Haluuu! 😁
❤️❤️❤️
Khaira menarik napas dalam-dalam sebelum keluar dari rumah Rasyidin. Langkahnya berat seperti diberi rantai besar. Semangat yang biasa ia rasakan untuk saat ini hangus tak tersisa. Mungkin begini rasanya ketika Omar Khaira diamkan. Saat ini pria itu tidak mengomel seperti biasanya dan hal itu membuatnya belingsatan. Sungguh tidak enak. Namun, Khaira tidak bisa protes sebab dirinyalah yang membuat Omar marah.
Wanita itu masuk mobil, menatap Omar yang tengah sibuk dengan ponselnya. Setelah Khaira duduk nyaman, pria itu menjalankan mobilnya. Tidak ada perdebatan seperti biasanya sampai mobil berhenti di tempat biasanya
"Mas Ardi tunggu di sini sebentar nggak apa-apa? Saya mau beli minum dulu. Mas Ardi mau minuman apa?" tawar Khaira sebelum masuk ke mini market.
"Ndak usah, Bu. Saya bawa minum," tolak Ardi.
"Ya wes. Saya masuk dulu ya." Khaira masuk ke mini market. Ia ingin membeli mini jelly dan susu uht. Sebenarnya sudah mulai kemarin ingin tapi untuk minta antar Omar ke mini market segan.
Melihat Khaira masuk ke mini market, Omar turun kemudian menghampiri Ardi. "Ada masalah?" tanyanya.
Ardi menggeleng. "Katanya mau beli sesuatu. Makanya saya diminta tunggu di sini."
Suami Khaira itu langsung masuk. Ia berdiam diri di samping meja kasir menunggu istrinya kembali. Tidak biasanya Khaira beli sesuatu di mini market. Dia terbiasa membawa bekal dari rumah. Apa mungkin wanita itu ngidam tapi tidak berani bilang padanya? Bisa saja.
Tidak lama Khaira datang, menaruh jajanan yang dibeli wanita itu. Mini jelly, susu uht, dan sosis siap makan. Sangat bukan Khaira sekali, pikir Omar. Istrinya bukan pecinta jajanan seperti itu.
"Semuanya 47.900. Ada member?" tanya kasir mini marketnya.
"Ndak punya." Khaira membuka tas, mengambil uang dari dompet tapi saat ia meletakkan uang di meja, belanjaannya sudah dibayar oleh Omar. "Makasih, Mas." Ia mengambil kantung plastik sekaligus uangnya lalu keluar dari mini market diikuti Omar.
Ardi dan Khaira berangkat lebih dulu, selang beberapa waktu Omar menjalankan mobilnya ke toko. Pria itu tidak langsung turun, matanya terus memindai Khaira. Wajah murung istrinya membuatnya iba. Ya sebenarnya Omar tidak benar-benar marah tapi tidak ada salahnya memberi pelajaran sedikit pada Khaira agar tidak mudah mengambil kesimpulan sendiri.
"Lesu banget, Mbak, padahal masih pagi lho," celetuk Adiba ketika melihat Khaira masuk. "Nggak tidur semalam?" Adiba mengambil kemoceng untuk membersihkan jendela kaca depan.
"Iya," jawab Khaira. Ia mengambil sapu, membersihkan seluruh ruangan tersebut dengan cepat sebelum jam buka. "Tumben Tya belum datang? Izin dia?"
"Agak telat katanya. Ban dia bocor, jadi nembel dulu," sahut Adiba. "Mbak lagi repot banget ya di rumah? Aku lihat lesu terus. Minum vitamin kalau kudu melekan, Mbak."
Memang tidurnya tidak bisa nyenyak beberapa waktu ini. Dimulai dari Risma-biarpun masalah ini sudah clear-Adiba, Haikal, dan sekarang diamnya Omar membuat Khaira terus gelisah. Badannya pun jadi lebih capek dari sebelumnya.
"Atau Mbak lagi berantem sama Mas Ardi?"
Dan sekarang ini kepala Khaira rasanya mau pecah mencari solusi untuk semuanya. "Diba, kalau kita didiamkan orang, kita harus gimana?"
Adiba sontak menghampiri Khaira. "Mbak lagi didiemin Mas Ardi? Masalahnya apa? Kalau aku sih ya minta maaf. Dia kayak gitu berarti ada yang salah sama sikap dan tingkah laku kita."
KAMU SEDANG MEMBACA
Stole Your Heart
RomanceRasyidin bersaudara#2 Meskipun belum sepenuhnya berhasil move on dari Ilmira, Omar tak berharap cinta menyapanya kembali dalam waktu dekat. Rasa-rasanya ia butuh waktu untuk menyelami hatinya. Namun, gelap hatinya mulai memudar ketika seorang wanita...
