Happy reading ❤️
Khaira jengah dipandang lekat oleh Omar. Pria itu diam saja sesaat setelah ia mengatakan alasannya kenapa ia membalas pesan WhatsApp Haikal. Walaupun rasa cintanya pada Haikal telah pudar tapi bagaimanapun Haikal pernah menjadi bagian dari hidupnya, oleh sebab itu Khaira masih bersimpati pada pria tersebut. "Mas ... kan saya sudah jelaskan. Jangan marah lagi," rayu Khaira. Ia tidak mau didiamkan lagi sama Omar. Tidak ingin diabaikan sebab rasanya tidak enak.
"Kalau nggak ketahuan nggak bakal cerita kan?" Omar tahu Khaira bukan wanita seperti itu tapi sedikit menggoda mungkin seru.
"Nggak. Tetep mau cerita ...."
"Tapi?" sela Omar cepat.
"Nggak ada tapi. Saya lupa. Habis kalau Mas di rumah saya dibuat tidur terus." Khaira mencebik. Ia tak terima disalahkan padahal sebenarnya yang salah Omar.
Pria itu tertawa keras. Ya Khaira tidak salah. Omar sering membuat wanita itu lelah. Harus ia akui kalau dirinya benar-benar gila kalau berdekatan dengan Khaira. Hasratnya gampang terpantik padahal wanita itu tak berbuat apa-apa.
Astaga! Ini memang Omar saja yang edan. Ia benar-benar pria berengsek yang isi otaknya selangkangan saja. "Sini." Omar mendekap Khaira waktu duduk di pangkuannya. Menghidu parfum yang istrinya pakai.
"Tadi ke sini sudah makan belum?" Tangan Omar mengelus perut Khaira yang mulai membesar. Wajar saja sebab kehamilan istrinya memang sudah memasuki minggu ke dua puluh.
Acara tiga bulanan mereka adakan sederhana saja sesuai permintaan Khaira. Meski begitu Omar tetap memberikan yang terbaik untuk souvernir serta hidangan yang disajikan juga bingkisan yang dibawa pulang oleh para undangan.
"Belum. Tadinya mau makan habis temenin Bapak terus ada telepon itu Langsung minta antar ke sini."
Omar memberikan ponselnya pada Khaira karena tahu wanita itu lupa membawa handphone karena terburu-buru. "Pesan makanan saja. Jangan pedes-pedes levelnya."
Wanita itu memilih meletakkan ponsel Omar di meja. Ia menatap suaminya dengan rasa ingin tahu. "Waktu tahu itu nomor Mas Haikal, Mas gimana?" tanyanya. Khaira mengusap rahang Omar yang ditumbuhi bakal cambang. "Jangan dicukur ya Mas. Suka lihatnya," pinta Khaira. "Keren. Looks-nya kayak aktor-aktor luar negeri gitu."
Tumben sekali Khaira melontarkan pujian padanya? Padahal biasanya saling pandang saja wanita itu tak berani, ini ... oh Tuhan, wanita hamil itu memang unik, sangat unik bahkan, semuanya bisa berbeda dari biasanya. "Marahlah. Bisa-bisanya kamu nggak cerita. Aku pikir kalian balikan."
"Masa hamil gini balikan," gerutu Khaira tak terima dikatakan kembali pada Haikal.
"Ya siapa tahu, kan? CLBK mungkin?"
Mata Khaira berkaca-kaca mendengar ucapan Omar. Apa itu artinya suaminya tidak percaya padanya?
Wanita itu berusaha turun dari pangkuan Omar tapi lilitan tangan pria itu kuat hingga membuatnya berhenti bergerak. Khaira juga tak lagi menatap Omar. Rasanya tak pantas walaupun ia tersinggung dengan ucapan suaminya. Jari-jari Khaira bermain pada ujung hijab yang ia pakai dan berakhir dengan tangisan.
Omar tersenyum kecil lalu menarik napas sejenak sebelum menenangkan Khaira. Sejujurnya ia tidak suka membuat istri nangis tapi sedikit efek jera tidak masalah agar ke depannya lebih terbuka lagi. "Sudah nggak usah nangis. Nanti matamu bengkak aku bisa dihajar Bayu." Ia menghapus air mata di pipi Khaira. "Aku sudah pernah bilang kan kalau ada apa-apa ngomong. Mau itu hal sepele atau penting sekalipun, mau itu soal kerupuk atau tas branded, wajib cerita."
Khaira mengangguk. Ia lupa pesan yang Omar berikan dan sekarang melanggarnya meskipun bermaksud baik.
"Lain kali ulangi lagi ya."
Wanita hamil itu menggeleng. Lain kali mungkin Khaira tidak seberuntung ini. Omar bisa saja tidak memaafkannya. "Maaf, Mas."
Pria itu menarik dagu Khaira agar mau melihatnya. Mata dan hidungnya merah. Pipi lengket bekas air mata. Sungguh kacau. Omar menarik laci meja, mengambil tisu basah lalu membersihkan wajah Khaira. "Kamu itu tanggung jawabku. Apa pun yang terjadi sama kamu, aku wajib tahu. Antisipasi kalau nantinya terjadi sesuatu, jadi aku tahu apa yang harus dilakukan. Tapi kalau kamu nggak cerita apa-apa, aku bakal kayak orang bodoh nanti. Plonga-plongo koyok kethek ketolop."
Pandang Khaira kembali buram. Sangat merasa bodoh juga bersalah karena bertindak impulsif tanpa memikirkan risikonya nanti. Sedangkan Omar, pria itu sudah berpikir sejauh itu yang Khaira saja belum tentu memikirkannya. "Maaf," ujarnya lirih. Air matanya pun kembali turun. Ia kecewa pada dirinya sendiri.
"Mungkin bagimu aku terlalu mengekang mu. Ini itu nggak boleh tapi itu semua kulakukan karena aku sangat mencintaimu, Khai. Aku mau kamu baik-baik saja dan aman di sisiku."
"Maaf, Mas, saya ...."
Aku nggak mau kamu terluka, Khai. Aku mau kamu bahagia tanpa memikirkan apa pun. Jadi tolong bantu aku biar nggak terus khawatir soalmu."
Khaira mengangguk serta berjanji dalam hatinya untuk tidak membuat Omar khawatir ataupun resah karenanya.
###
Omar tidak bisa untuk tidak tersenyum ketika melihat Bima begitu senangnya bermain seluncuran di wahana baru Rampal. Sore tadi ia sengaja pulang lebih awal serta minta Bayu, Bima, dan bapak mertuanya untuk bersiap-siap pergi. Khaira tentu saja terkejut mendengar hal tersebut. Istrinya itu menatap Omar bingung dan bertanya-tanya.
Ya Omar memang sengaja tidak memberitahu Khaira rencananya ini agar wanita itu tidak bisa menolak. Apabila Khaira tahu, pasti dia akan memberi sejuta alasan untuk menggagalkan rencana Omar. Namun, bukan Omar namanya jika tak punya sejuta alasan tandingan untuk membungkam istrinya.
"Sudahan dong cemberutnya." Omar menjawil dagu Khaira agar melihatnya-wanita itu membuang muka. "Nggak seneng apa lihat mereka bahagia gitu?" Ia menunjuk bapak mertuanya dan Bima yang tengah tertawa. Pemandangan yang sempurna bagi Omar bisa membuat keluarga Khaira tertawa lepas. "Bayu juga sesekali butuh waktu untuk sendiri." Omar menunjuk Bayu yang duduk sedikit jauh dari Bima dan Karmin. Adik iparnya itu tampak serius dengan ponselnya.
Mau tidak mau Khaira setuju dengan ucapan Omar. Bayu memang butuh waktu untuk quality time. Namun, ia juga tidak enak hati melihat suaminya terus mengeluarkan uang untuk keluarganya. "Ya tapi kan ... saya nggak enak terus-terusan ngerepotin Mas. Mas keluar uang terus padahal sudah kasih saya uang belanja."
"CK." Omar paling tidak suka kalau sudah membahas perihal uang. Memang ia kerja buat siapa? "Itu beda. Uang itu khusus buat keperluanmu. Uang belanja kan mesti aku kasih amplop sendiri. Lagian nggak ada salahnya aku nyenengin mereka toh mereka keluargaku juga. Bapakmu juga bapakku. Sudah tugasku, Khai, selama dalam batas normal. Kamu nggak perlu sungkan atau gimana-gimana," ujar Omar. "Nggak usah khawatir uangku habis, insyaallah malah tambah banyak."
Omar tidak bermaksud sombong tapi itu yang ia rasakan. Saat ia tidak menghitung berapa-berapanya uang yang ia gelontorkan untuk Khaira dan keluarganya, usahanya semakin berkembang. Keuntungan dari beberapa usahanya pun meningkatkan. Jadi Omar pikir, dengan menyenangkan istrinya maka Tuhan akan mengembalikan semua yang ia berikan berlipat ganda.
"Tapi kan ...."
"Nggak ada tapi, Khai. Kamu nggak usah mikirin apa pun. Tugasmu cuma nurut sama aku. Lainnya biar aku yang jalan." Omar suka menjadi dominan sama seperti Ammar.
Kebetulan sekali ia mendapat istri seperti Khaira yang tidak neko-neko. Cukup penurut ya walaupun awalnya mereka harus berdebat dan negosiasi, dan ketika wanita itu masuk perangkapnya, maka hanya keputusannya yang berlaku. Egois? Biar saja. Toh mereka yang menjalani bukan orang lain. "Denger nggak?"
"Iya," jawab Khaira pelan.
"Apa?" tanya Omar.
"Nurut sama Mas."
"Bagus. Apa pun kataku kamu harus nurut."
Tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stole Your Heart
RomanceRasyidin bersaudara#2 Meskipun belum sepenuhnya berhasil move on dari Ilmira, Omar tak berharap cinta menyapanya kembali dalam waktu dekat. Rasa-rasanya ia butuh waktu untuk menyelami hatinya. Namun, gelap hatinya mulai memudar ketika seorang wanita...
