Otot-otot wajah Kak Tio menegang, aku bisa melihatnya jelas. Rahangnya mengeras, bibirnya mengatup erat, dan sorot matanya menajam.
"Ra, kita harus cari laki-laki brengsek itu sekarang." desisnya.
"Tapi, Ra ngga tau Gavin dimana, kak" ungkapku, lalu mulai melongok ke semua sisi tubuh, mencari ponselku.
".. Kayanya hp Ra jatuh waktu dikejer preman tadi" imbuhku setelah mendengus kecil.
"Kalo gitu, kita ke mansion Bu Diah aja, gimana?" tawar laki-laki dengan jaket bomber hitam itu sembari menatapku sendu, melihat kondisi tubuhku yang amat berantakan.
Daguku langsung mengangguk setuju. Lalu mencoba bangun dengan bantuan kak Tio. Kami berjalan cepat pergi dari gang sepi nan gelap itu.
***
Wanita dengan piyama silk krem itu berjalan cepat menuruni tangga rumah, ketika mendengar kedatangan Kiran di dini hari seperti ini.
Dahinya berkerut, matanya lebih banyak mengedip, gesturnya amat khawatir ketika mencapai pintu utama mansion. Menatap Kiran dari rambut hingga kaki dengan heran.
"Loh, kamu kenapa, Ra?" Bu Diah melebarkan mata, manik hitamnya melirik kaku pada sosok kakak yang berdiri di sebelahku.
"Bunda..." aku tak dapat lagi menahan tangis, bibirku menggigil kecil.
"Malem, tante." ujar Kak Tio setelah membiarkanku dipeluk ibu mertuaku.
"Nak Tio, kenapa bisa gini?" bingung wanita itu, masing mengusap-usap surai panjangku.
"Tadi Kiran hampir disergap sekelompok preman, tan." ungkap Tio.
"HAH?"
"K-KOK BISA?!" Bu Diah menatapku dengan bola mata penuh.
"Ada yang luka? Kita ke rumah sakit?" ia menggenggam erat bahuku.
"Ngga, Bunda..."
"Gimana bisa ketemu sama preman? Kan kamu barengan sama Gavin?" tanya Bu Diah bertubi-tubi.
"Kiran ngotot jajan sempol, bun."
Netra kami bertiga langsung menuju ke sumber suara itu.
Kak Tio mendelik, ia menggertakkan geraham ketika melihat Gavin datang dengan gestur santai di situasi serius.
"Gavin gak ijinin karena udah malem, tapi Kiran bandel. Terus di warungnya dia malah disergap sama preman-"
"..Untung aja ada Gavin disana!" lanjut laki-laki itu sembari terkikik.
Lidahku kaku dan bibir ini tak dapat mengatup, tak bisa berkata-kata lagi saat mendengar kebohongannya.
"Bangsat," lirih Tio, pupilnya mengecil, ia mencengkram sarkas jaket denim yang membalut tubuh adik iparnya.
"Kok bisa ada dagang sempol jam dua pagi?" Bu Diah makin menekuk alis.
Aku langsung menahan lengan kak Tio. Tidak berniat untuk memperpanjang masalah. Toh, saat ini aku selamat.
Kakak menatapku sembari menggeleng. Aku mengangguk kecil, memberi kode agar tidak melanjutkan keributan ini. Apalagi sampai bertengkar pada waktu dini hari.
Kakakku itu menghela nafas pendek, menghempas cengkramannya di pakaian Gavin, menahan emosinya.
"Bun, aku sama Kiran ke mansion hadiah papa, ya? Kasian, Ra pasti cape" ujar Gavin, lalu dengan tak terduga menangkup kedua pipiku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Married With Benefit
Fanfiction[Collaboration To Celebrate NCT Dream's Anniversary] Gavin Aksagara, laki-laki pewaris Grup First Empire, perusahaan impor asal China yang tengah menguasai pasar Asia. Ia memiliki prinsip tidak ingin menikah seumur hidup, bermain bersama teman dan '...
