33. Memburuk

1K 184 39
                                        

votement untuk apresiasi ya guys♡

Semua barang dari meja luluh-lantak di lantai ketika tersapu oleh kedua lengan Monika. Jeritan frustasinya memenuhi atmosfir mansion miliknya.

Eric berkacak pinggang sembari mengusap wajahnya yang pucat pasi. Jika Tio sampai menyebarkan video rekaman itu untuk kedua kalinya, maka kasus sebelas tahun lalu dipastikan akan dibuka kembali oleh negara.

"Dimana anak adopsimu itu?" netra Monika menatap nyalang kepada pria yang dahulu menjadi selingkuhannya.

"Anak buahku telah menuju ke rumahnya, semoga tidak terlambat." asa Eric, bola matanya bergerak gugup.

"Lalu Clara, kau berhasil membawanya dari rumah pacarnya?" lanjut menteri perdagangan itu dengan pupil melebar.

Monika mendengus kasar, "Aku belum juga mendapat telfon dari bawahanku.." kekinya.

Tut....

Ponsel di saku celana Eric bergetar, jemari kekarnya segera meraihnya.

Jempol ayah Kiran itu bergerak cepat menggeser tombol hijau.

"Bos, kami ternyata berpapasan dengan bawahan Nyonya Monika, Tuan Tio tidak ada di rumahnya!"

Genggaman tangan ayah Kiran pada ponselnya sontak mengendur, bola matanya tampak penuh. Ia menggulir netra terperangah pada Monika.

"Siapa pacar putrimu?" lirihnya.

Mendapat kerutan alis dari Monika, lalu wanita itu mengulum bibir.

"Aku tidak tahu namanya, tapi pria itu adalah manajer perusahaan Bonsai—"

"KITA DITIPU!" erang Eric seraya membanting angin, deru nafasnya memenuhi suasana sekitarnya.

"Mengapa kau tidak memberitahuku bahwa pacar Clara adalah Tio?! Dia adalah anak adopsiku!!" suara sang menteri mengeras di akhir, gurat-gurat kebiruan tampak jelas di lehernya.

"Lalu apa hubungannya, Tuan?" sisip Mila dengan alis tertekuk.

"Awasi Gavin dan Kiran!" laung Eric kepada dua wanita itu. Lalu dia segera angkat kaki dari keramik ruang tamu.

Namun, ketika mencapai ambang pintu mansion, pria dengan gelar menteri itu menghentikan langkah ketika ada seseorang yang menghadang.

"Apa hubunganmu dengan dia?" desis laki-laki dengan kulit wajah yang memerah naik pitam.

Eric membuang wajah, lalu menengadah untuk meraup udara.

"Arjun, biarkan papa lewat. Kita bisa bicarakan ini nanti—"

"Langkahi dulu mayat anakmu, baru kau bisa keluar dari sini!" sergas adik dari Tio itu dengan mata nyalang.

"Langkahi dulu mayat anakmu, baru kau bisa keluar dari sini!" sergas adik dari Tio itu dengan mata nyalang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Di jalanan sepi yang berada sangat jauh dari perkotaan, sebuah mobil Sedan melaju dengan kecepatan tinggi. Pria yang mengemudikannya terus terfokus pada peta jalan yang dikirim Kiran.

Married With BenefitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang