38. Singgah

1.4K 172 181
                                        

Sang surya tertidur, langit malam dihiasi oleh oleh rembulan sabit yang menurut pria yang berada di balkon lantai dua sangat indah.

"Tiooo...!" suara samar-samar seorang gadis membuatnya berhenti menatap bulan.

"Menurut lo, bonsai mana yang lebih bagus?" tanya gadis yang masuk dan duduk di ujung tempat tidur Tio.

Pria yang awalnya di balkon, kini menutup pintunya lalu menggeser gorden tebal kamarnya.

"Kenapa saya harus memilih?" halus pria itu, menekuk alis.

"Pilih aja, kalo sampe salah, gue cabut dari nih rumah!" ancam Clara.

Kerutan di kening Tio semakin jelas, netranya tergulir ke layar tablet.

"Yang ini," ucapnya lalu kembali mempertemukan netranya dengan Clara.

"Iya, kan?! Lebih bagus desain gue daripada si lonte!" decak gadis itu.

Membuat Tio langsung meloloskan udara lega dari paru-parunya.

"Lonte siapa?"

Clara melirik sebal, "Anggota baru tim pemasaran, masa katanya desain gue ketinggalan jaman!"

"Mana bilang gue tukang caper ke elo lagi. Babi." umpatnya.

"Kalau dia babi, kamu sendiri chihuahua." gurau Tio.

Mendapat sorot tajam dari empunya, bisa-bisanya sudah lewat dari satu bulan tapi pria ini masih belum melupakan sebutan itu padanya.

"Males, ah!" Clara beranjak menegakkan kaki.

Namun, sang manajer meraih lengan mulus nan seputih susu miliknya. Menariknya agar tetap duduk di sisinya. Mata mereka bertemu di ruang tidur Tio yang bersuhu rendah.

"Kamu memang caper, chihuahua." lirih pria itu.

Membuat atmosfir di antara mereka lengang, dada kiri Clara semakin berisik saat Tio bergeser mendekatinya.

"Kamu menghabiskan sebagian besar perhatian saya." jemari berurat mantan atlet silat itu mengelus pipinya.

Clara meremat seprai kasur Tio, netranya bergerak turun.

"Kamu bisa mendapatkan semua setelah pernikahan kita."

Adik sepupu Gavin itu melebarkan mata, lalu bergeser mundur cepat.

"Gue salah denger, ya?" Clara mengerjap.

Tio menarik dua sudut bibirnya, lalu menatap dengan manik hitam sayu.

"Saya melamar kamu, Clara." Tio memperjelas.

Membuat perempuan itu memeluk tabletnya erat, lalu mengernyit.

"Hh, rasanya baru kemaren tega nyuruh La ngerjain seratus bonsai!" sergas Clara dengan pandangan tak percaya.

".. Sekarang malah minta nikahin?"

Tio menyurutkan lengkungan di bibirnya, lalu mendengus.

"Saya tidak mungkin menyamakan pekerjaan dengan urusan asmara." ungkapnya datar.

"Itu saya lakukan agar kamu setidaknya bisa berguna di kantor." imbuh pria itu dengan netra serius.

"Berguna kata lo?" Clara menyatukan alis.

"Jadi selama ini gue ga guna?" sungutnya lalu menegakkan kaki.

Tio tertular kerutan di kening, ia tak menjawab.

Clara memberikan lirikan tajam, semua moodnya jadi hancur berantakan. Lalu ia angkat kaki dari kamar itu. Tanpa ditahan oleh pemiliknya sama sekali.

Married With BenefitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang