Holaaa!
❤️❤️❤️
"Khai. Kamu tidur ta?" Cindy mengintip sedikit ke kamar tidur Omar yang memang tidak ditutup rapat.
Khaira menengok ke belakang dari tidurnya—hari liburnya. "Mboten, Buk." Ia segera duduk. Perutnya sedikit tidak nyaman makanya ia izin tidak membantu di sebelah. Cindy sudah melarangnya tapi Khaira sungkan sendiri. "Wonten nopo (ada apa), Bu?"
Ibu Omar Buraq itu duduk di pinggir kasur sisi Khaira. Memperhatikan seksama raut mantunya itu, sedikit pucat dan lemas. "Sakit to?" Cindy mengulurkan tangan menyentuh dahi Khaira. "Anget lho. Sudah minum obat urung?"
"Dereng. Ndak berani minum obat sembarangan takutnya kenapa-napa."
Cindy mengangguk kemudian mengambil ponselnya dari saku daster batik yang ia pakai. Ia men-dial nomor telepon Ilmira.
"Assalamualaikum, Nduk. Mir, pas hamil dulu terus demam minum apa?"
"Paracetamol. Sinten (siapa )yang sakit, Bu?"
"Kui Khai. Dekne anget awak e ora wani ngombe obat polae mbobot (dia demam, nggak berani minum obat karena hamil)"
"Khai hamil? Alhamdulillah. Nggeh, Bu, Paracetamol. Mangke (nanti) kalau masih anget dibawa ke dokternya."
"Ya wes lek gitu. Al mana?"
"Niku (itu) sama Mas Ammar. Mangke insyaallah ten (ke) Ibuk."
"Ya wes tak tunggu. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam."
"Kata Mira minum Paracetamol saja cukup. Nanti kalau masih anget bawa ke dokter. Tunggu ya Ibuk ambilno. Kamu ndek sini ae." Cindy beranjak lalu melihat Khaira lagi. "Biasanya minum obat pake air apa pisang? Biar Ibuk ambilkan sekalian."
"Mboten, Bu, biar saya ambil sendiri. Obatnya di mana?"
"Ndek laci bufet TV tapi tak ambilno wae. Ayo ke dapur."
Khaira mengikuti Cindy keluar. Saat mertuanya mengambil obat, ia ke dapur membuat air gula lalu mengambil dua sendok makan untuk menghaluskan obat tersebut.
"Ini." Cindy memberikan satu tablet Paracetamol pada Khaira. Setelahnya ia duduk menemani mantunya. "Digerus (dihancurkan seperti puyer) to?"
"Nggeh, Buk. Saya ndak bisa kalau minumnya utuh. Pernah coba malah muntah."
"Ibu ya gitu kok. Kudu gawe panganan (harus pake makanan) sama kayak Mira."
Selesai minum obat Khaira tidak langsung masuk kamar, ia menemani Cindy ngobrol sampai Risma masuk membawa buku laporan keuangan. Khaira mengangguk memberi salam saat mata mereka bertatapan tapi seperti biasa Risma seperti tidak melihat.
"Piye adikmu Ris? Sidone (jadinya )sekolah ndek mana?" tanya Cindy sebelum ia berdiri untuk mengambil buah di kulkas.
"Di SMK 3 Buk ambil perhotelan dia."
"Lho ya bagus. Nanti lulus bisa langsung kerja. Ibuk gimana kabare?" Cindy kembali duduk sambil membawa sekotak buah naga yang sudah dipotong dadu. "Oalah kok lali. Tolong, Ris, ambilno garpu plastik sing kecil tiga ndek rak atas."
"Alhamdulillah baik. Ibuk nitip terima kasih banyak sudah dikirimi kue kemarin." Risma langsung berdiri, membuka pintu rak atas meja dapur, menggapai kotak mika isi garpu plastik, mengambil barang itu sesuai perintah Cindy lalu kembali duduk. Semua itu tak luput dari pengamatan Khaira hingga membuatnya semakin minder.
Jelas sekali Risma lebih mengenal seluk beluk rumah ini. Sebenarnya hal itu wajar karena perempuan tersebut sudah lama bekerja di sini tapi ... entahlah Khaira jadi suka mellow tidak jelas sejak dirinya hamil padahal sebelum-sebelumnya tidak pernah terusik oleh hal kecil begini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stole Your Heart
RomansaRasyidin bersaudara#2 Meskipun belum sepenuhnya berhasil move on dari Ilmira, Omar tak berharap cinta menyapanya kembali dalam waktu dekat. Rasa-rasanya ia butuh waktu untuk menyelami hatinya. Namun, gelap hatinya mulai memudar ketika seorang wanita...
