Takdir gak ada yang tahu.
Anlea bagi Alfi adalah segalanya. Pun, Alfi bagi Anlea adalah rumahnya.
🔋🔋🔋
:kalau mau baca versi au nya juga bisa cek langsung ke tiktok saya ya❗ 89% beda alur.
start:kam, 8 february 2024.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Anlea pulang kerumah sesuai keinginan orangtuanya. berat hati kaki itu melangkah memasuki rumah besar berpagar beton tersebut.
"Dari luar aja udah sesak, apalagi dalamnya?" gumamnya memperhatikan rumah orangtuanya itu.
Selesai kepulangan teman temannya dari kos tadi Anlea langsung memutuskan untuk segera menemui orangtuanya. dia mengingat pesan Rafael beberapa saat lalu yang meminta nya segera pulang karena ingin membahas tentang perjodohan itu.
Benar saja. begitu ia tiba di ruang keluarga papa dan mamanya sudah menatap masam kearahnya. alih-alih menyambut kepulangan anak yang pergi karena keegoisan mereka malah menyambutnya dengan ekspresi dingin dan datar.
"Pulang juga kamu? harus banget papa suruh Rafael baru kamu mau melangkahkan kakimu lagi dirumah ini, anak durhaka? "ucapan dari Andes, papanya itu begitu terasa menusuk.
Anlea meneguk saliva dengan pandangan kosong. bukannya menjawab dia justru lebih terlihat santai sebaik mungkin hendak cepat pergi dari sana. hawanya membuat dadanya sesak.
"To the point aja. "katanya.
"Segeralah berkemas dan kembali kerumah ini. "
"Aku tidak mau. "
PLAKK!!
Tamparan keras itu terasa tak berarti apa-apa bagi seorang Anlea yang baru pulang kerumah dihadiahi sambutan dingin dari sang papa.
"Mau jadi apa kamu Anlea?!"
"Apa kamu senang menjadi gelandangan yang tidak di urus di luar sana?!"
"memalukan keluarga!"
Anlea menghela napas. dia tau akhirnya akan seperti ini.
"Memalukan apa Pa, yang Papa maksud?" tanyanya.
"Aku hidup jauh lebih baik di luar daripada saat saat aku berada di rumah yang sesak penuh emosi ini. "matanya yang sebening kaca menembus kornea mata sang papa. dingin, dan kosong.
Anlea masih terlihat tegar.
"Mama menyurhmu kembali bukan untuk membuat kalian bertengkar!" lerai wanita paruhbaya bernama Hizca, mamanya Anlea itu.
"tapi kita mau bahas tentang perjodohan kamu sama Rafael sahabat kecil kamu Anlea!"
"Rafael yang kamu cari cari itu sudah kembali. kamu harusnya senang kan, mama menjodohkan kamu sama dia ketimbang bersama lelaki gak jelas seperti Alfian Alfian itu?"
Lalu mengapa? apa masalahnya? hanya karena teman masa kecilnya kembali bukan berarti Anlea mau menikahinya seperti kebanyakan orang. dia menganggap Rafael hanyalah sebatas teman kecil tak lebih. mungkin mereka lah yang sudah menyalahpahami semuanya.
"aku senang Rafael balik. bukan berarti aku mau dijodohin ma. aku gak cinta Rafael. aku cuman mau sama Alfi. "
PLAK
Lagi... dia mendapati tamparan dari sang papa
Anlea tertawa kosong.
Kedua pipinya sudah sangat panas dan sakit. bukan cuman itu. hatinya juga sesak.
"Puas, hm? belum ya? tampar lagi. AYO TAMPAR LAGI PA!! TAMPAR SAMPAI AKU MATI!!!"
"ANLEA!!"
"MAS!!"
"Tenangin diri kamu mas!"
Air mata Anlea membendung tak tertahan. penglihatannya mulai kabur karena bergenangnya cairin dimatanya itu.
"Anlea. mama mohon dengerin mama. kamu harus menerima perjodohan ini karena kami sudah membicarakan semuanya sama keluarga Rafael. "
Mamanya bahkan tak memahaminya sekarang.
"Kamu tidak bisa menolaknya! ini yang terbaik untuk kamu! "
Jangan konyol.
"Memangnya kalian pernah, dengerin aku? "
"Dari kecil, kalian gak pernah dengerin aku, kalian selalu sibuk dan nitipin aku kerumah nenek, kalian bahkan gak pernah ada waktu buat dengerin keluhan aku.." ia mulai mengeluarkan unek-unek yang tersimpan lama dalam hatinya. entah sejak kapan ia ingin sekali melontarkan kata-kata pedasnya itu.
"Apasih, arti aku di kehidupan kalian? kalian gak sayang sama aku? "
"Anlea bicara apa kamu?!"
"Mama begini demi kamu! mama tau yang terbaik buatmu! mama yang ngelahirin kamu! jadi mama dan papa jelas lebih tau daripada dirimu sendiri!!!"
"kalian memang orangtua ku. mama memang yang melahirkan aku. aku hidup juga karena mama. tapi... apa kalian tau, hal yang aku mau? apa yang membuat aku bahagia? " Suaranya terdengar dingin. tak ada bentuk emosi didalamnya. dia tulus.
"Alfianlah, orang yang selalu ada buat aku bukan kalian. "
Hizca dan Andes terbungkam olehnya.
Tangis gadis itu terdengar sakit. dia menyentuh dadanya dengan bibir getar.
"Dan kalian mau pisahin aku sama orang yang udah bikin aku bahagia hanya karena keegoisan kalian. kalian bilang itu yang terbaik?" dia tertawa hambar. rasanya dia akan mati jika terlalu lama disini.
"Jangan pernah, suruh aku pulang lagi cuman buat hal kayak gini!"
Anlea melangkah meninggalkan mansion tak memperdulikan teriakan mereka. dia berlari dengan rasa sakit dan kecewa. dia belum puas mengeluarkan unek-unek yang tertahan dalam hatinya. akan tetapi begitu berhadapan dengan mereka Anlea jadi tak berdaya dan lemah. ribuan kata yang ia susun rapi dikepala lenyap begitu saja hanya dengan beberapa kalimat menyakitkan dari sang papa dan mama.
"Sebenarnya apa arti aku dilahirkan ke dunia ini... kenapa kalian kayak gini sama aku!! kenapa!!!"
Dia menangis terisak di pinggir jalanan sepi.
"Sakit... tapi Alfi gak boleh tau nanti dia sedih. hiks tapi... tapi aku butuh Alfian.."