Keesokan paginya, Erlan yang sedang tertidur pulas menggeliat dalam tidurnya saat sebuah cahaya seakan memaksa masuk kedalam kornea matanya. Perlahan kedua matanya pun terbuka, dan pemandangan pertama yang ia lihat adalah sosok siluet pria tinggi berdiri membelakanginya.
Tingginya hampir dua meter, serta otot-otot di lengan dan punggungnya cukup menandakan betapa seringnya pria itu berolahraga.
"Jam berapa sekarang?" Tanyanya dengan suara khas orang bangun tidur.
"Tujuh lebih lima belas."
"Aku masih sangat mengantuk, hoaamm."
Fighter, pria tinggi yang baru saja membuka gorden berjalan kearah temoat tidur lalu mendudukan dirinya disana untuk sekedar mengecek notifikasi ponsel.
"Kalian terlalu lama bermain game." Katanya yang kini sibuk men-scrool ratusan pesan yang muncul di grub jurusan.
"Hooaamm."
Untuk kesekian kalinya Erlan menguap karena rasa kantuk yang melanda.
"Kami bermain hanya sampai jam 11 Figh, tapi Lino terus mengigau jadi aku tidak bisa tidur."
Selepas bermain game dengan Lino semalam, mereka tidur pads pukul 11. Tapi siapa sangka? Lino ternyata adalah tipikal orang yang suka berbicara dalam tidur! Membuat Erlan mengalami kesulitan dan baru bisa tidur nyenyak saat jam 2 dini hari.
"Dia tidak hanya berisik saat bangun ternyata." Erlan mengangguk karena setuju dengan kalimat itu. Pria itu kemudian bangun untuk melipat selimutnya.
"Oh ya, apa kau ada kelas pagi ini?" Tanya Fighter saat sudah mengalihkan pandangannya dari benda pipih itu.
Erlan terlihat berpikir sebentar, sebelum akhirnya menjawab.
"Seingat ku ada, di jam 12 nanti. Kenapa?"
"Tidak ada apa-apa."
"Apa kau ada kelas pagi ini?"
"Mnn." Pria itu mengangguk kecil.
"Di jam berapa?"
"Delapan. Bisa kau bangunkan dia? Ku rasa dia tidak akan bangun kecuali ada kebakaran." Ucapnya nenunjuk Lino yang masih terlelap memeluk guling.
"Hahaha kau benar. Akan ku bangunkan, kau mandi saja dulu."
Fighter memang tidak menjawab, tapi pria itu berjalan kearah lemari untuk mengambil seragam yang semalam ia gantung dan berjalan kearah kamar mandi.
"Lin, bangun. Bukankah kau ada kelas pagi ini? Sudah jam tujuh lebih."
Beberapa kali Erlan mencoba membangunkan Lino dengan cara mengguncang bahu si lelaki berkulit pucat. Namun pria itu justru mengucapkan kalimat tidak jelas.
"Aaahhh eomma~~ jamsiman-yo~" Erlan tidak mengerti bahasa Korea, ia juga tidak mau ambil pusing untuk memikirkan arti kalimat Lino barusan.
Tapi siapa sangka? Membangunkan Lino ternyata tidak mudah sama sekali, sebab pria itu selalu menangkis tangannya. Erlan sampai harus mengguncang pria itu beberapa kali dan menaikkan sedikit nada bicaranya.
"Hei, bangun! Linnn.."
"Eommaaa~ aku ingin rendang!!"
"Oh astagaa! Lihat saja nanti jika sudah bangun. Akan ku buat dirimu menjadi rendang!"
Kesabarannya telah habis! Mengguncang, melempar dengan bantal, bahkan menarik kaki dan tangannya sudah Erlan lakukan tapi Lino tetap tidak mau bangun.
Haruskah ia menyiramnya dengan air? Tapi itu tidak sopan.
KAMU SEDANG MEMBACA
HAZARD
Teen FictionMenceritakan tentang sebuah organisasi bernama 'Hazard' dan segala sesuatu yang terjadi di Independent University. "Dewan Hazard itu baik tapi juga jahat disaat yang bersamaan."
