“Jadi, kau sungguh adalah adiknya?”
Pria yang berdiri di samping brankar sebelah mengangguk kecil.
“Mn.”
“Sial.” Pria yang satunya mengerang frustasi sambil mnegacak rambutnya.
Pria itu adalah Louis.
Louis sudah sadar sejak tujuh menit yang lalu. Beberapa saat setelah ia sadar, Fighter memberitaunya jika pria itu adalah saudara kandung dari sahabatnya, Alexa dan Lucifer. Mendadak Louis merasa kepalanya seperti akan pecah sebentar lagi. Seprei yang ada di pahanya menjadi pelarian betapa kacaunya pikiran Louis saat ini.
Oh ayolah, ini terlalu mengejutkan baginya!
Sejak kapan?! Maksudnya, mengapa Alexa atau Lucifer tidak mengatakan apapun padanya jika adik mereka menjadi maba di kampus mereka?
“Fighter.”
“Hm?”
“Soal kejadian di lapangan waktu itu, aku minta maaf sudah menyiram mu dengan susu basi. Aku tidak tau kau adik Lucifer dan Alexa.”
Perlahan Fighter mengangkat kepalanya dan menoleh kearah Louis yang terlihat jelas merasa tidak nyaman.
“Aku tidak marah karena kau menyiram ku dengan susu basi, tapi boleh aku bertanya sesuatu?”
Setelah mengatakan identitas aslinya, Fighter merasa ia tidak perlu repot-repot lagi memamggil Louis dengan embel-embel ‘kakak’ sebagai bentuk formalitas. Louis juga tidak protes ketika Fighter berbicara lebih santai padanya.
“Ya, tentu. Apa yang ingin kau tanyakan?”
“Membintal mahasiswa baru saat ospek? Kenapa kalian melakukan itu? Itu sudah kuno.”
Fighter tidak mengerti, mengapa ajaran kuno seperti itu masih diberlakukan di kampus ternama seperti Independent University? Mengapa tidak menggantinya dengan sesuatu yang lebih menyenangkan bagi semua orang? Banyak artikel buruk di social media tentang hazard sejak hari pertama ospek.
“Kau bisa menjawabnya dari sana, tidak perlu turun dari brankar. Lukamu belum pulih.” Ujar Fighter ketika melihat Louis turun dari bangsal miliknya dan berdiri di sisi lain membuatnya berhadapan dengan pria berwajah manis itu.
Tangan kanan Louis bertumpu pada tiang yang menyalurkan infus ke tangannya. Beberapa plester luka yang tertempel di beberapa sudut wajah tak sedikit pun mengurangi ketampannya bahkan meski sudut bibirnya yang robek terlihat sedikit mengerikan di mata Fighter.
Iris mata Louis beralih ke sosok yang masih terbaring tak sadarkan diri didepannya. Kondisinya hampir sama dengannya, banyak plester luka dan selang infus yang terpasang pada sosok tersebut.
“Dia belum bangun?”
Fighter secara refleks mengikuti kemana arah fokus Louis. “Hmm. Dokter bilang lukanya lebih parah dari lukamu.”
“Beberapa hari yang lalu dia dan Alexa terluka ketika mereka berdua pulang ke rumah. Punggung Lucifer terluka cukup parah saat itu, tapi dia menolak dibawa ke rumah sakit. Dan tadi Mark melemparnya ke tumpukan meja, luka-luka di punggungnya pasti semakin memburuk.”
Louis sudah beberapa kali menawarkan diri untuk mengantar ke rumah sakit, tapi Lucifer tetaplah Lucifer. Pria itu selalu keras kepala seperti biasanya.
“Dia selalu keras kepala.” Keduanya sama-sama tertuju pada sosok Lucifer yang belum sadar.
“Ya, kau benar…”
Saat Louis belum sadar, dokter yang menangani mereka berdua mengatakan kepada Fighter jika luka di punggung Lucifer cukup serius. Kemungkinan besar karena benturan keras. Hal itu membuat Lucifer harus berbaring dengan posisi menyamping. Pakaiannya dan Louis juga sudah diganti dengan baju rumah sakit berwarna biru langit sesaat setalah mereka dipindahkan dari ruang UGD.
KAMU SEDANG MEMBACA
HAZARD
Genç KurguMenceritakan tentang sebuah organisasi bernama 'Hazard' dan segala sesuatu yang terjadi di Independent University. "Dewan Hazard itu baik tapi juga jahat disaat yang bersamaan."
