Happy reading ❤️
###
Omar membuka mata karena terganggu notifikasi pesan di ponsel Khaira—hafal bunyinya. Ia berusaha menjangkau handphone Khaira untuk melihat siapa yang mengirimi pesan pagi buta—subuh saja belum. Pria itu bergerak sesedikit mungkin agar tidak membangunkan istrinya yang tengah memeluknya.
Sekarang ini Khaira suka sekali tidur dengan wajah berada di ketiaknya, katanya baunya enak. Ya Allah! Apa enaknya mencium bau keringatnya? Ia saja ingin segera mandi kalau tidak sempat mandi di toko. Apa mungkin karena kehamilannya membuat perangai Khaira berubah? Mungkin saja.
Omar menyipitkan matanya agar terbaca teks pesan itu. Haikal. Rupanya pria itu tidak menggubris peringatannya. Apa pertemuan mereka waktu itu tidak membuat Haikal takut kalau nantinya akan Omar laporkan pada pihak berwajib?
08195303xxxx:
Aku kangen kamu.
Haikal sepertinya minta dihajar.
08195303xxxx:
Ayo bertemu. Kali ini benar-benar kamu bukan suamimu.
Kalau di pikir, cinta yang dipunya Haikal untuk istrinya cukup besar, dan bisa saja jika sebenarnya Khaira pun masih menyimpan cinta untuk Haikal sebab perpisahan mereka bukan karena masalah tapi terhalang restu ibu Haikal.
08195303xxxx:
Atau aku yang menemuimu. Kamu di mana? Rumah suamimu atau rumah Bapak?
"Bangsat!" ucap Omar spontan. Ia menggeram seperti harimau siap menerkam mangsa. "Benar-benar minta dihajar sampai mampus." Omar bergerak cepat akan duduk tapi gerakan di sisinya membuat pria itu berhenti. Ah ia lupa kalau Khaira bersamanya.
Dahi Khaira berkerut, tidurnya terusik saat kehangatan yang ia rasakan menjauh. Ia menggumamkan sesuatu hingga Khaira merasa kehangatan itu lagi.
Seketika amarah yang Omar rasakan reda dengan sendirinya. Mengapa ia harus marah dan terusik oleh Haikal jika Khaira dalam genggamannya? Ia tidak akan mempermudah istrinya lepas darinya jika nanti apa yang ia takutkan terjadi. Tidak ada yang boleh memiliki Khaira selain dirinya. Bahkan jika wanita ini mengancamnya pun akan Omar pertahankan. Lebih baik Khaira mati daripada dimiliki oleh Haikal ataupun pria lain.
Gerakan Khaira menciptakan senyum. Omar menarik istrinya dalam pelukannya meskipun terganggu saat bersentuhan langsung dengan dada Khaira. Omar menunduk, mencium kepala Khaira, mengusap punggung telanjang istrinya sampai ibu hamil itu tersebut kembali lelap.
Ya Tuhan. Omar merasakan hidupnya begitu sempurna dan ia sangat berterima kasih kepada Tuhan untuk semuanya walaupun hama kecil akan mengganggu tapi ia yakin mampu membasminya.
"Mas ... sesek."
Tanpa sadar Omar menekan kuat Khaira. Ia itu pun segera melonggarkan pelukannya tapi Khaira sudah terlanjur bangun. Wanita itu menatapnya sayu seperti memohon padanya.
Seolah ada magnet berkekuatan besar, hasrat Omar naik dengan tiba-tiba. Tubuhnya bergetar hebat, menjerit kuat ingin terbebas. Astaga! Omar benar-benar pria berengsek yang gampang bergairah. Ia tak pernah tahu bahwa memenuhi Khaira merupakan candu yang sangat sulit diredam.
Ia pun menahan dagu Khaira sebelum akhirnya Omar menyatukan bibir mereka. Mencecap lembut hingga terdengar erangan memohon Khaira. Kobaran hasrat Omar seketika tercambuk dan membesar. Ia pun mengungkung wanita itu di bawahnya, mengamati setiap pahatan yang tercipta sebelum akhirnya Omar mengisi jiwa kosong Khaira. Menyatu dalam keheningan pagi, menarik ulur hasrat yang ingin mereka capai sampai datang gulungan nikmat yang mereka harapkan.
###
"Nggak usah ke mana-mana. Kalau mau keluar tunggu aku pulang. Awas kalau sampai berani pergi sendiri," ancam Omar. Pria itu tengah memakai sabuk sebelum menambahkan sentuhan akhir pada penampilannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stole Your Heart
RomanceRasyidin bersaudara#2 Meskipun belum sepenuhnya berhasil move on dari Ilmira, Omar tak berharap cinta menyapanya kembali dalam waktu dekat. Rasa-rasanya ia butuh waktu untuk menyelami hatinya. Namun, gelap hatinya mulai memudar ketika seorang wanita...
