40

1.6K 343 61
                                        

Hai beb😁
kyk e bakal sellow banget update coz di rumah sibuk sama tokonya. Kdng baru buka Wp bentar udah ada yg beli tpi Alhamdulillah juga. Jadi harap sabar ya sambil nunggu cerita baru hehehe, jujur masih belum siap mau garap judul baru 😁 wes itulah cuap-cuap this morning. Happy reading sista

###

Khaira kaget mendapati Adiba dan Tya di rumah mertuanya. Ia pikir cuma Omar yang datang ternyata di belakang mobil suaminya ada dua teman kerjanya. Suasana di ruang tamu itu kaku. Tidak ada satu pun yang membuka suara sampai Omar datang dan duduk di lengan sofa sisi Khaira.

"Aku yang kasih tahu Diba semuanya. Nungguin kamu ngomong ke dia nggak bakal kelar-kelar. Yang ada kamu kepikiran terus. Drop lagi."

Wanita itu menatap Omar sambil merengut. "Kok gitu? Kan perjanjiannya saya yang kasih tahu Diba," protes Khaira.

"Kesuwen. Kakean mikir ini itu padahal ya nggak apa-apa," sahut Omar. "Dibilang dari awal juga tapi ngeyel. Kalau drop gini siapa yang rugi? Kamu kan?"

Ya memang Khaira yang rugi apalagi Omar sudah memintanya untuk berhenti kerja—karena janji yang ia sanggupi tanpa berpikir panjang. Rasanya begitu berat harus tidak bekerja terlebih ia masih ada tanggungan.

"Tapi kan ...."

"Kamu ya aneh, Khai. Sudah tahu Diba sama Pak Omar nggak ada hubungan apa-apa malah takut sendiri. Cari penyakit kok," timpal Tya.

"La ya, Mbak Tya. Aku lho nggak mungkin marah wong Pak Omar bebas," sahut Adiba pula.

Jadi semua ini salah Khaira? Mengapa tidak ada yang paham maksudnya? Ia hanya ingin menjaga perasaan Adiba tapi nyatanya ... "Ya sudah aku yang salah."

Omar tersenyum kecil lalu mencium puncak kepala Khaira. Rupanya Khaira tengah merajuk. "Nggak salah tapi lain kali diomongin dulu, jangan ambil kesimpulan sendiri."

"Aduh. Mesra sih mesra tapi nggak di depan kaum jomblo juga kali, Pak," protes Adiba tanpa sungkan. Ia juga ikut bahagia melihat Omar begitu mencintai Khaira.

"Ya nggak apa-apa biar kamu pengin cepet nikah," balas Omar. Ia merangkul Khaira, menariknya menempel padanya.

"Kayak e sudah malam. Kami pamit dulu ya." Tya berdiri sambil mencangklong tas. Sudah setengah sembilan malam, rasanya tidak terlalu baik bertamu.

Khaira mengantar dua temannya ke depan, memeluknya sebelum melepas  mereka. "Hati-hati. Jangan ngebut."

Usai kepergian Adiba dan Tya, Khaira langsung ke kamar. Ia mengabaikan Omar yang mengikutinya. Kesal sekali rasanya jadi orang yang disalahkan padahal niatnya baik. Mereka belum pernah saja merasakan bagaimana sakitnya melihat orang yang kita sayang harus bersanding dengan orang lain. Usai salat Isya, Khaira langsung tidur. Ia sedang tidak ingin melihat atau mendengar suara Omar.

Sampai besok paginya, Khaira masih mendiamkan Omar tapi rupanya pria itu tidak menyadari hal itu. Ya wajar saja karena sehari-hari pun dirinya tidak terlalu banyak bicara. Untuk menghindari Omar, Khaira ke dapur membantu Mbok Yem. Bosan juga kalau harus di tempat tidur terus tanpa melakukan apa-apa.

"Sudah penakan to, Nduk? Kok wes ndek sini." Cindy yang baru datang dari sebelah, sedikit kaget melihat Khaira di dapur. Ia kemudian duduk sambil membersihkan wortel.

"Sampun, Buk. Tiduran terus ndak enak." Khaira pun menawari teh untuk Cindy. Ia duduk di sisi mertuanya usai menaruh teh hangat  di meja. "Buk ... eum ... ngapunten saya belum bisa rutin bantu-bantu di sebelah. Saya ...."

"Ndak opo-opo, Khai. Ibuk sudah pernah bilang kan, kalau Ibuk nggak pernah nuntut kamu harus bantuin Ibuk. Kamu itu cukup fokus sama suamimu. Baru kalau ada waktu luang terus kamu mau bantuin ya monggo. Nggak pun ya nggak apa-apa," terang Cindy sabar. "Wes to, ra usah bingung mbek Ibuk. Banyak yang bantuin. Ibuk ya sek sanggup ngawasi. Ra usah khawatir, mundak bikin perutmu ra penak."

Stole Your Heart Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang