Setelah kepergian Fighter, Tn. Lee dan Ny. Lee mendudukan Vivian didepan ruko. Pasangan suami istri itu memutuskan untuk menutup toko lebih cepat dari biasanya.
Ny. Lee memberikan segelas air dingin pada Vivian. Dia duduk bersebelahan dengan Vivian, sementara suaminya ada diseberang sana.
"Aku memang tidak tau apa yang terjadi diantara kelian berdua, tapi bibi rasa semua bisa dibicarakan dengan baik-baik? Sewaktu muda aku juga sering marah padanya, benarkan yeobo?"
Vivian hanya diam. Menggenggam gelas di tengannya dengan tatapan kosong.
"Itu benar. Pertengkaran kecil memang sering kali terjadi dalam sebuah hubungan. Jangan khawatir nak, setelah amarahnya mereda, dia pasti akan mencari mu kembali."
"Dia tidak akan datang padaku lagi, Paman, Bibi."
"Kenapa begitu? Apa sebesar itu masalahnya?" Ny. Lee membawa tangan Vivian kedalam genggamannya.
Melihat Vivian yang menggeleng, Ny. Lee bertukar pandang dengan suaminya.
"Dia bukan pacarku, kami tidak berkencan." Gadis itu tertawa. "Aku rasa hanya aku yang memiliki perasaan ini. Aku benar-benar bodoh berpikir bahwa aku cukup spesial baginya."
Satu-satunya kebodohan yang pernah Vivian lakukan adalah berpikir bahwa Fighter memiliki perasaan yang sama dengannya.
Ny. Lee membawa Vivian kedalam pelukannya. Awalnya dia dan suaminya juga berpikir bahwa kedua anak muda ini sedang menjalin hubungan asmara. Tapi siapa sangka, dugaannya selama ini salah.
"Tidak apa-apa, jangan bersedih. Seseorang yang lebih baik akan menggantikan posisinya."
Vivian kembali ke rumah pada pukul 18.00 wib. Ny. Lee menutup toko lebih cepat dari biasanya, dan Vivian tidak memiliki tempat lain untuk dituju selain rumah.
Setelah melepas sepatunya, Vivian menyalakan lampu utama. Suara perabotan rumah tangga terdengar dari arah dapur. Vivian berjalan kesana untuk melihat.
"Ibu? Apa yang sedang ibu lakukan?"
Empat meter didepannya, Vivian bisa melihat dengan jelas seorang wanita paruh baya yang tengah bergulat dengan beberapa alat dapur.
"Oh? Putriku sudah pulang? Duduklah, ibu sedang memasak sesuatu. Tumben sekali kau pulang cepat?" Hari biasanya Vivian akan pulang sekitar jam 9 atau jam 10 malam.
"Paman dan bibi Lee menutup tokonya lebih cepat."
"Benarkah? Itu bagus. Kita bisa makan malam bersama sesekali!"
Setelah keluar dari rumah sakit, Luna tak memiliki kegiatan untuk di lakukan. Biasanya dia akan membantu menyiapkan keperluan kuliah Vivian dan memasak di sore atau malam harinya.
Kondisi ibu Vivian belum terlalu stabil. Terkadang Luna masih sering berteriak dan tertawa tiba-tiba, terkadang juga dia akan menangis di tengah malam ketika Vivian pulang bekerja. Dan yang paling parah adalah, ketika mood nya terlalu sering berubah, Luna bahkan pernah tak mengenali putrinya sendiri. Hal itu tentu saja membuat dada Vivian terasa sesak. Dia harus extra sabar mengurus ibunya agar mood nya kembali baik. Vivian bahkan sering menangis di malam hari sebelum tidur saat memikirkan bagaimana kondisi ibunya.
Itu sebabnya Vivian melarang ibunya bekerja selama masa pemulihan. Lagi pula, dia memang sudah tidak bekerja selama 2 tahun kebelakang. Pekerjaan terakhirnya adalah guru di sekolah menengah sebelum akhirnya di berhentikan karena alasan kesehatan.
Masakan yang Luna masak setiap harinya juga terbilang sederhana. Asal cukup untuk 2 orang itu sudah lebih dari cukup.
"Bu Nala memberikan kacang hijau mentah pagi tadi, apa kau ingin ibu membuat bubur kacang hijau juga?"
KAMU SEDANG MEMBACA
HAZARD
Novela JuvenilMenceritakan tentang sebuah organisasi bernama 'Hazard' dan segala sesuatu yang terjadi di Independent University. "Dewan Hazard itu baik tapi juga jahat disaat yang bersamaan."
