"Dia enggak bisa tergantikan oleh apapun dan siapapun."
-Alfi-
🌯🌯🌯
"Besok kuncir kuda ya?"
"Lo kira gue anak kecil?"
"Iya. Gue ngerasa lo lebih kecil dari Celsie."
"Tai lo!"
Kalau boleh jujur Alfi sudah setengah gila setelah kehilangan sosok dia semenjak tiga tahun terakhir ini.
Dunia kampusnya semakin terasa memberatkannya. Teman-temannya juga teman-teman si dia sudah menyerah dengan rasa kehilangan. Mereka kembali melanjutkan hidup tanpa sosok dia. Akan tetapi, Alfi tidak semudah itu untuk melakukan hal yang sama.
Dia masih ingat tiga tahun terakhir bagaimana menggilanya dia kehilangan dan menyaksikan kematian sosok yang paling banyak membawa perubahan besar dalam kehidupannya.
"Sebentar lagi gue wisuda."
"Mau jadi dosen."
Dia meletakkan setangkai melati diatas makam yang terukir dengan nama Anlea Dwihizca. Makam yang sudah dikeramik dengan warna hitam bercorak.
Rasanya masih seperti mimpi disiang bolong.
"Hp lo gue sita dulu selama gue sakit. pakai hp gue aja."
"Tukeran nih, ceritanya? Hmm?"
Alfi mengulum senyum.
"Sayang. anu, em... boleh gak?"
"Hah?"
Keduanya bertukar tatap sejenak. Alfi membersihkan air mata gadis itu kemudian mengangkat sedikit kepalanya memberi kecupan singkat di bibir Anlea.
"Lo punya gua."
Wajah Anlea tersipu. "Dasar cowok mesum! lagi sakit juga?"
"Lagi dong?"
"Gak!"
Alfi terkekeh mengenang kenangan itu. Setiap kali sosoknya selalu masuk kedalam ingatannya—hatinya menghangat juga tiba-tiba menghambar.
Suara serta wajahnya sekarang sudah samar di dalam ingatannya.
Kenapa rindu begitu menyiksa?
Alfi mendesah.
Sepoi angin meniup rambutnya yang sudah agak panjang menutupi mata. Dingin. Angin terasa kencang sekali membuat beberapa taburan bunga diatas makam itu berhamburan kesana kemari.
"Dia siapa kamu?"
Alfi menengadah kearah seseorang yang sedang membayanginya.
Dia tersentak mencium wangi yang familiar itu.
Berdiri. Mereka saling bertatapan.
Perempuan berambut panjang bergelombang. Putih, agak tinggi, ramping, dan juga cantik.
Perempuan itu telah lama menyukainya.
Bahkan sejak awal Alfi mengikuti ospek kampus perempuan itu sudah memperlihatkan ketertarikannya. Hanya saja pada saat itu Alfi tidak begitu memperhatikan sebab masih ada Anlea yang mengisi kesehariannya sehingga tak ada waktu untuk Alfi fokus pada objek lain selain objek favoritnya.
Alfi tidak menjawab pertanyaannya.
Saat kakinya melangkah melewatinya perempuan itu berjongkok memegangi nisan tersebut.
"Hai. Semesta kamu cuekin aku lagi."Adunya terkekeh. "Bantu doain dong, supaya dia mencintai aku sehebat cintanya ke kamu."
Alfi mendengarnya tetapi mendecak saja.
Dia mendongak menatap keatas dimana awan hitam mulai menutupi langit.
"Hujan udah mau turun baiknya lo pulang."
"Duluan aja. Aku masih mau disini curhat sama pemilik makam yang dapat setangkai melati dari kamu."
"Oh. Terserah."
Perempuan itu langsung berdiri dan berbalik menatap punggung kepergian Alfi. Setelah mengucapkan kalimat itu dia membuat Iana tersentuh.
Ini pertama kalinya Alfi mengajaknya berbicara.
Dia kembali berbalik menatap makam itu.
"Anlea—kamu pasti perempuan yang baik. Tolong minta tuhan kabulkan doa ku, ya!! Aku bakalan jaga dia buat kamu. Aku janji."
Kemudian langkahnya berbalik meninggalkan makam Anlea.
"Non Iana cepatan masuk mobil non!! Hujannya mau turun nanti tuan besar marah kalau non Iana ketahuan hujan-hujanan lagi datang kesini!!!"
Iana berlari kecil memasuki mobil bewarna hitam itu. Dua bodyguard dan satu orang pengasuhnya ikut masuk begitu majikannya telah berada didalam mobil.
"Tadi aku ketemu seseorang, bi."
"Oh ya? Siapa?"
"Emm belum menjadi siapa-siapa sih. Baru mau. Dia juga ke pemakaman buat ziarah."
"Ziarah ke makam orangtuanya non?"
"Bukan. Pacarnya, mungkin? Iana enggak tahu. Dari tahun lahir sama tahun kematiannya Iana hitung udah tiga tahunan orang itu pergi."
"Kasihan sekali?"
"Hmm. Sorot matanya menunjukkan bahwa perasaannya itu enggak pernah memudar. Iana jadi takut enggak bisa gantikan sosok itu dihati dia."
"Jangan berusaha untuk menggantikan non. Tapi cobalah untuk belajar mengisi kekosongan serta menjadikan diri non Iana sebagai tempat pulangnya. Manusia enggak akan pernah bisa menggantikan manusia lain yang udah enggak ada didalam kehidupan seseorang yang menspesialkan sosoknya semasa hidupnya, non. Itu mustahil."
Iana terbungkam.
end.
-
hallo hai!
cerita alfianlea selesai disini ya!! jangan meminta ekstra part atau bahkan hal mustahil lainnya lagi. cerita mereka usai disini.
kali ini benar-benar SELESAI.
tidak akan ada anlea-anlea berikutnya. jikapun ada mungkin dia adalah anlea yang berbeda.
terimakasih sebanyak-banyaknya kepada siapapun yang selalu menunggu ekstra part dari cerita ini. semoga kalian semua puas dengan kisah mereka yang penuh akan tragedi serta keromantisan ini. mimin enggak akan melanjutkannya lagi karena mau fokus ke cerita kenzolia.
apabila ada kesalahan dalam hal apapun baik disengaja ataupun tidak author ucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya.
cerita ini banyak kekurangan. ketypoan. ketidakjelasan. juga ke ke lainnya. mohon pengertian karena author amat mageran merevisi. huhuhu. dan oh ya, karena ini cerita pertama kemungkinan enggak bakal ada revisian. guna mengenang tulisan acakan yang banyak kecacatannya ini. xixixi.
kalau mager merevisi jangan jadi author! [mager enggak melarang siapapun untuk enggak boleh menjadi author.]
next, Q & A dikomentar!!!!!!!
jangan lupakan memberi vote.
Iana=[iana]
TTD
ketikanAl
KAMU SEDANG MEMBACA
ALFIANLEA {completed}
Teen FictionTakdir gak ada yang tahu. Anlea bagi Alfi adalah segalanya. Pun, Alfi bagi Anlea adalah rumahnya. 🔋🔋🔋 :kalau mau baca versi au nya juga bisa cek langsung ke tiktok saya ya❗ 89% beda alur. start:kam, 8 february 2024.
