Gavin mendorongku agar keluar dari kamarnya setelah ia tahu bahwa akulah calon istrinya. Laki-laki itu mengunci pintunya dari dalam tanpa berkata sepatah katapun.
Tak berbeda denganku yang juga syok ketika mengetahui akan menikah muda dengan seorang chindo menyebalkan sepertinya. Ya, walau aku sedikit lega karena Gavin bukan om-om.
"Gav, siapa ngajarin banting pintu?!" seru Diah, mengetuk-ngetuk.
"Maafin dia ya, anaknya pemalu" lanjut wanita itu dengan senyum canggung.
"Tidak apa-apa, Bu Diah. Maaf juga karena Kiran masuk tanpa ijin ibu" aku menurunkan pandangan.
"This is your home, sweetheart. Ayo, bunda ajak jalan-jalan?"
Lagi dan lagi, aku jadi meragukan Gavin sebagai anaknya Bu Diah. Penampilan, gaya bicara, manner, dan senyum mereka seperti langit dan bumi. Atau jangan-jangan, Gavin hanya anak pungut?
Bu Diah mengajakku berkeliling melihat seisi mansion yang apik itu. Aku cukup terkejut ternyata keluarga ini memelihara banyak sekali hewan. Dari unggas, seperti burung beo albino, hingga ikan arwana dengan sisik putih yang benar-benar mencuri atensiku. Kurasa keluarga Bu Diah menyukai hewan peliharaan berwarna pucat.
"Bunda masih ga nyangka lo, anak menteri kaya Kiran mau ngabdi jadi relawan." Diah membuka dialog.
"Mm, Bu Diah bukan orang pertama yang bilang gitu" sahutku, menggenggam tali tas selempang.
"Ck, bunda ga suka deh dipanggil gitu" Diah berdecak.
"Ra panggil saya bunda, ya?" lanjutnya.
"Kiran ga enak, Bu.." tolakku.
"Kamu sebentar lagi jadi anak bunda juga loh, gapapa nyuri start!"
"Bunda pengen banget punya anak perempuan, tapi ternyata Tuhan ngga kasih..." akunya, memelas.
"Oke, deh, Bunda."
Atmosfir di antara kami lengang sesaat.
"Maaf..."
Kepalaku tertunduk sembilan puluh derajat, sehingga yang dilihat Bu Diah mungkin hanya beberapa bulir bening lolos dari pelupuk mataku.
Aku berusaha keras menahan tangis kecil yang kelamaan berubah jadi sesenggukan. Kedua telapak tanganku menangkup wajah yang memanas.
"Kenapa, Kiran?"
Pertanyaan kenapa membuat semua orang yang sedang sedih makin ingin menangis. Aku berusaha mengatur nafas supaya Bu Diah tidak khawatir.
"Bunda Kiran udah lama dipanggil," ucapku lirih.
"Waktu liat senyum anda, Kiran jadi kangen sama bunda..." bahuku bergerak naik-turun.
Selama ini, aku berusaha kuat untuk tidak menangis di depan siapapun. Tapi kali ini aku menyerah. Sudah empat tahun lalu, bunda tewas karena tragedi longsor di daerah pedalaman.
Mulai saat itu, aku melupakan semua tuntutan papa, lalu memutuskan untuk menggantikan sosok bunda yang dulu mengajar anak-anak kurang mampu.
"Sini peluk bunda, sayang..." Bu Diah membawaku masuk ke dekapan hangatnya. Telapak tangan lembutnya membelai surai panjangku.
Bukannya kian menyurut, tangisanku semakin menjadi-jadi karena aku malah teringat pelukan bunda.
"Gapapa, nangis aja sepuasnya. Jangan ditahan lagi" Bu Diah menepuk-nepuk kecil punggungku.
Setelah beberapa saat, wanita itu menangkup pipi panasku, lalu menyeka semua air mata yang berurai disana.
"Mulai sekarang, Kiran anaknya bunda. Jangan pernah merasa sendiri lagi, ya?" ucapnya setenang aliran air.
KAMU SEDANG MEMBACA
Married With Benefit
Fiksi Penggemar[Collaboration To Celebrate NCT Dream's Anniversary] Gavin Aksagara, laki-laki pewaris Grup First Empire, perusahaan impor asal China yang tengah menguasai pasar Asia. Ia memiliki prinsip tidak ingin menikah seumur hidup, bermain bersama teman dan '...
