36. Plester

2K 253 169
                                        

Sebuah mobil mewah dengan nuansa hitam melesat di bypass Jakarta. Tampak tenang dan mulus dari luar, namun tidak jika melihat ke dalam.

Isi kepala dari kedua penumpangnya sangat berisik.

Yang satunya berpikir apakah wajahnya ini sudah setua itu hingga orang berpikir Clara adalah anaknya?

Sedangkan yang lain merenungkan alasan seorang pria berkepala tiga bisa bertingkah kekanak-kanakan.

Tut...

Suara dering ponsel Tio memecah lamunan keduanya. Atmosfir yang awalnya lengang, kini diisi oleh suara desiran angin dari speaker.

"Ya?" Tio menyapa. Menyita atensi gadis yang duduk di jok sebelahnya.

Pria itu beralih mengangguk sembari mendehem, netranya juga masih fokus menghadap jalan.

"Ya, saya lagi menyetir. Akan sampai disana setengah jam lagi."

"Baik." tutup Tio.

"Siapa?" Clara mengangkat alis.

"Dio, katanya mau bicara soal korban tembak di ruang kerja mansion saya."

Membuat Clara meredupkan sorot mata. Dadanya langsung mengembang dengan raut wajah datar.

"Gue tau," ungkapnya.

Tio melirik, "Waktu itu kamu juga ikut ngambil flashdisknya?"

Mendapat anggukan dari gadis itu.

"Dia awalnya temen Kak Gav. Tapi kemarin? Pengkhianat." decih gadis itu tanpa raut senang sama sekali.

"Maksudnya?" dahi Tio mengerut.

Tak bisa menahan unek-uneknya, Clara segera menceritakan dengan runtut semua kronologi yang terjadi pada El.

"Kenapa dia bisa ketembak?" tanya Tio setelah gadis itu menyelesaikan cerita.

"Hh, karma ga meleset. Yang penting bukan kami pelakunya." sungut Clara.

Sunggingan senyum muncul di bibir seksi Tio, ia membuang nafas pelan.

"Jika Kiran sudah membaik, saya akan mengajak kalian semua makan. Keadaan sudah tenang karena kerja keras kita." ujarnya bangga.

"Salah, Tio." Clara menoleh.

".. Kita sukses ngalahin mama karena rencana mateng kak Gav sama kak Ra."

"Makanya gue pengen banget tau, gimana bisa dua orang yang lagi ada di ambang perceraian bisa setenang itu, bahkan sempet bikin rencana!" greget gadis itu dengan mata melebar.

Tio menerbitkan senyum lagi, matanya menatap fokus ke jalan.

"Hei," Clara mengibas tangan.

"Baikan napa sama kak Gav? Masa sama adik ipar sendiri ga akur?!—"

Clara langsung meremat kuat lengan kekar Tio ketika pria itu tiba-tiba membanting setir ke kanan. Dan menekan pedal rem secara mendadak.

Setelah decit kendaraan roda empat milik sang manajer berhenti, hanya deru nafas yang terengah-engah yang mengisi atmosfirnya.

"APA-APAAN, SIH?!" sergas Clara yang helaian rambutnya menutupi wajah.

"Adik ipar?" ulang Tio, lalu melepas kunci sabuk pengaman yang melingkari pinggangnya.

Gadis yang awalnya menatap dengan nyalang, langsung mengerjap, dalam hatinya ia langsung mengutuk diri mengapa bisa menyebut panggilan itu.

"Hm, gue cuma—" Clara memangkas kalimatnya saat Tio tiba-tiba keluar dari mobil.

Married With BenefitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang