43

1.5K 313 73
                                        

Omar bilang: Aku muncul 😎. Ada yang kangen?

####

"Kamu cinta nggak sama aku, Khai?" tanya Omar tiba-tiba saat mereka berada di ruangan Omar ketika istirahat siang.

Pertanyaan tiba-tiba Omar membuat Khaira tersedak bubur kacang hijau yang ia kunyah. Matanya sampai melotot, tenggorokan sakit, dan hidung pengar. Khaira menerima air minum yang disodorkan Omar, diminumnya sampai hampir habis.

"Makan itu pelan-pelan. Aku nggak bakal minta kok."

Refleks Khaira memukul Omar ketika dirinya sudah baik-baik saja. "Memang ndak minta tapi yang bikin kaget pertanyaannya Mas itu lho."

Pria itu terkekeh geli mendapat lirikan sengit dari istrinya. Jarang sekali Omar melihat reaksi Khaira yang seperti ini. "Jadi gimana?" Pria itu bersandar di sofa, duduk ala Vincent sambil menatap lekat Khaira sampai istrinya tersebut tertunduk.

Khaira tak berani membalas tatapan Omar. Sorot matanya menusuk seperti terik matahari di siang hari. Tak hanya itu, pandangan begitu lekat hingga membuatnya salah tingkah. Ditambah jawaban yang harus ia berikan pada Omar, semakin membuat tak berani mengangkat kepalanya.

"Khai."

"Saya balik dulu, Mas, kasihan Tya kalau sendirian." Khaira buru-buru beranjak dari kursi, keluar ruangan tidak menunggu diantar Omar. Saat di luar ruangan, Khaira memegang dadanya yang terus-menerus menggila. Gedorannya kuat dan seperti akan meledak. Ya Allah, apakah jantungnya akan aman kalau Omar akan selalu menatapnya seperti tadi? Lagipula kenapa pria tersebut tiba-tiba bertanya seperti itu? Bukankah selama Omar tidak pernah ingin tahu perasaannya, lalu kenapa sekarang perlu penegasan? Apa yang membuatnya begitu?

Di ruangannya, Omar tengah mengeluarkan semua kata kotor dan kasar yang ia tahu. Emosinya naik ke ubun-ubun dalam hitungan detik gara-gara Khaira menolak menjawab pertanyaannya. Apa itu artinya Khaira masih menyimpan rasa untuk Haikal? Tidak. Omar yakin bahwa istrinya itu sudah melupakan Haikal tapi ... akh!

Omar mencengkeram kuat rambutnya. Pria itu frustrasi memikirkan bagaimana perasaan Khaira padanya. Ya Tuhan, mereka-reka hal abu-abu ternyata menyiksa. Astaga. Ke mana rasa percaya dirinya yang begitu tinggi tersebut? Bisa-bisanya ia merasa rendah diri di hadapan Haikal yang begitu mencintai istrinya.

###

"Makanya kalau cinta itu bilang. Ditunjukin, ojok diem-diem bae koyok patung singo. Saiki dibales bingung," komentar Radi saat Omar bercerita. "Sudah nggak jelas eh sama Risma malah lihat-lihatan. Khaira kabur rasakno!" Radi menyulut rokok setelah minum kopinya.

"Aku nggak ada hubungan apa-apa lho sama Risma," bantah Omar. Ia tidak terima dituduh berselingkuh di belakang Khaira.

"Biar nggak ada hubungan harusnya kamu bisa jaga jarak, Om." Kali ini Harun menimpali.

Yang dikatakan Harun memang benar tapi Omar tidak sepenuhnya salah. Ia hanya refleks saja mengingat mereka memang sempat dekat. "Nggak sengaja. Aku juga nggak ada niatan gitu. Refleks saja pas ngeliat dia. Besoknya langsung aku jelasin tapi kayak nggak masuk. Khai diem saja. Ya tak pikir baik-baik saja sampai kemarin dia sakit dan aku dikasih tahu Mira."

"Ya makanya mulai sekarang tunjukkan. Nggak usah sok cool, sedikit gila buat nyenengin istri lebih baik daripada terlihat keren." Harun pikir nasihatnya itu pun harus berlaku juga untuknya.

Istri pilihan uminya tengah salah paham padanya. Wanita itu berpikir bahwa dirinya pengganti kekasih Harun yang meninggal, padahal itu tidak benar. Ya mungkin awalnya karena kemiripan wajahnya tapi semakin lama Harun sadar bahwa Humaira berbeda dengan Fatimah.

"Rumit memang kalau sudah salah paham," celetuk Radi. Ia sendiri juga tengah bingung menolak kemauan papanya untuk menjodohkan dengan anak teman bisnisnya. Astaga! Siapa sebenarnya yang punya ide soal perjodohan itu? Sungguh menyiksa!

Omar setuju dengan ucapan Radi. Kadang ia tak bisa menebak pola pikir Khaira. Niatnya A tapi penerimaannya B. "Apalagi kalau hamil gini. Dah sensitif banget mereka. Apa saja salah di mata mereka."

"Wanita hamil dan hormonnya memang bikin ngeri," ujar ketiga bersamaan.

###

Hari ini Khaira resmi berhenti dari pekerjaannya. Usai salat subuh ia langsung ke dapur membantu Mbok Yem menyiapkan sarapan. Sejujurnya Khaira ingin membantu di sebelah tapi ia urungkan, mungkin nanti saat dirinya siap berhadapan dengan Risma.

"Mbok, mau bikin apa?" Khaira berdiri di samping Mbok Yem yang tengah membersih kangkung.

"Bikin pecel, telur dadar, empal goreng, bakwan jagung." Mbok Yem meletakkan pisaunya kemudian beralih menggoreng bakwan jagung yang tinggal cetak.

Khaira melanjutkan memotong kangkung sampai selesai barulah ia cuci bersih. "Mbok, kita punya kecambah kecil ndak? Punya kelapa parut juga? Saya kok pengin makan urap-urap."

"Aduh. Coba minta sebelah, Mbak. Tadi Mbok kok ndak belanja ke Pak sayur."

Wanita itu menghela napas. Mau tidak mau harus ke sana karena ia sangat ingin makan urap-urap. "Ya wes saya minta ke sana." Khaira pergi setelah membantu Mbok Yem menggoreng semua lauknya. Tiba di depan pintu rumah sebelah, Khaira tampak ragu untuk masuk.

"Mbak, ngapain di situ?" tanya salah satu karyawan Cindy yang kebetulan ke belakang mengambil buah.

Khaira masuk dengan langkah pelan. "Bu, punya sisa cambah kecil sama kelapa parut?"

"Ada, Mbak. Itu di kulkas. Ambil saja sendiri."

Istri Omar pun membuka lemari es, mengambil bahan secukupnya. Khaira juga mengambil kacang panjang muda untuk campuran nantinya. Setelah menutup pintu kulkas dan berniat pulang, ia berpapasan dengan Risma. Sontak Khaira menunduk memberi hormat. "Mbak." Ia memberi jeda antara mereka. Risma diam dengan menatap Khaira, wanita itu terlihat terkejut bertemu dengannya. "Saya permisi." Khaira tidak ingin berlama-lama dalam keadaan canggung.

"Mbak."

Khaira berhenti. Ia berbalik menghadap Risma. "Iya, Mbak?"

"Saya ...."

Panggilan keras Omar memotong ucapan Risma. Dua wanita itu menunggu kedatangan Omar.

"Ngapain di sini?" Pria itu mendekat, melingkarkan tangannya di pinggang.

Khaira berusaha mengurai pelukan Omar di pinggang—sungkan terhadap Risma. "Minta cambah buat urap. Ini mau balik." Ia menjauh setelah berhasil lepas dari Omar. "Mbak, saya permisi dulu ya." Khaira bergegas meninggalkan dua orang tersebut. Ia tidak peduli dengan mereka sebab yang Khaira pegang kata-kata Omar, bahwa suaminya dan Risma tidak ada hubungan apa-apa.

Sampai di dapur, Khaira langsung meracik bumbu untuk urap-urap, mengukus kelapa yang sudah dibumbui. Khaira lalu mencuci kecambah rawon dan kacang panjang sebelum dirajang.

"Bikin apa?" Omar menyandar bokong di meja dapur dekat Khaira, melipat tangan di dada memperlihatkan istrinya.

"Bikin urap-urap sama trancaman. Saya pengin banget."

"Kenapa ndak bilang tadi? Kan bisa beli di depan sana."

Wanita itu menggeleng. "Pengin bikin sendiri. Mas mau?" tawar Khaira.

"Nggak." Omar membantu membawa urap-urap dan trancaman bikinan Khaira. "Nanti aku mau ke Pandan Rejo." Ia mengambil piring lalu mengisinya, mengambil urap-urap dan trancaman.

Mata Khaira seketika berbinar mendengar informasi Omar. Ia merapat pada suaminya itu. "Saya boleh ikut?" Khaira berharap Omar membolehkannya karena ia ingin bertemu bapaknya.

"Bawa ganti." Omar menyuapi Khaira.

"Lama ndak di sana?"

"Nggak tahu. Lihat nanti." Nasi yang Omar ambil habis tidak tersisa. Khaira makan dengan lahapnya. "Vitaminmu?"

"Di kamar. Saya ambil dulu."

Omar mengangguk. "Nggak usah lari. Hati-hati." Senyum Omar lebar melihat antusias Khaira. Wanita itu mungkin tidak sabar ingin bertemu bapaknya.

Tbc.

Karena mo habis, yg di sini bakalan aku unpub ya, full di Karyakarsa. Link ada di bio ku 😘

Stole Your Heart Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang