_
takdir memang bisa dirubah tetapi tidak bisa ditentang.
_Anlea_
Waktu kita memang singkat,
Tetapi cinta kita pasti abadi.
Alfianlea. Kita dan semesta.
Senyum Anlea kembali terbit. Usai menulis dua baris kalimat itu dalam notebook mini bewarna hijau, dia beranjak dari duduknya keluar kamar.
"Ma. Pa. Lea enggak mau berobat lagi."
Kedua orangtuanya membelalak sempurna. Andes nyaris menumpahkan kopi pahit ditangannya. Sedangkan Hizca sudah menjatuhkan dan memecahkan segelas air putih diatas meja.
"Bilang apa kamu Lea?" Mamanya terlihat marah "Kamu memang sakit. Diagnosanya juga bilang enggak banyak waktu yang kamu punya. Kita memang enggak tahu kapan hari itu tiba. Tapi semenyerah ini bukan jalan yang baik!" Teriaknya diakhir kalimat
"Tapi Lea capek.."lirih gadis itu. Dia mengulum senyum pahitnya. Duduk di sopa menahan kepalanya yang makin hari makin nyeri. Lalu melepas rambut palsu yang dia kenakan selama ini. Memperlihatkan kepala botaknya itu kepada mereka agar mereka memahami kenyataan yang ada. "Lea udah gak bakalan bisa sembuh."
Dia bukannya tidak ingin sembuh. Siapa yang tidak mau?
Tapi setiap kali dia berhadapan dengan jarum-jarum tajam, berulangkali menegak air putih demi menelan obatnya, berkali-kali, dia sangat mual ingin memuntahkan semua isi di perutnya.
"Lea cuman mau menghabiskan waktu-waktu yang Lea punya sama mama dan papa. Sama Alfi dan teman-teman Lea. Hanya itu yang Lea mau. Lea enggak mau sembuh lagi karena selama ini Lea udah cukup merasakan kasih sayang dari semua orang. Kanker ini udah gak bisa Lea tahan, ma. Sakit."
Wanita paruh baya itu langsung meraih Anlea. Dia menariknya dalam dekapan. Bersamaan Andes juga ikut memberikan pelukan untuk buah hati mereka.
"Bagaimana nanti setelah tiada kamu? Papa sangat takut.."
🍂🍂
Anlea
besok ada waktu?
Adisca meremas dadanya kuat. Sesak itu tak kunjung menghilang. Dia menghindarinya. Menghindari bertemu Anlea.
"Lea nanyain waktu kita besok?"
"Oh ya? Dia bilang apa?"
"Cuman nanya kita ada waktu apa enggak?"
"Ya ada dong!! Jawab gitu, jawab. Cepetan!"
"Sabar kenapa sih?! Resek banget. Heran."
Adisca membuang napas sambil mengirim balasan pesan Anlea di WhatsApp.
"Lo kenapa lagi? Belakangan ini gue liat lo lesu banget. Ada masalah?" Pretty menaruh cup cake rasa coklat diatas meja "Kalau enggak menghela, ya buang napas. Mikirin apa, Adisca...?"
Mereka berdua nongkrong disebuah cafe untuk menunggu hujan berhenti turun.
"Elo tau nggak, Ty? Semenjak Anlea balik kota ini selalu turun hujan. Enggak pernah berhenti. Selalu deras setiap harinya."Ungkapan Adisca membuat Pretty bergeming. Perempuan itu menyesap cappuccino pesanannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALFIANLEA {completed}
Fiksi RemajaTakdir gak ada yang tahu. Anlea bagi Alfi adalah segalanya. Pun, Alfi bagi Anlea adalah rumahnya. 🔋🔋🔋 :kalau mau baca versi au nya juga bisa cek langsung ke tiktok saya ya❗ 89% beda alur. start:kam, 8 february 2024.
