Selamat membaca.
"Cie ... yang sudah berani go public," goda Adiba waktu Khaira masuk toko diantar Omar. Pria itu juga sempat menyematkan kecupan ringan di kepala Khaira. "Aduh! Jangan pamer di depan jomblowers dong. Ntar kalau pengin kan repot."
Omar hanya tersenyum kecil. "Nitip Khai ya."
Perempuan di samping Khaira itu memberi tanda Ok pada Omar. "Rebes lah. Tapi nggak gratis ya Pak. Kudu ada bayarannya ini."
"Gampang," sahut Omar meninggalkan Khaira bersama Adiba. "Jangan lupa obatmu diminum."
Sepeninggalan Omar, Khaira menghadap Adiba yang berada di sampingnya. Walaupun tidak ada masalah tapi tetap saja Khaira belum tenang sampai ia mendapat maaf dari Adiba. "Diba ... maaf, aku ... sumpah aku nggak ada niat kayak gini. Dari awal pas tahu aku udah nolak tapi ...."
"Mbak," sela Adiba cepat. "Nggak ada yang salah di sini karena memang aku sama Pak Omar nggak ada hubungan. Mungkin saja perasaanku bukan perasaan suka tapi kagum. Mbak Khai nggak perlu repot-repot jelasin." Sedetik lalu Adiba biasa saja, berusaha ikhlas, berlapang dada menerima kenyataan yang memang tidak ada hubungannya sama sekali dengannya. Adiba juga tidak mendapati perasaaan yang berkecamuk sampai akhirnya Khaira memulai obrolan yang harusnya tidak perlu dan membuatnya tersulut emosi.
"Tapi, Diba ...."
"Nggak ada tapi, Mbak. Sudahlah! Toh sudah lewat juga. Percuma juga kan dibahas sekarang ini? Nggak bakal ada yang berubah, kecuali dari awal Mbak bilang sama aku, mungkin beda cerita."
Adiba kemudian berlalu ke rak paling pojok di mana tempat inner manset berada. Menghela napas dalam-dalam serta menetralkan emosinya. Ya Allah. Adiba pun memikirkan ulang ucapannya barusan. Apakah terlalu keras untuk Khaira? Namun, tak bisa Adiba pungkiri juga kalau saat ini dirinya sedang tidak ingin beramah tamah pada Khaira. Ia butuh waktu. Perempuan muda itu pun merasa bersalah karena tanpa sadar membentak Khaira.
Khaira menatap Adiba dengan perasaan bersalah. Tidak seharusnya ia mengungkit hal yang pasti membuat Adiba sedih — ada hubungan ataupun tidak. Harusnya Khaira tahu bahwa apa pun ucapan temannya itu hanyalah penghiburan diri sendiri agar tegar berhadapan dengan Khaira.
Dengan langkah gontai Khaira ke ruang khusus karyawan. Mengamati setiap sudutnya yang sebentar lagi tidak akan ia lihat lagi. Semalam usai Adiba dan Tya pulang, Omar lagi-lagi mendesaknya untuk berhenti sesuai kesepakatan mereka. Khaira pun tidak ada alasan untuk menolak kemauan Omar toh memang untuk kebaikannya juga—setelah Riska mewanti-wanti untuk lebih banyak istirahat.
"Lho? Kirain masih izin." Tya masuk ruang karyawan untuk menaruh tas di loker. "Sudah enakan?" Tya mengambil name tag dan ponsel sebelum dimasukkan ke loker.
"Lumayan." Khaira duduk di kursi dengan lesu.
Tya mengerutkan kening melihat riak wajah Khaira. Ia pun mendekati temannya itu. "Tapi kok lesu gitu." Tya ikut duduk di seberang Khaira.
Wanita hamil itu menghela napasnya lalu tersenyum. "Iya. Masih lemes."
"Harusnya kamu izin saja, Khai. Belum sembuh benar gitu mbok jangan maksa masuk."
"Iya." Padahal salahnya yang membuat Adiba marah. "Tya ... aku ...." Apa harus cerita sama Tua soal tadi? Khaira tidak mencari pembelaan untuknya tapi untuk mencari solusinya agar Adiba tidak marah lagi padanya. "Adiba kayaknya marah sama aku. Aku sudah bikin sedih dia. Maksudku ... harusnya tadi aku nggak coba jelasin kenapa aku nikah diam-diam sama Pak Omar. Eum maksudnya biar dia nggak salah paham sama aku. Biar hatiku juga tenang tapi ... aku malah bikin dia sedih dan marah."
