35

1.8K 314 53
                                        

Holaaa! Cus cus.

❤️❤️

Wanita berbadan dua itu terbangun dari tidurnya karena ingin buang air kecil. Kantung kemihnya mudah penuh dan membuatnya sering bolak-balik kamar mandi. Dengan sangat pelan Khaira memindahkan tangan Omar dari perutnya. Setelah berhasil lolos dari suaminya, Khaira segera ke kamar mandi dan tak lama keluar.

Ia ingin kembali tidur tapi urung dan memilih pergi ke dapur. Perutnya keroncongan padahal sebelum tidur ia sudah makan martabak telur yang dibawa Omar saat pulang dari rumah temannya. Khaira menjerang sedikit air untuk membuat teh, membuka lemari es mencari sesuatu yang bisa ia masak dengan cepat.

Khaira membuat roti lapis telur dadar. Itu yang paling cepat agar perutnya berhenti mengirim sinyal kelaparan pada otaknya.

Wanita itu menatap puas makanan yang ia buat. Senyumnya mengembang sebelum menghirup aroma teh dalam-dalam, membuatnya tenang. Namun, ketenangan itu hanyalah fatamorgana, nyatanya pikiran serta hatinya terus gelisah, terus teringat interaksi Omar dan Risma di sebelah dua hari lalu, dan lelah menyangkal bahwa ia cemburu, cemburu yang harusnya tidak pernah ada mengingat   Khaira tidak punya perasaan khusus pada Omar.

Ya terus saja mengelak.

Ejekan itu selalu bergaung dalam benak Khaira. Wanita itu tidak pernah mau mengakui bahwa ia memiliki perasaan lebih untuk Omar. Tapi sekarang ini dirinya harus menyerah dan mengakui hal itu. Khaira mulai menyukai pria itu, mungkin lebih dari suka tapi belum pada tahap cinta.

Ah kenapa Khaira tidak tanya kakak iparnya saja? Bukankah Ilmira dan Omar berteman, siapa tahu iparnya itu mengetahui hubungan keduanya. Ya Allah. Kalau saja Omar mau bercerita soal hubungannya dengan Risma atau mengatakan jelas perasaannya pada Khaira, mungkin dirinya tidak akan gelisah seperti ini, tidak akan membuatnya susah tidur, sakit kepala, dan tadi pagi ia mendapati flek di celana dalamnya.

Meskipun dari yang ia baca di Google hal itu wajar saja tetap saja ia takut jika flek itu akan berubah lebih serius. Oleh karenanya itu ia coba menenangkan pikirannya, mengalihkannya pada hal lain tapi tetap saja kepikiran.

Khaira mulai menggigit roti lapis yang ia buat, mengunyahnya lambat tanpa semangat. Bahkan rasa nikmatnya pudar sebab seleranya telah hilang, ya seperti sekedar memberi makan pada bayi dalam perutnya saja. Khaira menaruh sisa roti yang tak lagi ia inginkan, beralih mengambil teh hangat dan menghabiskan hampir separuhnya.

"Kenapa nggak bilang kalau lapar." Omar mencium puncak kepala Khaira sebelum ke kompor merebus air untuk kopi.

Khaira menggeleng. "Mau bikin kopi? Sini saya buatin." Meskipun Khaira tengah cemburu dan marah, tapi tetap memperlakukan Omar sebagaimana mestinya. Wanita itu mengambil gelas, meracik kopi sebelum menuang air yang sudah mendidih. Setelahnya ia letakkan di meja dekat teh dan roti buatannya.

Omar segera menarik Khaira dalam pelukannya saat tahu akan ditinggal sendiri. Dua tangannya melingkar erat di punggung istrinya hingga tubuh mereka menempel lekat. Ia menunduk untuk melihat paras Khaira. "Mau ke mana?"

Wanita itu memilih menatap dada Omar daripada membalas pandangan  suaminya. Hatinya masih panas dan ia pun sedang tidak ingin bermulut manis pada Omar. "Saya capek, mau tidur."

"Dua hari ini kamu kayak lagi menghindariku. Kenapa? Aku ada bikin sesuatu sama kamu?" tanya Omar dan ibu hamil itu menggeleng. "Yakin?" Bibir Omar membentuk seringai kecil merasakan anggukan Khaira.

Khaira. Khaira. Wanita itu pikir Omar tidak menyadari perubahannya padahal sangat jelas. "Yakin?" tanya Omar ulang.

"Iya. Saya cuma capek, Mas." Khaira coba memberi jarak di antara mereka tapi Omar seperti tembok cina yang kokoh dan kuat jadi tidak ada pengaruhnya sama sekali.

Stole Your Heart Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang