18. Let's Dance With Me

41 6 0
                                        

Sesuai perintah, semua peserta ospek menyebar ke seluruh bangunan kampus untuk mendapatkan tandangan senior. Mulai dari koridor, ruang kelas, laboratorium, ruang komputer, kantin, perpustakaan, taman, parkiran, hingga ke toilet. Mereka benar-benar ada dimana-mana.

"Bagimana? Sudah ketemu?" Tanya Eva pada salah satu anak perempuan di kelompoknya.

"Di perpustakaan tidak ada, di kantin juga tidak ada." Jawab anak itu.

"Aku juga sudah mencarinya di toilet, dan dia tidak ada disana." Kata salah satu anak laki-laki.

"Kalian kan sama-sama laki-laki, masa tidak ada yang melihat Fighter?!" Ucap Bella kesal.

"Hei asal kau tau saja. Fighter itu anaknya tertutup, dia tidak mudah diajak bicara!"

"Bagaimana jika bertanya pada Lino? Ku pikir mereka dekat. Mungkin saja Lino tau dimana Fighter." Vivian memberi usul.

Setelah barisan dibubarkan, Fighter menghilang entah kemana. Tidak ada yang melihat kemana lelaki tampan itu pergi, dan sekarang mereka sudah mencarinya ke segala penjuru kampus namun sosok yang dicari tak kunjung ketemu.

"Kita bahkan tidak tau dimana Lino berada sekarang. Semua orang sudah berpencar dengan kelompoknya masing-masing." Ujar Hanna.

Alvaro yang melihat anggota kelompoknya seperti sedang berselisih dari jauh pun datang menghampiri mereka.

Pria itu bertanya. "Ada apa ini? Kenapa kalian masih berkelompok?"

Hanna yang pertama kali menjawab. Gadis yang memakai bandana putih itu berkata dengan cepat.

"Fighter hilang kak."

"Menghilang? Apa maksudmu?"

Tidak mungkin kan ada penculik didalam kampus? Lagi pula siapa juga yang ingin menculik pria dewasa seperti Fighter? Pikir Alvaro.

"Dia tidak terlihat sejak tadi Kak. Kami sudah mencarinya dimana-dimana, tapi Fighter tidak ada." Vivian menjelaskan.

"Kapten tim apanya, dia bahkan tidak bertanggung jawab." Cibir salah satu anak laki-laki.

Alvaro terlihat berpikir sejenak. "Hmm baiklah, nanti akan ku bantu cari. Bagaimana jika kalian berpencar dulu? Waktu yang kalian miliki tidak banyak untuk mengumpulkan tanda tangan."

"Itu ide yang bagus. Bagaimana teman-teman?" Kata Eva.

Setelah mendapat persetujuan dari semua orang, anak-anak itu pun mulai berpencar. Alvaro membagi mereka agar berpencar secara perpasangan. Dikarena jumlah anggota tim mereka ada 20 orang dan Fighter menghilang, Vivian harus rela mengalah pergi mencari tanda tangan seorang diri.

Vivian pergi ke segala tempat yang memungkinkan dia mendapat tanda tangan senior. Mulai dari koridor, kelas, hingga taman. Suasana kampus tak seramai ketika ospek hari pertama kemarin, Vivian mendengar dari senior yang ia temui bahwa beberapa kelas diliburkan sementara.

Terkadang ada beberapa senior yang memberikan syarat kepada Vivian ketika gadis itu meminta tanda tangan. Mereka tidak memberikannya secara suka rela. Vivian terkadang diminta menyanyi, bercerita tentang sekolah lamanya, hingga memainkan permainan teka-teki. Sebenarnya hal itu cukup seru bagi Vivian, tapi itu juga melelahkan.

"Tujuh puluh tanda tangan. Cukup banyak, tapi masih kurang dari 120." Gumamnya sembari menatap buku kecil bersampul cokelat ditangannya.

"Ayo semangat Vian!" Ucapnya menyemangati dirinya sendiri.

HAZARD Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang