Ini gila!
Sepanjang hidupnya Fighter tidak pernah berpikir akan melakukan pekerjaan kotor seperti mengirimkan paket berisi narkoba. Terlebih lagi benda haram itu akan dikirimkan ke sebuah universitas bergengsi di kota ini. Namun jika ia menolak, bukan hanya nyawanya saja yang dalam bahaya melainkan juga nyawa Vivian.
"Bagaimana? Kau mau? Aku tidak akan memaksa. Tapi jika kau menolak yang jelas kau tidak akan keluar dengan utuh dari sini. Wanita yang ada diluar sana juga bernasib sama tentunya."
Fighter mengeraskan rahangnya saat mendengar ancaman itu. Ia harus berpikir cepat untuk mencari solusi.
"Seseorang akan datang kesini tidak lama lagi."
"Hahahaha apa kau becanda? Apa hazard bodoh itu tidak memberitau mu jika kamar-kamar di lantai 9 ini tak berpenghuni? Semua kamar di lantai ini kosong karena semua mahasiswa semester akhir sedang menyiapkan ujian kelulusan."
Alexa tadi memang sempat mengatakan jika kamar di lantai 9 sepi karena sebentar lagi akan ada ujian kelulusan. Namun Fighter tak pernah mengira jika sepi dalam hal ini benar-benar tak berpenghuni satu pun. Pantas saja sepanjang jalan Fighter tak mendengar suara apapun dari kamar-kamar yang ia lewati.
Diam-diam Fighter menyesali keputusannya untuk datang ke lantai 9. Awalnya ia hanya berpikir untuk pergi menjauh dari keramaian sebab ia tak terlalu suka berada diantara kerumunan orang. Namun sayang hal seperti ini justru terjadi padanya.
"Waktu mu tidak banyak bung."
Setelah berpikir cukup lama Fighter akhirnya menjawab.
"Hanya mengantarkannya saja kan?"
Benar. Fighter tidak punya pilihan lain. Pria dibelakangnya tersenyum sekali lagi.
"Ya.. kau hanya perlu mengantarnya. Akan ada seseorang yang menunggu mu di tembok belakang universitas itu."
"Kalau begitu lepaskan tanganmu brengsek."
"O-oh santai bung.."
Setelah cengkraman itu terlepas, Fighter mengusap pergelangan tangan dan lehernya yang memerah. Warna merah itu terlihat cukup jelas di kulit seputih giok miliknya.
Fighter hanya diam ketika pria yang baru saja menodongkan pisau kearahnya memasukkan sebuah kardus berukuran cukup besar kedalam ransel hitam. Sepertinya benda yang ada didalamnya adalah ganja dan sabu-sabu.
"Ini."
Hap!
Untung saja Fighter memiliki refleks yang bagus jadi tas ransel itu mendarat tepat diatas tangannya. Memasukkan pisau kecil itu kedalam saku celanaya, pria itu kemudian terlihat bertukar pesan dengan seseorang lewat ponsel.
"Itu barang mahal, jadi pastikan mereka membayarnya sebelum kau menyerahkannya. Apa kau mengerti?"
Dari berat tas ransel itu, mungkin narkoba yang ada didalamnya berjumlah sekitar 3 kilo! Ini gila! Bagaimana bisa seorang mahasiswa melakukan jual beli benda haram seperti narkoba?!
Tok Tok Tok!
"Halo? Apa ada orang didalam?"
"Ahh sial. Kenapa wanita itu berisik sekali sih?! Suaranya bisa mengundang orang lain kemari!"
"Kenapa tidak kau lakukan sendiri? Mengirim benda ini." Kata Fighter setelah memakai ransel hitam dipunggungnya.
"Bodoh! Jika bisa ku lakukan sendiri maka akan ku lakukan tanpa menyuruhmu. Bajingan-bajingan kecil itu sudah menyulitkan ku selama sebulan ini, aku bahkan tidak bisa pergi keluar menunjukkan wajahku lagi. Sialan, apa mereka tidak lelah terus mengawasiku?"
KAMU SEDANG MEMBACA
HAZARD
Fiksi RemajaMenceritakan tentang sebuah organisasi bernama 'Hazard' dan segala sesuatu yang terjadi di Independent University. "Dewan Hazard itu baik tapi juga jahat disaat yang bersamaan."
