40. That Curly Guy Again

34 5 0
                                        

Fighter menarik tangan Johnny untuk keluar, setelah dirasa cukup jauh ia pun melepaskannya.

"Untuk apa kau datang kesini?" Wajahnya sedikit merah.

"Hah~ bukankah tadi didalam sudah ku katakan? Aku datang untuk memberi mu barang."

"Maksud mu narkoba?" Memangnya apa lagi kan?

"Tepat sekali!" Johnny menjentikkan dua jarinya. "Aku perlu uang." Sambungnya.

"Lalu?" Apa hubungannya ku?

"Yeah seperti yang kau tau. Si brengsek Alexander membuatku di keluarkan dari kampus, tapi dia terus menerorku untuk melunasi semua tagihannya. Sial, kau lihat ini? Ponselku terus berdering sepanjang hari. Dia benar-benar seperti rentenir!" Katanya dengan wajah kesal seraya menunjukkan layar ponselnya yang berisi belasan pesan masuk tak terbaca.

"Itu hutang mu, tak ada urusannya dengan ku."

Apa pria ini sudah gila? Untuk apa memberitahunya? Mereka bahkan tidak dekat sama sekali.

Fighter baru saja hendak melangkah pergi saat suara Johnny kembali menginterupsi.

"Aku butuh bantuan mu. Lakukan sekali lagi, setelah itu aku tak akan menganggu mu lagi."

"Kau punya anak buah kan? Suruh mereka melakukannya. Aku bukan pesuruh mu."

"Haishh bocah ini. Dengar, Alexander dan para pengikutnya sudah menangkap semua anak buahku disini. Aku tidak bisa lagi menjual narkoba di tempat ini."

"Jadi karena itulah kau menjual barang itu ke anak SMA dan SMP? Apa kau sudah gila?! Mereka masih dibawah umur!" Fighter sama sekali tak mengerti apa yang dipikirkan pria ini. Johnny Suh benar-benar gila!

"Ya.. sudah ku bilang, aku perlu uang. Jika kau tidak mau, aku akan katakan pada semua orang bahwa kau pernah membantu ku mengirim sabu-sabu dan ganja ke SMA Merah Putih. Bagaimana, kau tidak keberatan jika dikeluarkan dari sini?"

Meskipun Alexa dan Lucifer memiliki power disini, tapi posisi Fighter sadar betul jika ia masih sangat baru. Jika ancaman Johnny betul-betul terjadi, kemungkinan besar dewan kemahasiswaan tak akan mentolerir hal seperti ini.

"Kenapa diam? Aku sedang bertanya padamu." Tanya Johnny lagi saat tak mendapat jawaban.

"Baiklah jika kau menolak."

Semudah itu? Lalu kenapa repot-repot memaksanya tadi untuk_

"Akan ku suruh saja pacar mu untuk melakukannya. Dia juga maba kan disini? Dia tak akan berani menolakku."

Pacar??

"Aku tak punya pacar."

Wajah Johnny cengo mendengar kalimat itu. Ia menurunkan balok kayu dari bahunya dan mendekat beberapa langkah kearah Fighter.

"Tak punya pacar? Lalu, gadis yang waktu itu bersama mu?"

Selain tak suka disentuh orang asing dan berbagi tempat tidur, Fighter juga kurang nyaman ditatap dari jarak sedekat ini.

"Dia bukan pacar ku. Lalukan sesukamu dan jangan ganggu aku." Kali ini Johnny tak berusa menghentikan pria tampan itu. Ia membiarkan pergi hingga akhirnya punggungnya tak terlihat lagi di ujung koridor.

"Apa benar tidak ada sesuatu diantara mereka?" Monolog Johnny.


~H.A.Z.A.R.D~


Fighter sedikit terkejut saat dua orang pria tinggi tiba-tiba menghadang jalannya. Satu dari mereka bersandar pada dinding dengan seputung rokok berada diantara bibirnya, sementara satunya lagi berdiri tegak dengan kedua tangan terlipat didepan dada.

HAZARD Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang