal yang melewati batas" ucap naren kepada mereka dari dalam kamar.
naren berjalan ke arah kasur, merebahkan dirinya di sana untuk mengurangi sedikit rasa lapar dan pusing di kepala nya.
mereka menuju ruang makan tanpa naren, karna waktu sudah mulai larut malam.
memakan makanan itu dengan ogah ogahan, biasa nya naren lah yang membuat suasana menjadi hidup.
tetapi ada juan yang makan nya sangat lahap, mereka pun bingung apa yang akan juan lakukan.
setelah juan menyelesaikan acara makan malam nya terlebih dulu dari mereka, juan mengambil nasi di piring, dan menyendok beberapa lauk untuk di bawa ke kamar naren, berharap naren ingin memakan makanan nya walau sedikit.
mereka yang tau apa yang ingin juan perbuat, hanya melihat, mereka pun berharap naren akan menerima makanan pemberian juan.
juan berjalan ke arah kamar naren, saat sudah tepat berada di depan pintu kamar naren, juan mengetuk pintu itu dengan sedikit ragu.
tok tok tok
naren mendengar ketukan pintu itu, dan bangun dari kasur untuk memastikan siapa orang itu, tetapi tidak sampai membukakan pintu nya.
tok tok tok
juan mengetuk pintu itu lagi, tetapi tidak ada respon yang di berikan.
"apa naren dah tidur ya?" tanya juan kepada diri nya sendiri.
"ren, ini gua, juan" kata juan.
klek
naren yang mendengar suara juan dengan ragu membukakan sedikit pintu itu.
"masuk" pinta naren, dan segera di turuti oleh juan.
setelah juan masuk, pintu itu kembali di kunci naren.
"duduk" pinta naren lagi.
lagi lagi juan menuruti ucapan naren untuk duduk.
naren melihat mata juan, dan sebalik nya.
naren menyeringai tipis ke arah juan.
BERSAMBUNG...
KAMU SEDANG MEMBACA
NARENZA ALEXANDER
Teen Fictionseorang remaja bernama narenza a, yang mengira ia sebatangkara tak menyangka suatu hari ada seorang pria gagah nan rupawan mengaku sebagai daddy dan abangnya. ia memiliki gang alpice yang beranggota inti 7 orang yaitu narenza sebagai ketua, arya, di...