"Aku paham reaksi dia. Aku nggak marah waktu dia sedikit bentak aku tapi aku justru merasa bersalah banget sama dia. Ngeliat dia sedih gitu aku ya ikutan sedih," ungkap Khaira yang sudah tidak tahan lagi memendam kegelisahan hatinya. "Dari awal aku sudah nolak lamaran Pak Omar. Sebelum Pak Omar melamar, dia memang sempat menolongku waktu Mas Haikal yang berniat nggak baik. Trus dia mulai datang ke rumah, yakinin Bayu, bulek, dan pamanku buat terima lamaran dia. Aku pun nggak ada alasan kuat buat nolak.
"Jujur saja aku tertolong dengan adanya Pak Omar. Aku aman dari gangguan Mas Haikal, aku nggak mau keluargaku sedih kalau sampai ada apa-apa sama diriku. Tapi di sisi lain, aku seperti menusuk Adiba dari belakang." Khaira menunduk, menarik udara untuk paru-parunya serta menjeda kalimatnya. "Demi Allah aku nggak mau Diba sedih gini, itu kenapa aku nggak bilang sama kalian tapi ...."
Tya paham dengan pembelaan Khaira. Mungkin kalau dirinya di posisi temannya ini, Tya pun akan melakukan hal yang sama. Bukan bermaksud egois tapi Khaira pun butuh perlindungan agar dirinya aman. Dan tidak ada salahnya ibu hamil itu menerima uluran tangan Omar sebab pria itu bebas. "Diba marah sama kamu?" tanya Tya dan Khaira mengangguk. "Yang bikin kamu lesu juga perkara ini?" Lagi Khaira mengangguk. Rautnya muram, membuat Tya iba.
"Khai. Kalau saranku biarin saja dulu Adiba. Dia butuh waktu buat terima ini. Kamu nggak usah terlalu banyak mikir. Ini bukan salahmu, bukan salah Diba, ataupun Pak Omar tapi memang nggak seharusnya kamu bahas sih. Semua sudah diatur Allah, jadi mau kayak mana pun kalau Allah penginnya kamu sama Pak Omar atau Adiba sama Pak Omar pasti bakalan jadi. Mau sama-sama di ujung dunia pun ya bakalan ketemu. Mau sembunyi di mana juga bakal nikah. Jadi nggak perlu kamu pikirin sampai pusing apalagi bikin kamu drop, biar sejalannya saja."
"Gitu?" ujar Khaira tak yakin membiarkan masalah ini berlalu begitu saja tanpa ia harus berbuat apa pun.
Teman kerja Khaira itu mengangguk. "Memang kalau nggak gitu, kamu mau gimana? Mau ngelakuin apa biar semuanya baik?"
Wanita di depan Tya itu menggeleng. Ia bingung harus melakukan apa. Tidak ada ide sama sekali di otaknya.
"Nah kan! Sudah biarin saja. Toh sudah terlanjur juga. Nanti kalau dia sudah tenang, pasti baik lagi. Diba cuma butuh waktu." Tya kemudian berdiri, merapikan seragam, dan memasang name tag. "Ayo ke depan. Nanti kamu biasa saja sama dia. Kalau dia cuek, sabar. Dia masih menata hati ya biarpun dia nggak seharusnya kayak gitu, soalnya kamu nggak ngerusak hubungan dia sama Pak Omar."
"Iya."
Kedua wanita itu keluar ruangan. Senyum Khaira tersungging walaupun tipis. Ia harus sabar menunggu Adiba mau bicara lagi padanya.
"Bu." Ardi mengangguk saat melihat Khaira keluar dari ruang karyawan. Ia menyerahkan kantung kresek pada istri majikannya itu. "Pesan Bapak harus habis."
Khaira membuka kantung tersebut tpi ia tidak tahu isinya. "Ini apa? Bapak ke mana?" tanya Khaira.
"Bapak ke toko Pandan Rejo sekalian nengok Bapak Karmin. Kata Bapak tadi sudah kirim pesan dan telepon tapi Ibu tidak angkat." Usai menjawab pertanyaan Khaira, pria itu pamit untuk kembali ke sebelah.
Wanita itu pun membuka kantung tersebut. Ternyata tiga bungkus pentol kabul—memang sering ia beli saat pulang—dan cokelat klasik. "Tya, ini." Khaira memberikan satu bungkus pentol kabul dan satu gelas cokelat klasik pada Tya. Saat pada Adiba, ia meringis karena temannya itu masih diam saja.
Tbc.
Holaaa! Lama kagak up, hahahha. Seperti biasa lagi beneran sibuk di rumah, tpi tetep diusahakan update biarpun sellow ya. Moga masih tetep nungguin heheheh.
Yang mau cerita lengkapnya, bisa ke Karyakarsa. Bisa lewat link di-bio. Makasihhh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stole Your Heart
RomanceRasyidin bersaudara#2 Meskipun belum sepenuhnya berhasil move on dari Ilmira, Omar tak berharap cinta menyapanya kembali dalam waktu dekat. Rasa-rasanya ia butuh waktu untuk menyelami hatinya. Namun, gelap hatinya mulai memudar ketika seorang wanita...
