Omar berlama-lama duduk di pinggir kasur dekat Khaira. Wanita itu tidur lelap usai minum obat yang diberikan Siska. Sesuai instruksi Nana, sore itu sepulang kerja, Khaira langsung ia bawa ke tempat Siska meskipun jam praktiknya belum buka —ia menelepon Siska. Tebakan Nana benar, Khaira tengah berbadan dua dan sudah masuk di minggu keenam.
Sakit yang akhir-akhir ini Khaira rasakan rupanya gejala awal kehamilan, wajar jika istrinya atau Omar tidak menyadari keberadaan janin tersebut. Ya, sebagai orang awam, yang Omar tahu dan kebanyakan yang terjadi adalah mual muntah tidak demam dan pusing seperti Khaira.
Siska juga menjelaskan perubahan-perubahan yang mungkin akan dialami oleh Khaira. Dari suasana hati yang gampang berubah, jadi lebih sensitif, atau bisa jadi gairah seksualnya meningkat, dan Omar diminta bersiap serta sabar jika hal itu terjadi. Kawannya itu juga memberi batasan aman berapa kali mereka bisa bercinta ketika tri semester pertama sampai kondisi kehamilan Khaira stabil dan kuat.
Ya Allah, mendengar semua ucapan Siska rasanya Omar tak percaya jika sebentar lagi ia akan menjadi ayah, padahal sebelumnya hal itu jauh dari angannya, jangankan jauh, terpikir saja tidak. Namun, kini terjadi dalam waktu dekat dan Omar benar-benar menantikan semua prosesnya sampai anaknya lahir nanti.
Dalam benak sudah terbayang bagaimana ia harus memanjakan anaknya, bersenang-senang, bersatu melawan Khaira, atau sekedar tidur bersama sambil berpelukan. Ya Allah, rasanya begitu luar biasa.
"Om."
Pria itu menoleh ke arah pintu. Kepala ibunya menyembul di celah pintu. "Nggeh, Buk."
Cindy menghampiri Omar, duduk di depan putranya. "Khai piye?" tanyanya. Ia ingin tahu hasil periksa Khaira sebab putranya tadi bilang mau membawa Khaira periksa, itu saja.
"Nggak apa-apa, Bu. Kata Siska, wajar saja. Sakitnya dia itu gejala kehamilan. Semuanya baik cuma ya aktivitas e diminta ngurangi nggak boleh terlalu capek."
Wajah Cindy langsung semringah mendengar penuturan Omar. Ya Allah, bahagia sekali ia akan mendapat cucu lagi. "Alhamdulillah. Wes berapa minggu, Le?" Apakah ini arti dari mimpinya beberapa waktu lalu? Ia kira akan menerima kabar bahagia tersebut dari Ammar ternyata malah Omar.
"Enam minggu." Omar kemudian menarik napas sebelum meraih tangan ibunya untuk ia genggam. "Buk ...." Omar ragu untuk minta izin perkara Khaira yang mungkin saja tidak bisa membantu penuh di tempat kerja ibunya. Namun, ia juga tidak tega melihat ibunya bekerja sendiri. "Buk, soal Khai ... itu ...."
"Le, ora usah bingung soal gaweane Ibuk. Khai kui bojomu bukan pembantu e Ibuk. Jadi nggak bantu di tempat Ibuk nggak apa-apa, ada Risma ada Irna." Cindy menyadari keraguan Omar, memahami rasa khawatirnya, terlebih hal tersebut momentum berharga dalam hidup Omar. "Wes ra sah khawatir soal Ibuk. Fokus ae mbek Khai."
"Matur nuwun, Buk. Maaf belum bisa banyak bantu Ibuk."
"Ora opo-opo. Wes Ibu tak nok pawon. Bapakmu tadi minta digawekno penyet tempe. Kamu mau juga ndak? Sekalian Ibuk bikin e."
"Purun, Buk."
####
Wanita hamil itu terus-menerus menghela napas panjang—sejak ia bangun berapa waktu lalu—tak percaya kalau dirinya hamil. Ya Tuhan. Bukan Khaira tidak suka dengan kehadiran janin ini tapi mengapa harus sekarang? Ia belum siap kalau harus jujur pada Adiba dan Tya, belum menemukan titik terang hubungan antara Omar dan Risma. Belum tahu pasti bagaimana perasaan Omar padanya. Ya jika dilihat dari tindakannya, pria itu seperti mencintainya tapi bukankah pria bisa berbuat baik tanpa melibatkan perasaan. Hal itulah yang Khaira takutkan. Takut Omar mempermainkan dirinya saja, menganggapnya sebagai tempat melepas hasratnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stole Your Heart
RomanceRasyidin bersaudara#2 Meskipun belum sepenuhnya berhasil move on dari Ilmira, Omar tak berharap cinta menyapanya kembali dalam waktu dekat. Rasa-rasanya ia butuh waktu untuk menyelami hatinya. Namun, gelap hatinya mulai memudar ketika seorang wanita...
