Halooo! Puasa lancar kan? Semangat terus ya 😊
,❤️❤️❤️
Cindy heran melihat Omar sendiri sedangkan Khaira tidak terlihat, baik di rumah utama atau di paviliun sebelah. "Khai mana? Nginap di rumah bapaknya?" Cindy menaruh kopi di meja untuk suaminya.
"Tak suruh tidur. Sama Siska disuruh istirahat, Buk. Dua sampai tiga hari sampai dia nggak demam, flek nya berkurang, dan nggak ada keluhan sama perutnya." Omar menerima kopi yang baru saja dibuatkan ibunya.
Cindy duduk di depan Omar usai membantu Mbok Yem menata makanan untuk sarapan. "Lho? Opo to (kenapa?? Sakno e lak nggak bisa kerja dia (jadi kasihan nggak bisa kerja dia)."
"Flek, Buk. Aslinya kata Siska nggak apa-apa, wajar saja tapi buat jaga-jaga soalnya ada keluhan di perutnya." Omar mengambil pisang Ambon sebelum sarapan. "Kayaknya habis ini aku suruh dia berhenti kerja saja, Buk, biar di rumah nemenin Ibuk atau apalah nanti daripada kenapa-napa sama dia."
Ibu dari Omar itu mengangguk. Ia paham kekhawatiran yang putranya rasakan. "Ya nggak apa-apa kalau itu buat kebaikan. Tapi kamu harus punya alasan kuat kenapa kamu minta Khai berhenti kerja."
Omar mengangguk. "Nggeh. Buk ... sebelumnya aku minta maaf kalau nanti-nantinya Khaira ndak rajin bantuin Ibuk di sebelah soalnya ...." Omar menarik napas sebelum melanjutkan omongannya. "Dia kayak nggak nyaman pas tahu dulu aku sempat dekat sama Risma."
Bola mata Cindy membesar kala mendengar ucapan putranya. "Lho? Terus dek ne yok opo (dia gimana)? Tahu dari mana? Jadi bener kamu sama Risma sempat deket?"
"Dia nggak sengaja denger omongan Irna sama Risma, sempat salah paham juga mikir aneh-aneh, terus imbasnya perut dia nggak enak." Omar meraih entong nasi dan mulai mengisi piringnya. "Ya asline dibilang deket banget ya nggak, sekedar deket gitu saja. Kayak teman bukan kayak lagi suka sama cewek."
Ah apa karena ini paras mantunya beberapa hari ini tampak murung? "Oh pantesan, Le, beberapa hari ini Ibuk lihat dia kayak lemes ae, murung, perkoro kui to (karena ini to). Tapi saiki wes nggak opo-opo (sekarang sudah nggak apa-apa)?"
Pria yang pagi ini memakai kemeja warna biru itu mengangguk. "Sampun. Alhamdulillah, Bu."
"Ya wes lek ngono (ya sudah kalau gitu). Sakno le lek mikir banter marai drop ae (kasihan kalo kepikiran bikin)."
Omar membenarkan omongan ibunya sebab hal itu juga yang dikatakan oleh Siska, sebisa mungkin Khaira harus dalam kondisi tenang. Usai sarapan bersama ayah dan ibunya, Omar membawakan makanan ke kamar. Khaira sengaja ia larang turun dari ranjang agar dia cepat pulih.
Sampai di kamar, wanita itu masih tidur. Wajahnya tampak tenang, mungkin karena Omar sudah memaafkan Khaira jadi istrinya itu tidak gelisah. Sembari menunggu Khaira bangun, Omar mengambil fotonya wanita itu dari belakang dan memperlihatkan samping wajahnya—tidur miring dan rambutnya ditutup dengan selimut.
Omar kemudian mengirim pesan pada Hesti untuk minta tolong menyampaikan pada Adiba kalau pagi ini dirinya ingin bertemu. Omar rasa masalahnya di sini hanya Adiba, karena itu ia perlu bertemu untuk menyelesaikan semua agar tidak terus-menerus menjadi pikiran Khaira.
###
"Mas Ardi, tahu nggak kenapa Pak Omar tiba-tiba minta ketemuan gini?" Tak dipungkiri kalau Adiba takut, penasaran, serta deg-degan, pasalnya ia merasa tidak berbuat sesuatu yang membuatnya harus berhadapan dengan Omar.
Ardi menggeleng. Ia pun bertanya-tanya sebab waktu Omar datang ia diminta untuk menjemput Adiba dan membawanya ke ruangan Omar.
"Lah? Kan Mas Ardi asisten Pak Omar. Kok nggak tahu."
"La memang harus gitu tahu semua urusan Pak Omar? Ngawur nih bocah." Ardi berjalan lebih dulu agar diikuti oleh Adiba. Sampai di lantai tiga pria itu mengetuk pintu ruangan Omar. Mereka masuk setelah mendapat perintah dari dalam.
Omar berdiri menyambut Adiba. "Duduk, Diba. Kamu juga Ar." Omar kembali duduk di sofa.
"Maaf ya, Pak, saya ada salah apa ya kok tiba-tiba Pak Omar panggil saya?" Adiba sudah tidak sabar ingin tahu hal apa yang membuatnya dipanggil oleh atasan Ardi ini.
Pria yang akan memasuki usia 36 tahun itu tersenyum lebar melihat reaksi Adiba. Wajah perempuan itu terlihat ketakutan. "Nggak ada salah, Diba, tapi ada yang perlu diluruskan," jawab Omar. "Sebetulnya nggak perlu diluruskan karena memang nggak ada hubungannya tapi istriku takut kamu salah paham sama dia."
"Istri?" tanya Adiba heran. "Saya tahu sih Pak Omar sudah menikah tapi saya nggak ngerasa kenal sama istri Bapak."
Lagi-lagi Omar tersenyum. Jelas saja tidak kenal karena dirahasiakan. Pria itu memberikan ponselnya pada Adiba, di mana galerinya berisi foto-foto pernikahannya dengan Khaira. "Ambil."
Ragu-ragu Adiba mengambil ponsel Omar. Sebenarnya siapa istri pria ini sampai dirinya harus dipanggil kemari? Lipatan di dahi Adiba semakin banyak saat menyadari bahwa istri yang dimaksud Omar adalah Khaira, temannya sendiri. Bagaimana bisa? "Pak ini ...." Adiba benar-benar terkejut. Saking terkejutnya ia sampai tak bisa berkata-kata. Ini ... "Mbak Khai?" ujarnya tak percaya saat menemukan kembali suaranya. "Jadi ...." Adiba menatap Omar lalu Ardi, pria itu mengangguk. "Tapi kenapa harus dirahasiakan?" tanyanya.
"Karena Khai takut kamu marah. Dia tahu kamu semangat ngejarku. Jadi dia takut kamu menuduhnya menusuk dari belakang. Itu kenapa status kami disembunyikan," jawab Omar. Ia minta kembali ponselnya.
"Tapi saya nggak mungkin nuduh Mbak Khai gitu."
"Tapi Khai nggak mikir kayak gitu," sahut Omar segera. "Bahkan kami sempat bertengkar waktu dia minta acara pernikahan kami sederhana saja tanpa mengundang teman atau karyawanku. Hanya Ardi dan Beni yang tahu soal pernikahan ini."
"Lah? Padahal saya sama Bapak nggak ada hubungan apa-apa."
Omar mengedikkan bahu. "Ya itu tadi alasannya. Dia yang nggak kenal aku kok tiba-tiba bisa jadi istriku." Omar membuka tutup botol air mineral, meneguknya sedikit sebelum melanjutkan omongannya. "Ya kalau dipikir memang aneh. Nggak pernah ketemu terus nikah. Memang kami baru dua kali ketemu dan aku langsung ngajak dia nikah. Jadi kalau kamu mau marah, marah saja sama aku jangan sama Khai, apalagi dia lagi hamil. Aku nggak mau dia kepikiran."
Meskipun malu karena Khaira menceritakan usahanya mengejar Omar tapi Adiba sadar tidak ada yang salah di sini. "Nggaklah, Pak. Saya nggak akan marah karena memang nggak ada yang salah. Lagian Mbak Khai itu kok aneh-aneh saja mikirnya. Aduh! Malu dong saya gosipin Bapak sama Mbak Khai." Adiba menepuk dahinya pelan sambil tertawa.
Dugaan Omar ternyata tidak salah, Adiba bisa menerima dengan lapang dada. Khaira saja yang terlalu over thinking dan membuat semuanya ribet. "Jadi clear ya. Nggak ada salah paham di sini." Adiba menyetujui ucapannya. "Khai izin karena dokter minta dia istirahat. Kalau kamu mau ketemu dia, bisa minta alamatnya sama Ardi atau diantar Ardi sekalian ke rumah."
"Baik, Pak. Jadi sudah selesaikan, Pak, urusannya sama saya? Kalau sudah saya mau balik. Kasihan Mbak Tya sendiri."
"Boleh. Makasih," ucap Omar.
Ardi serta Adiba meninggalkan ruangan Omar. Langkah perempuan itu cepat sebab ingin segera sampai di tempat bekerja dan memberitahu Tya kabar ini. Ya Allah, Adiba benar-benar kaget tahu hal ini. "Mbak Tya!" teriaknya saat membuka pintu. Ia lari menghampiri Tya yang sedang mendisplay koleksi tunik terbaru mereka.
"Apa sih, Diba, teriak-teriak gitu. Kebiasaan ini bocah." Perhatian Tya pun teralihkan dari pekerjaannya. "Apa?"
Adiba menarik Tya untuk duduk di kursi tunggu untuk pelanggan. "Tahu nggak alasan hari ini Mbak Khai absen dan kenapa aku dipanggil sama Pak Omar? Dia mau kasih tahu Mbak Khai itu istrinya dan nggak mau kepikiran masalah ini biar nggak stres selama hamil.
"Oh ... hamil?" teriak Tya karena kaget. Ia tidak salah dengar, kan? Khaira istri Omar dan tengah hamil?
Adiba mengangguk. "Begitulah."
Tbc.
Mau baca cepat bisa di Karyakarsa ya. Link di bio-ku. Juga ada novel-novel pendek murce mursindah lho. Cek cek ya ❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
Stole Your Heart
RomanceRasyidin bersaudara#2 Meskipun belum sepenuhnya berhasil move on dari Ilmira, Omar tak berharap cinta menyapanya kembali dalam waktu dekat. Rasa-rasanya ia butuh waktu untuk menyelami hatinya. Namun, gelap hatinya mulai memudar ketika seorang wanita...
