30. Mark

22 5 0
                                        

Pintu kaca otomatis terbuka ketika puluhan orang ber jas merah maroon berjalan masuk. Otomatis dalam hal ini tidak terbuka dengan sendirinya, tapi karena seseorang menahannya. Dia adalah Alfaro.

Ketika hari mulai sore Alexa memang memutuskan untuk menghentikan acara 'pemberian kompensasi' kepada mereka yang datang ke kampus. Dan mereka kembali ke ruang hazard untuk melepas penat.

Dylan sedang mengantri untuk mengambil minum saat Alfaro masih berdiri di dekat pintu. Ia pun segera mengajaknya untuk bergabung dengan yang lain

"Al, kau tidak haus?"

"Duluan saja bung."

Hanya ada satu dispenser di sudut ruangan, jadi mau tak mau mereka harus mengantri.

"Menunggu siapa?"

"Alexa dan yang lain belum datang." Jawab Alfaro.

"Pak Julian memanggil mereka tadi. Kau minumlah dulu."

Setelah menimang beberapa saat Alfaro akhirnya menyetujuinya. Yah tenggorokannya memang sedikit kering karena cuaca hari ini yang cukup terik. Pria dengan rambut hitam kecokelatan itu menerima gelas yang disodorkan Dylan.

"Thanks bro."

BRAK!

Salah satu dari mereka menendang kursi yang tadinya berjejer rapi. Michaelle, Adisty dan Maya segera menyingkir saking terkejutnya.

"Sial! Wanita tua itu benar-benar membuat ku sakit kepala! Bagaimana mungkin dia meminta kompensasi tanpa menyertakan anaknya? Apa dia pikir kita ini adalah badan amal? Tsk!"

Dengan wajah kesalnya, Kavin menarik salah satu dan duduk disana dengan kedua kaki lurus diatas meja. Adisty yang melihat itu pun merasa jengkel.

"Hei Kavin! Turunkan kaki mu!" Gadis berambut cokelat sebahu itu berkacak pinggang. Namun Kavin di sisi kiri nya sama sekali tak bergeming.

"Ku bilang turunkan kaki mu!"

Jika saja ada Alexa dan yang lainnya, maka Kavin tidak akan beranu menaruh kakinya diatas meja seperti sekarang ini. Dan lagi, dimana Hellen dan Laura? Mereka berdua juga tidak terlihat sejak tadi.

"Adisty cantik, lebih baik kau duduk saja disana. Jangan terus berteriak, telinga ku sakit." Timpal salah satu dari mereka menunjuk kursi kosong. Namanya Hendra.

"Sudahlah dis, percuma saja bicara dengan mereka. Kepala batu!" Michaelle menarik tangan Adisty untuk menjauh.

Maya mengikuti di belakang. "Lihat saja jika Hellen kembali."

Dan pria bernama Hendra hanya mencebikkan bibirnya.

"Ku rasa banyak yang dengan sengaja mencari keuntungan dari kegiatan ini." Ujar Hendery yang baru saja datang. Ia menarik kursi dan duduk di sebelah Kavin.

Dylan, Alfaro dan yang lainnya juga ikut bergabung disana.

"Hei bung, kau tau anak berbaju kuning tadi?" Sela Kavin tiba-tiba.

"Maksud mu yang tadi berada di meja ku?" Balas salah satu dari mereka.

"Iya, yang itu."

"Ada apa dengan dia?" Tanya Dylan.

"Dia meminta kompensasi 1 juta untuk jam tangannya yang tertinggal didalam tenda saat kebakaran. Dia benar-benar gila!"

"Jam tangan seharga 1 juta itu masih wajar. Alexa saja jam tangannya seharga Rp. 2.900.000." Imbuh Michaelle.

"Jam milik Alexa dari brand Alexandre Christie, wajar saja jika mahal. Tapi jam tangan milik anak itu aku yakin bukan dari brand terkenal. Dia itu anak miskin."

HAZARD Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang