"Yo, menurut lo, nikah harus buru-buru ga?" celetuk Clara pada laki-laki yang sedang mencuci mobil.
Dio menyeka keringat di pelipisnya, lalu menghadap pada gadis yang duduk di bawah pohon rindang.
"Kenapa? Senior ngajak nikah?" tebaknya langsung pada intinya.
Clara membuang wajah, "Pandangan lo tentang nikah gimana?" tanyanya.
Dio membasuh mobil dengan guyuran air, lalu ia membuang nafas.
"Kalo orangnya spesial dan selalu ada buat kita, kenapa ngga?" sahutnya.
"Tapi kalo setelah nikah, salah satu ada yang bosen trus malah nyari orang lain?" ceplos Clara.
Dio menekuk alis, "Bosen itu menurut gue wajar aja, tapi selingkuh yang gak wajar." tegasnya.
Gadis dengan kemeja biru langit itu mengangguk pelan.
"Wajar nggak kalo cowo ditolak, abis itu langsung nyari yang baru lagi?"
"Senior nyari yang baru?" mata Dio membulat cepat.
"Gue gak mau bahas dia plis!" decak gadis itu, menegakkan kaki.
Mantan kekasih Kiran itu membuang nafas berat, lalu mengelap body mobilnya cepat.
"Kalo gini susah, gue juga gak bisa nyimpulin tentang senior." akunya.
Clara merotasikan bola mata, "Terima aja fakta kalo tuh kakek berurat ga sesuci pikiran lo." sungutnya.
Atensi laki-laki itu tersita ketika mendengar sebutan Clara pada Tio.
"Kalo cewe udah ngasi nama panggilan, biasanya masih suka lho.." goda Dio sembari terkekeh.
Membuat empunya langsung menyatukan alis, lalu mendengus.
"Sok tau," kekinya, angkat kaki dari hadapan junior dari manajernya itu.
Hari demi hari terlewat, hingga tak terasa dua minggu Clara sama sekali tak melihat batang hidung Tio.
Baik di kantor apalagi di rumahnya yang sering gadis itu lewati.
Namun, mobil Tio masih nelum terparkir disana.
Kini Clara yang duduk di depan setir, memejamkan mata erat.
Mengapa rasanya dia yang tersiksa padahal dia yang meninggalkan Tio dengan menolak lamarannya kala itu?
Gadis itu membuka kunci ponsel, lalu mencari kontak seseorang yang akhir-akhir ini menjadi temannya dalam mencurahkan isi hati.
"Halo, Yo?" sapanya setelah terdengar suara anak panti asuhan di speaker.
"La, bawain roti lagi dong, anak-anak suka banget katanya!"
"Ah, aman. Arsy dateng hari ini?"
"Rame yang dateng, buruan!"
"Tungguin guee!"
"Iyaa, bawel!"
Tut!
Benar. Clara harus melupakan apa yang tidak bisa ia perbaiki lagi.
Dirinya sudah menemukan lingkungan baru yang bisa mengisi hari-harinya.
Gadis itu tidak sendiri lagi. Anak-anak panti asuhan juga menyukainya, kan?
Kini mereka berhamburan keluar saat hanya mendengar desing khas dari mobil milik adik sepupu Gavin itu.
"KAK LAAA!~" sapa bocah-bocah itu dengan senyum lebar yang terpatri.
"Siapa yang gak sabar maem roti?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Married With Benefit
Fanfiction[Collaboration To Celebrate NCT Dream's Anniversary] Gavin Aksagara, laki-laki pewaris Grup First Empire, perusahaan impor asal China yang tengah menguasai pasar Asia. Ia memiliki prinsip tidak ingin menikah seumur hidup, bermain bersama teman dan '...
