10. Getting Closer

88 24 10
                                        

Vivian berlari dengan tergesa-gesa, ia bahkan hampir menabrak beberapa pejalan kaki karena tidak berhati-hati. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah Ibu nya. Kepala menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari bus untuk diberhentikan. Namun tak ada satu pun bus yang lewat saat itu.
 
“Aku akan naik bus yang di halte sana saja.”

Tepat di seberang halte tempatnya berdiri adalah pertigaan jalan. Dan di samping pertigaan jalan itu ada sebuah halte bus, Vivian berpikir untuk naik bus dari halte itu saja.

Memang salahnya karena terlalu tergesa-gesa, lampu lalu lintas berubah menjadi hijau seketika. Vivian tak menyadari jika dari kejauhan ada sepeda motor melaju dengan kecepatan tinggi kearahnya. Entah sengaja atau tidak, pemotor itu menyenggol lengan kiri Vivian hingga menyebabkan gadis itu terjatuh. Namun bukannya menolong, pemotor itu justru langsung pergi begitu saja.

Sementara itu di waktu yang bersamaan, dari arah yang berlawanan sebuah mobil sedan mewah melaju dengan kecepatan sedang. Ketika berbelok, mobil itu hampir saja melindas tubuh Vivian jika saja si pengemudi mobil tidak menginjak rem tepat pada waktunya.  
Ckiittttt

Decitan itu terdengar begitu memekikan talinga. Vivian berusaha bangun dengan susah payah, lngatlan gadis itu bahwa luka di lututnya bahkan belum kering.

“Apa kau sudah bosan hidup?!"

Sepasang sepatu berada dihadapannya. Gadis itu menengadahkan kepalanya untuk melihat siapa pemilik sepatu itu.

Dihadapannya saat ini berdiri seorang pria, kedua matanya begitu indah dengan iris mata berwarna abu-abu, hidung bak perosotan, bibir penuh nan indah, serta kulit yang seputih batu giok!

Orang itu adalah Fighter.

Entah hanya perasaan Vivian saja atau memang benar jika wajah Fighter terlihat jauh lebih dingin dari terakhir kali mereka bertemu sebelumnya.

“Maaf, aku sedang terburu-buru.”

Vivian tadinya berniat untuk langsung pergi, namun sebuah tangan mencekal pergelangan tangannya.

Fighter masih disana dengan wajah dinginnya. Ia berkata. “Luka mu tidak akan sembuh jika terus dipaksa berjalan.”

Melihat bus yang ditunggunya akhirnya datang, Vivian melepaskan paksa tangan Fighter dari tangnnya. Akan tetapi rasa nyeri di lututnya membuatnya kehilangan keseimbangan dan limbung.

Sepasang lengan melingkar indah di pinggangnya. Fighter bertanya dengan suara rendahnya. "Mau kemana?"

"H-hah?!"

"Ku bilang mau kemana? Biar ku antar."

Vivian mengerjapkan matanya berkali-kali saat mendengar kalimat itu lolos dari bibir Fighter.

~H.AZ.A.R.D~
 


Keduanya berjalan dengan tergesa-gesa di sepanjang koridor rumah sakit. Lebih tepatnya hanya Vivian yang tergesa-gesa, Fighter hanya mengimbangi langkah gadis didepannya.

Fighter mengingatkannya dengan berkata. "Pelan-pelan saja, nanti jatuh."

Namun bukannya semakin pelan, langkah Vivian justru cepat. Hampir seperti orang berlari. Kondisi lututnya yang belum sepenuhnya pulih, membuat langkah gadis itu terseok-seok. Sangat menyedihkan jika dilihat dari sudut pandang Fighter.

Benar-benar keras kepala! 

Vivian merasakan sebuah lengan melingkar dipinggang nya, lengannya yang lain sedikit terangkat dan dalam sekejap sudah menggantung diatas bahu orang yang membawanya. Itu adalah lengan Fighter. Lengan pria tampan itu sudah 2 kali melingkar indah dipinggang miliknya membuat Vivian merasakan sebuah getaran aneh dalam hatinya. Namun sekarang bukan waktunya untuk memikirkan hal seperti itu.

HAZARD Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang