Sebuah Ferrari Purosangue hitam melaju pesat di suasana malam Jakarta. Pria berjas yang duduk di kursi supir terlihat sangat fokus mengendarai mobil pemilik perusahaan designer terpopuler di ibukota.
"Kok ga ngomong, La? Bisu?" celetuk Monika.
Matanya melirik putrinya yang duduk dengan gestur kaku di jok sebelahnya.
Bahasa tubuh gadis itu tampak risih, ia bahkan merapatkan pinggang pada pintu mobil. Merasa tidak nyaman sehingga menjauh dari wanita itu.
"La..." desis Monika, menggantung kata.
"Katanya, kalau kepala manusia dihantam dengan keras.."
Nafas Clara seakan berhenti saat itu juga, bibirnya menggigil kecil.
"Nanti dia bisa tuli.." sosok itu melanjutkan dengan santai.
"Terus akhirnya bisu deh.." tangan Monika bergerak pelan, mengambil tongkat besi golf yang ada di bagasi belakang.
"Mau bisu beneran atau ngobrol sama mami?" wanita itu mengangkat alis.
Bibir Clara memucat, bahunya naik turun tak beraturan, sedangkan matanya bergerak patah-patah ke arah supir, berusaha meminta tolong.
"Gavin yang ngajarin, ya?"
"Ng-gak, jangan apa-apain kak Gav!" sentak gadis itu, matanya melebar.
"Eh, mami gak mungkin lah apa-apain keponakan sendiri.." Monika tertawa cekikikan, namun malah membuat bulu kuduk anaknya merinding.
".. Kecuali kalau dia berani ambil kamu lagi untuk yang kedua kalinya." sambung wanita itu.
Clara meremat ujung rok kainnya, atmosfir dalam kendaraan itu seakan merebut stok oksigen paru-parunya.
***
Mobil yang bernilai milyaran rupiah itu berhenti di depan sebuah bangunan megah yang bernuansa putih.
"Kok kita kesini?" lirih Clara, kerutan di dahinya tampak jelas.
Monika terkekeh, "Mau nostalgia, La.."
"Nggak... Nggak..!" racau Clara.
Kepalanya menggeleng cepat, nafasnya terengah, serta tremor pada kedua tangannya langsung kambuh lagi.
"Turun, La." dingin Monika.
"Ngga mau..." rintih gadis malang itu, matanya memanas.
"Cepet." titah Monika sambil berusaha mendorong anaknya agar turun, tatapan tajam wanita itu dijamin membuat orang bergidik ngeri.
Clara mulai mengalami sesak, ia mulai terisak, kepala kecilnya kukuh menggeleng cepat.
"Pak, paksa dia." titah Monika pada supir pribadinya.
Pria itu membuka pintu kemudi, lalu bergegas turun dan menarik lengan gadis malang itu.
"Seret kalau dia batu." decih Monika setelah turun sambil menjinjing tasnya.
Sedangkan gadis malang itu terseok-seok di paping mansion.
Ketiganya menapak kaki di mewahnya keramik rumah besar itu, Monika mengedarkan pandangannya pada anak buah yang sudah bersiap di ruang tamu.
"Bawa anak saya masuk ke kamarnya. Awasi dari luar, dia lumayan nakal soalnya.." wanita itu melirik putrinya.
Dua pria kekar dengan jas maju, mereka menggantikan peran supir untuk memegangi Clara yang bajunya kotor karena terseret.
"LEPASIN!!" berontak gadis itu sambil berteriak histeris.
Namun, tenaganya tidak sebanding dengan bawahan Monika. Ia dibawa menyusuri ruang tamu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Married With Benefit
Fanfiction[Collaboration To Celebrate NCT Dream's Anniversary] Gavin Aksagara, laki-laki pewaris Grup First Empire, perusahaan impor asal China yang tengah menguasai pasar Asia. Ia memiliki prinsip tidak ingin menikah seumur hidup, bermain bersama teman dan '...
