kini juan sedang memanggil alex, ingin memberi tau keadaan naren.
juan telah sampai di hadapan mereka yang sedang duduk bersama di meja makan.
"ada apa, juan?" tanya abraham.
juan melihat ke arah sang opa.
"naren tertusuk pecahan beling" ucap juan.
setelah juan mengatakan itu, mereka diam sesaat.
3
2
1
seakan tersadar apa yang telah juan katakan, mereka dengan segera belari menuju kamar naren dan meninggalkan juan.
juan menyusul mereka untuk kembali melihat keadaan naren.
brakkk
brakkk
mereka membuka dan menutup pintu kamar naren dengan kasar saking khawatir nya dengan keadaan permata mereka, yang membuat naren dan alvi memandang mereka dengan datar dari kasur nya.
naren memang awal nya tidak mau di gendong oleh alvi ke kasur, tetapi alvi tidak memperdulikam ucapan naren dan langsung saja mengangkat nya ke kasur.
"mana yang terluka, baby" tanya alex yang duduk di depan naren, sambil melihat bagian mana yang terkena pecahan nya.
"telapak kaki sebelah kiri" ucap naren yang melihat alex tidak menemukan di bagian mana luka nya berada.
alex melihat ke arah anak sulung nya, alex tau bahwa xandrio sudah sangat ahli dalam hal seperti ini.
xandrio yang paham akan itu, langsung mengambil peralatan yang di butuhkan.
saat xandrio sudah mengambil kaki kiri naren dan ingin mengambil pecahan beling itu, naren mengangkat sedikit kaki nya.
alvi yang melihat itu segera mendekat ke arah naren dan menyerahkan tangan kanan nya kepada naren.
"gigit tangan gua" ucap alvi santai.
saat xandrio mulai membersihkan luka yang ada di telapak kaki naren, naren mulai menyatukan gigi nya ke arah tangan alvi dan menggigit nya dengan sedikit keras.
alvi yang kaget dengan gigitan naren secara tiba tiba, dengan tidak sengaja menginjak kaki juan yang memang sedari tadi ada di sebelah nya.
"anj-" juan mengusap ngusap kaki nya yang baru di injak alvi.
naren yang melihat nya dengan segera melepas tangan alvi, dan alva yang menggantikan posisi alvi.
"kau sangat payah, alvi" bisik alva ke arah telinga alvi.
setelah itu, alva mendekat ke arah naren dan berjongkok membelakangi naren, tentu saja naren bingung apa yang di lakukan alva.
"jika sakit kau bisa menyakar nya semaumu, baby" ucap alva yang membelakangi naren.
xandrio mulai kembali membersihkan luka di telapak kaki naren.
alva yang mulai merasakan sakit di punggung nya pun tidak merespon apa apa, seakan menikmati setiap goresan yang di berikan oleh kuku naren.
setelah selesai di bagian kaki, alva mulai berdiri kembali.
"ada lagi, baby?" tanya xandrio sambil mengusap ngusap pelan kaki naren, berharap bisa mengurangi sedikit rasa sakit yang naren rasakan.
"ga ada, bang" jawab naren dengan sedikit menggoyang goyangkan sebelah kaki nya.
"mang eakkk" juan mulai menyenggol nyenggol xandrio, memberikan kode.
"yakin, baby?" xandrio menatap mata naren, xandrio tau jika naren membohongi nya, hanya saja sangat menyenangkan menggoda nya.
naren hanya menganggukkan kepala nya, juan yang melihat nya langsung menarik keatas celana naren, memperlihatkan luka yang ada di lutut nya itu.
naren menatap sinis ke arah juan.
xandrio mulai membersihkan lutut naren yang terdapat pecahan beling itu.
alva kembali berjongkok membelakangi naren, mempersilahkan punggung nya dengan suka rela di cakar oleh naren.
"udah" ucap naren yang sepertinya sudah tidak tahan.
"ya, sudah selesai, baby"
alva bangkit dari jongkok nya, kini mereka semua berdiri tegap di hadapan naren yang duduk di atas kasur nya, memandang wajah naren.
"ah cucu ku memang sangat imut" batin abraham yang melihat ekspresi naren.
BERSAMBUNG...
KAMU SEDANG MEMBACA
NARENZA ALEXANDER
Teen Fictionseorang remaja bernama narenza a, yang mengira ia sebatangkara tak menyangka suatu hari ada seorang pria gagah nan rupawan mengaku sebagai daddy dan abangnya. ia memiliki gang alpice yang beranggota inti 7 orang yaitu narenza sebagai ketua, arya, di...
