Matahari baru muncul beberapa menit lalu. Sinarnya begitu terang namun juga redup disaat yang bersamaan, menimbulkan sensasi yang sangat pas bagi tubuh manusia sebab rasanya tidak terlalu panas ketika mengenai kulit.
Angin berhembus dari celah pepohonan, menyalurkan oksigen kepada setiap mahluk hidup dibawahnya untuk kemudian di tukarkan dengan karbondioksida.
Sebuah siklus alam yang wajar terjadi setiap harinya.
Lucifer memarkirkan motor balap miliknya di parkiran khusus untuk dewan hazard kemudian melangkah ringan menuju ruang hazard. Kondisinya sedikit lebih baik dari pada kemarin. Namun meskipun begitu, ia tetap harus rutin untuk mengoleskan salep ke lukanya setiap 3 jam sekali.
Hanya ada 1 mobil dan 1 motor balap lainnya disana. Mobil itu adalah mobil milik Zoey, sementara motor balap berwarna merah disana adalah milik Louis.
Dimana kendaraan milik Giovi?
Pria tinggi bertubuh besar itu tidak memiliki kendaraan pribadi. Biasanya ia akan menebeng kepada Alexa atau Zoey.
Biasanya ada 1 mobil mewah lainnya yang terparkir disana, akan tetapi sekarang mobil itu tidak ada disana. Sebab, Alexa tidak berangkat hari ini.
Luka-luka yang ia dapatkan kemarin benar-benar membuat Lucifer kesulitan untuk menentukan posisi tidur, hingga menyebabkan pria tampan itu bangun kesiangan. Persetanan dengan jarum jam ditangannya yang sudah menunjukkan pukul 09.00, ia tetap berjalan santai menuju ruang hazard.
~H.A.Z.A.R.D~
Zoey berjalan dengan langkah tergesa-gesa di sepanjang koridor kampus. Kepalanya menoleh kesana-kemari seperti sedang mencari sesuatu.
"Sial, kemana mereka? Giovi akan membunuh ku jika tidak menemukan mereka." Gumamnya kesal.
Ia membuka satu per satu pintu ruang kelas yang ia lewati. Dikarenakan hari ini masih ada ospek, jadi beberapa kelas meliburkan sementara kegiatan perkuliahan membuat beberapa kelas kosong tak berpenghuni.
Pakaian luar yang ia pakai bergerak kesana kemari seiring dengan tiupan angin. Jas berwarna merah maroon itu merupakan jas kebanggan yang selalu di eluh-eluhkan semua orang yang ada di Independent University.
Jas milik Dewan Hazard.
Nama Chan Zoey Xi tertulis jelas di dada sebelah kanan.
Mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya, ia berusaha menghubungi seseorang. Namun yang terdengar dari seberang sana hanyalah suara operator wanita membuatnya kembali mengumpat.
"Angkat telfonnya sialan!"
Tak peduli berapa kalipun ia mencoba mendial nomor itu, yang terdengar hanyalah suara operator. Kejadian itu terus berulang beberapa kali.
Merasa lelah, Zoey pun akhirnya berhenti didepan sebuah ruangan. Ia tampak ragu ketika memegang knop pintu.
"Haruskah aku membukanya lagi? Siapa tau mereka sudah datang 'kan?"
Pria berkulit putih dengan mata sipit itu membuka sebuah pintu berwarna cokelat muda bertuliskan 'Ruangan Hazard' diatasnya.
"Oh damn! Setidaknya tutup pintunya rapat-rapat jika kau ingin meletakkan kaki mu diatas meja seperti itu! Bagaimana jika nanti ada yang melihatnya? Kau ingin reputasi hazard hancur?" Kesalnya pada sosok yang sedang duduk didalam sana. Sosok tersebut meletakkan kedua kakinya diatas meja.
Sosok pria didalam sana berdecak kesal. "Ck! Ruangan hazard bukan ruangan yang bisa bebas dikunjungi siapa pun, kau tau betul itu. Bahkan CCTV pun tidak ada di ruangan ini. Jadi siapa yang bisa melihat apa yang ku lakukan disini?"
KAMU SEDANG MEMBACA
HAZARD
Teen FictionMenceritakan tentang sebuah organisasi bernama 'Hazard' dan segala sesuatu yang terjadi di Independent University. "Dewan Hazard itu baik tapi juga jahat disaat yang bersamaan."
