42

1.9K 325 66
                                        


Halooo! Makasih yang masih setia di sini hehehe

❤️❤️❤️

08195303xxxx:
Khai. Bisa kita ketemu?
Sidang perceraianku tinggal ketuk palu tapi hak asuh jatuh di tangan Tantri. Ya aku pikir anakku memang perlu ibunya.
Kamu tahu, Khai, rasanya lega semua ini bakal berakhir dan aku nggak sabar kita balikan lagi.

Omar tak suka membaca isi pesan dari Haikal—ia membaca seluruh chat yang lupa Khaira hapus. Awalnya ia hanya penasaran, kenapa ada nomor tidak dikenal mengirim banyak pesan pada nomor Khaira—wanita itu tidur setelah ia pijat kakinya—ternyata mantan pacar yang ingin kembali. Apa dikira semudah itu mengambil Khaira darinya? Jangan harap. Haikal perlu mangkahi dulu mayatnya.

Tapi ... Omar pikir Haikal sangat mencintai Khaira, terlihat jelas dari pesan-pesan yang pria itu kirimkan. Bagaimana kukuhnya pria itu mengejar Khaira sekarang ini. Dan mungkin saja Khaira pun begitu, balasan istrinya pada Haikal pun begitu sabar—seumpama bicara langsung. Sayangnya jodoh tidak berpihak pada mereka—orang tua Haikal yang memisahkan.

Lalu beberapa pertanyaan pun terbesit dalam otaknya. Bagaimana perasaan Khaira pada Omar? Bukankah selama ini wanita itu tidak pernah berkata apa pun soal perasaannya? Apakah Khaira masih menyimpan rasa cinta un mmtuk Haikal? Mungkinkah dia menikah dengannya karena menuruti keinginan keluarganya?

Ya Tuhan! Memikirkan semua kemungkinan yang bisa saja terjadi membuat kepercayaan diri Omar menyusut sangat cepat. Selama ini ia begitu sombong karena direbutkan lebih dari satu wanita, merasa di atas awan karena Khaira tidak ada pilihan lain selain dirinya, ternyata Omar salah. Dia tidak memperhitungkan pria lain yang begitu memuja Khaira. Pria yang tidak segan menunjukkan rasa cintanya dan tidak menutup kemungkinan jika Haikal berhasil merebut hati istrinya, wanita itu akan memilih berpisah darinya.

Tidak! Omar tidak mau itu terjadi. Sampai kapan pun Khaira hanya miliknya. Apa pun akan Omar lakukan untuk mempertahankan Khaira di sisinya. Pria itu akhirnya menulis balasan untuk Haikal.

Khaira:
Kapan Mas?

08195303xxxx:
Besok bisa? Ada kedai di Bandulan. Jamnya setelah kamu pulang kerja saja. Besok masuk pagi kan? Nanti aku kirim alamat lengkapnya.
Ya Tuhan akhirnya kamu mau nemuin aku, Khai. Aku kangen banget sama kamu. Makasih banyak.

Khaira:
Bisa mas

08195303xxxx:
Aku sayang banget sama kamu, Khai. Sayang banget.

"Tapi aku lebih sayang Khai daripada kamu," gerutu Omar sebelum menaruh ponsel Khaira ke tas selempang yang biasa ia pakai setelah sebelumnya ia nonaktifkan dering ponsel, baik untuk telepon masuk ataupun pesan masuk.

Esok paginya, raut wajah Omar tidak bersahabat. Selain karena sore nanti harus berhadapan dengan Haikal, Khaira belum juga mengajukan surat pengunduran diri pada atasannya. Apa istrinya itu tidak tahu kalau Omar khawatir dengan kandungannya? Tapi wanita itu beralasan sebentar lagi puasa dan lebaran, pesanan di toko lebih ramai daripada biasanya.

Jadi kalau berhenti sebelum lebaran, Khaira tidak akan mendapat tunjangan hari raya dan hanya memperoleh gaji saja. Ya Tuhan! Omar rasanya ingin terjun ke jurang! Apa Khaira lupa tanpa THR dari tempatnya bekerja, Omar bisa memberinya lebih bahkan berkali-kali lipat dari THR yang Khaira dapat? "Aku ganti THR mu! Berapa? Lima juta? Sepuluh juta? Atau dua puluh juta? Aku yang ganti. Tapi sekarang juga kamu bikin surat pengunduran diri."

Wanita hamil muda itu menggeleng lesu. "Bukan itu masalahnya, Mas." Kalau Khaira berhenti, bagaimana ia harus mencicil rumah yang bapak dan adiknya tempati?

Ya Tuhan! Khaira benar-benar ingin menguji kesabaran Omar yang sepertinya akan meleleh kalau Khaira tidak segera mengatakan alasan keberatannya. Dengan mengembuskan napas kasar dan keras, Omar menggeret kursi di meja rias ke depan Khaira—duduk di pinggir kasur. "Apa masalahnya?" Ia bertanya dengan menggeram. Amarahnya akan segera meledak kalau sedetik lagi Khaira mempersulit semuanya.

Stole Your Heart Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang