31. The Fact

28 5 0
                                        

Buat yang lupa siapa itu Mark, Mark pernah muncul di bab sebelumnya yang bab 'Tracer 85'. Disana juga ada penjelasan sedikit tentang siapa Mark dan siapa Leon.

Happy Reading!!!

~H.A.Z.A.R.D~

Benar. Lucifer tidak salah lihat, pria berambut blonde didepannya adalah Mark. Ah, rasanya sudah lama sekali mereka tidak bertemu sejak kejadian di kantor polisi waktu itu.

"Hey Mark! Lama sudah tidak bertemu. Sedang apa disini?" Tanya Louis ketika sudah berdiri di sisi kiri Lucifer.

"I'm...just looking for fun."

"For fun?"

"Yeah.."

Entah mengapa Lucifer merasa ada yang aneh dengan pria didepannya saat ini. Terlebih lagi ketika iris abu-abu miliknya beradu dengan iris cokelat terang milik pria kelahiran Toronto itu. Jadi ia hanya diam ketika Louis mengajak Mark mengobrol untum sekedar basa-basi.

"Dimana kak Leon? Biasanya kau selalu mengikutinya seperti ekor." Louis tertawa pelan ketika masih belum menyadari adanya perubahan atmosfer disekitar mereka.

Mark mengulas senyum. Bibirnya terbuka sekedar untuk menjawab Louis barusan. "Dia ada di rumah." Louis mengangguk paham.

"Bagaimana kabarnya? Sudah lama aku tidak melihatnya."

"Dia... Sangat baik."

"Oh ya Mark, aku dan Lucifer mau ke caffe. Apa kau mau ikut?"

Belum sempat pria berambut blonde itu menjawab, tiba-tiba datang sekumpulan pria bermotor yang memakai jaket kulit hitam legam.

Suara gerungan motor terdengar semakin keras ketika para pemotor yang kira-kira berjumlah 15 orang itu membuat rute melingkar disekitar ketiganya. Para pemotor berhenti menarik pedal gas, turun dari atas motor mereka dan berdiri di sekeliling ketiganya.

"Mark...?"

"Apa? Mereka teman-teman ku. Tidak perlu terkejut seperti itu. Bukankah kalian berdua sudah pernah bertemu dengan mereka?"

Terkadang jika ada waktu luang, Lucifer dan Louis memang sering mengunjungi base camp 'Singa Utara' _nama geng motor milik Leon.

Sesungguhnya Louis bukanlah seorang pria pengecut. Hanya saja ia tidak ingin ada keributan, meskipun untuk beberapa saat dirinya dibuat tertegun ketika melihat belasan pasang mata yang tertuju padanya dan Lucifer. Maksudnya, mereka menatapnya seolah-olah ingin memakannya hidup-hidup.

"Hei ayolah, jangan seperti ini Mark. Kita tidak punya masalah apapun kan?" Louis maju beberapa langkah.

Berbeda dengan Louis yang sepertinya berusaha mencegah 'sesuatu' terjadi, Lucifer justru sejak tadi diam membisu. Pandangannya tak sekalipum lepas dari sosok Mark. Seperti ada percikan api yang tersirat lewat kedua iris matanya yang terang.

Alis Louis terangkat mana kala Mark tiba-tiba tertawa pelan dan berjalan mendekat.

"Tentu saja kita punya. Kalian pasti belum lupa kan tentang kejadian di kantor polisi waktu itu? Kak Alexa menghajar Kak Leon tanpa ampun hingga tulang tangannya retak."

Sebenarnya ada alasan mengapa Louis dan Lucifer sudah tidak pernah lagi mengunjungi base camp Singa Utara. Itu terjadi sejak kejadian di kantor polisi waktu itu, mereka memilih untuk menjaga jarak untuk sementara waktu.

Louis menoleh ketika Lucifer mengambil tiga langkah kedepan hingga ujung sepatunya bersentuhan dengan ujung sepatu milik Mark.

"Bagaimana kabarnya? Apakah dia sudah mati?" Tanyanya dengan suara rendah. Lucifer juga tertawa di ujung kalimatnya.

HAZARD Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang