29. Terkuak

1.9K 310 213
                                        

"Saya yang bisa marah."

Baritone seseorang sukses membuat genggaman anak buah Monika pada lengan mulus Clara melonggar.

"Ada apa ini?" Tio menyelipkan lengan di antara keduanya, membawa Clara dengan gentle ke punggungnya.

Gadis yang masih sedikit terengah itu menengadah, menatap bahu lebar pria di depannya yang tengah melindunginya.

"Maaf, ini adalah urusan saya dengan Nona Clara." bawahan Monika memberi sorot serius.

"Urusan apa sehingga harus menyakiti lengannya?" balas Tio dingin, pupilnya mengecil, menatap lurus.

"Bawa Nona Clara pada saya sebelum ada pertumpahan darah disini." peringat pria dengan jaket bomber itu.

Tio memiringkan kepalanya, "Darah siapa?" tantangnya.

Pria di depan kakak Kiran itu menggertakkan geraham, ia mengepal jemari tangan kuat hingga kukunya memutih.

Set!

BUGH!

"PAK TIO!!!" pekik Clara dengan bola mata yang hampir keluar dari tempatnya. Kedua tangan gadis itu terangkat untuk membekap mulut.

Setelah mendapatkan bogem mentah sekuat itu, Tio hanya memalingkan wajah sejauh tiga centimeter. Membuat pria di depannya menyatukan alis.

"Kenapa ngga ngehindar sih, bego?! Katanya mantan atlet silat?!" sungut Clara tak habis pikir, segera keluar dari punggung pria gapura itu untuk memeriksa keadaannya.








Set!








Clara membelalak ketika tangan hangat Tio tiba-tiba meraih pinggangnya dan menyatukan tubuh mereka. Kedua tangan gadis itu meremat jas, matanya yang bulat menyelami sorot sayu Tio.

"Siapa yang suruh kamu keluar?" suara rendah sang manajer sukses membuat gadis itu langsung bungkam.

"Nona Clara, ikut saya atau Nyonya Besar akan murka." ancam bawahan Monika untuk kesekian kalinya.

Mendengar kata terakhir, Clara mempererat genggamannya pada jas Tio, pria itu juga merasakan tangan Clara gemetaran tak karuan.

Tap!

Tap!



























BUGHH!!!!!
























BUGGHHH!!


















"UGH!!"


















Kepalan tangan kiri Tio mendarat bertubi-tubi di area perut pria itu tanpa ampun. Sepasang mata elangnya kini tak berbeda dengan singa yang memiliki hasrat kuat untuk mencabik-cabik mangsanya.

Jemari penuh urat manajer perusahaan itu beralih melingkar kencang di leher pria di depannya, bak ular kelaparan yang melilit santapannya.

"Anda membuatnya takut." desis Tio, beralih menggunakan seluruh kuku tangannya dan menyiksa saraf nyeri di leher rivalnya.

"ARGHHH!!!"

BUGHH!!!

BRAKKKKKK!!

Belum puas meluapkan emosinya, Tio menyambar vas seberat tiga kilogram di dekatnya dan menghantamkannya ke kepala pria itu. Benda itu berderai setelah berbenturan dengan tulang tengkorak, kepingan-kepingan kaca menyentuh keramik lorong dengan denting nyaring.

Married With BenefitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang