Seorang pria dengan pakaian yang acak-acakan sedang memijat pangkal hidungnya untuk menyangga kepalanya yang terasa akan meledak. Tidak hanya fisiknya tapi juga pikirannya yang butuh istirahat.
Satu bulan sudah berlalu dengan dirinya yang terus bekerja di balik meja besar di ruangannya hampir di setiap malam, dan di balik meja pertemuan di pagi dan siang harinya. Setiap hari ia harus mempelajari tentang kontrak yang Afrodis miliki dengan beberapa negeri yang hilir mudik bergantian datang kepadanya. Semakin membuatnya lelah ketika delegasi yang di utus tidak terima dengan keputusan akhir dari pertemuan mereka.
Kali ini pengeran kedua benar-benar mengerjakan tugasnya sendiri, mempelajari setiap perjanjian dan membuat rencana ke depan terkait pembaharuan maupun pemutusan kontrak. Ia tahu benar setiap keputusannya akan memberikan dampak bagi negeri ini di masa depan, maka dari itu ia benar-benar mempelajari tidak hanya terkait perjanjian tapi juga karakter negeri itu dan para pemimpinnya selain apa yang di miliki negeri tersebut.
"Kapan semua ini akan berakhir?" keluhnya yang sudah merasa jengah.
"Hampir" jawab Hoseok, pria itu baru saja meletakkan setumpuk kertas baru di meja besar tuannya.
"Apa lagi ini?" tanya Yoongi memandang tumpukan kertas itu bengis.
"Ini berisi seluruh perjanjian yang pernah dan hampir terjadi antara Afrodis dengan Emetis, ada biodata tentang para delegasi yang selalu datang beserta keputusan akhirnya. Hampir semua kerja sama antara Afrodis dan Emetis berjalan lancar, hubungan Afrodis dan Emetis juga terjalin sangat baik sejak dulu, itu adalah factor utamanya" Yoongi mengambil selembar kertas dari meja di depannya, ia kini mulai membaca satu persatu isi di dalamnya.
"Siapa yang akan datang dan kapan mereka akan datang?"
"Delegasi kali ini sangat terhormat, yakni tuan putri Emetis sendiri, beliau akan sampai di Afrodis mungkin dua hari lagi. Beliau juga berniat untuk tinggal di Afrodis selama beberapa hari sampai pesta ulang tahun ratu tiba" Jelas Hoseok kembali menambah jumlah tumpukan kertas di depan Yoongi.
"Pesta ulang tahun ratu?"
'Kami akan membiarkanmu mencari pendampingmu sendiri seperti yang kau inginkan. Namun hanya sampai pesta ulang tahun ratu, jika saat itu kau belum menemukannya maka kami yang akan mencari untukmu'
Sekelebat ingatan tentang ucapan ayahnya terus berputar di kepalanya, kesibukan yang mencekiknya satu bulan penuh membuatnya lupa tentang tenggat waktu yang di beri kedua orang tuanya. Hal itu semakin membuatnya gila, ia mengusap kasar wajahnya hingga mengacak surainya.
"HAH! Pangeran?!" Hoseok tiba-tiba berteriak dengan menatap wajah tuannya dengan raut terkejut sembari menutup mulut.
"Diamlah, aku juga ingat!"
"Waktu pangeran sudah hampir habis, apa pangeran sudah menemukan seseorang yang tepat untuk menjadi pendampingmu nanti?" ternyata Hobi juga memikirkan hal yang sama saat ini.
Yoongi hanya diam sembari menggigit bibir bawahnya. Semua keadaan yang terasa mendesaknya membuatnya sulit berpikir, ia memilih membuang nafasnya dan menyandarkan punggungnya pada kursi ternyaman "Entahlah, mungkin aku memang harus menyeretnya" pria itu kembali memijat pangkal hidungnya saat pening kembali menyambar.
"Nona, kereta sudah siap" panggil Taehyung pada Jizi yang masih sibuk menggores tinta hitam si kertas berwarna miliknya.
"Aku akan ke sana setelah selesai menulis surat" jawab gadis itu tanpa mengalihkan pandangannya. Taehyung hanya mengangguk dan keluar dari ruangan itu, membiarkan nonanya yang masih sibuk dengan urusannya.
"Taehyung, selama satu bulan ini, nona kerap kali menerima dan membalas surat. Sebenarnya dengan siapa nona bertukar kabar?" Mina dan Taehyung sama-sama berdiri di depan pintu ruang kerja Jizi, mereka menunggu nonanya selesai dengan urusannya dan keluar dari ruangan yang didominasi serba merah muda itu.
"Pangeran ke dua" bisik Taehyung setelah melihat ke kanan dan kiri.
"Pang-" Mina hampir saja berteriak saat Taehyung menyebut pangeran ke dua, beruntung Taehyung segera menutup mulut gadis itu sehingga tidak menimbulkan keributan.
"Ssssttt... aku sangat yakin itu adalah surat dari pangeran ke dua, surat itu sama seperti surat yang selalu di terima nona saat akan bertemu pangeran" bisik Taehyung lagi.
"Tapi bukankah nona membenci pangeran ke dua, nona selalu marah dan membuang surat yang pangeran kirim untuknya. Bahkan nona sering kali mengumpat atau memaki pangeran ke dua setelah menerima suratnya?" Mina terlihat mengerutkan dahinya, ia ingat betul bahkan nona Jizi dengan berani menyebut nama pangeran tanpa embel-embel lainnya dengan lantang.
Taehyung menggaruk kepalanya, ini sangat rumit untuk dijelaskan. Apa yang dikatakan Mina memang benar adanya, tapi tidak juga sepenuhnya benar. Ia kerap kali mendapati nonanya terlihat lebih baik dan tersenyum setelah bertemu dengan pangeran ke dua. Ia tak pernah bertanya kenapa, ia hanya takut jika ia bertanya akan membuat senyum itu luntur dari tempatnya.
"Hubungan antara pangeran dan nona itu rumit, Mina"
"Memang hubungan apa yang terjalin diantara yang mulia pangeran ke dua dengan nona Jizi, Taehyung? Apakah nona bekerja sama dengan pangeran ke dua seperti dengan pangeran Namjoon?" Mina kembali melayangkan pertanyaannya yang membuat Taehyung sulit menjawab.
"Eh.. sejujurnya aku juga tidak tahu hubungan apa yang terjalin antara mereka, sekalipun aku selalu ikut kemanapun nona pergi bahkan itu bertemu pangeran Yoongi, aku tidak benar-benar tahu apa yang mereka lakukan dan bicarakan. Mereka selalu memiliki ruang yang hanya berisi mereka berdua. Selain itu nona juga tidak pernah bercerita apapun tentang pertemuan mereka"
Mereka yang tak menemukan jawaban sama-sama membuang nafasnya, sembari masih menatap pada Jizi yang terlihat fokus di tempatnya.
"Nona, saya sangat merasa bersalah dengan apa yang saya lakukan hingga membuat nona sangat kecewa waktu itu. Maka dari itu untuk menebus kesalahan dan penyesalan saya, saya membuat beberapa gaun untuk nona" Solar menunjukkan beberapa gaun berwarna hitam hasil kerja lemburnya.
Ingatannya tentang Jizi yang memakinya masih jelas membekas dalam benaknya, hal itu benar-benar mengubah cara pandangnya terhadap gadis yang kini sedang duduk di atas meja yang penuh dengan tumpukan kain.
Gadis itu turun dari atas meja dan berjalan mendekat pada beberapa gaun yang baru saja Solar tunjukkan padanya. Sudut bibirnya mulai terangkat saat melihat dari dekat satu persatu gaun cantik yang panjangnya mungkin tidak sampai lutut.
"Taehyung, menurutmu yang mana yang harus ku pakai lebih dulu?"
"Aku sangat suka dengan model gaun ini, dia memiliki lengan yang dapat melindungi kulit nona. Nona bisa pakai yang ini dan yang itu setelahnya" Taehyung yang ikut berjalan mendekat, menunjuk satu persatu urutan yang menurutnya cocok untuk nonanya.
Solar merasa begitu lega saat nona Jizi kembali menyunggingkan senyum indahnya, benar-benar seluruh beban terasa longsor dari pundaknya.
"Aku datang ke sini untuk meminta kau membuat gaun berwarna biru"
"Gaun biru?" gadis itu mengangguk, ia kemudian menjelaskan detail gaun yang dimintanya pada Solar. Sedangkan gadis itu benar-benar terlihat fokus mendengarkan apapun yang keluar dari bibir kecil nona di depannya. Ia tak ingin mengulang kesalahan untuk kedua kali.
.
.
.
.
.
.
TBC
Terimakasih telah meluangkan waktu membaca Lentera Ke Dua🤍
Buat kamu 🥠
Have a nice day👋🏻
KAMU SEDANG MEMBACA
Lentera Ke Dua [Yoonmin]
FanfictionJimin seorang gadis cantik yang hidup dengan penuh kesempurnaan. Harta, tahta, rupa, perhatian serta kasih sayang selalu ia dapatkan dari orang-orang di sekitarnya. Namun apa jadinya jika ia malah masuk ke dalam novel yang di tulis temannya dan men...
![Lentera Ke Dua [Yoonmin]](https://img.wattpad.com/cover/343683034-64-k215246.jpg)