28. Stay The Night

38 4 0
                                        

Selama dalam perjalanan pulang, tidak banyak pembicaraan diantara Fighter dan Vivian. Fighter yang pada dasarnya pendiam dan Vivian yang tidak tau harus memulai pembicaraan dari mana, berakhir dengan keduanya yang hanya diam sepanjang perjalanan.

Mungkin karena lelah dan hari sudah hampir tengah malam, tiba-tiba Vivian merasa dirinya mengantuk. Ia berusaha menjaga kedua matanya untuk tetap terbuka, namun angin malam seakan-akan meniup pela  kelopak matanya hingga tertutup. Perlahan, gadis cantik itu pun mulai kehilangan kesadarannya.

Sementara didepan sana, Fighter merasakan beban yang cukup berat di bahu sebelah kanannya. Ketika ia sedikit menoleh kebelakang, rupanya Vivian sedang terlelap dan menempelkan pipinya di bahu lebarnya. Takut jika Vivian terjatuh, Fighter menarik tangan gadis itu agar berpegangan padanya ; membuat pelukan disekitar pinggangnya lebih erat lagi.

Dua puluh lima menit berlalu, Fighter alhirnya menghentikan laju motornya didepan sebuah gedung yang menjulang tinggi. Bangunan tersebut adalah rumah sakit yang kebetulan paling dekat dengan kampus.

Tidak perlu bertanya ia mengetahui alamat ini dari mana, sebab ia pernah datang kesini untuk mengantar Vivian meski hanya sekali. Ingatan Fighter cukup bagus untuk semua hal. Pria berkulit seputih giok itu mengguncang pelan seseorang dibelakangnya.

"Kita sudah sampai." 

Butuh waktu beberapa saat bagi Vivian untuk mengumpulkan kesadarannya. Setelah sadar, ia turun dibantu oleh Fighter dan melepas helm yang ia pakai. Fighter mengikatnya di jok belakang seperti semula.

Sepertinya Vivian tertidur sepanjang perjalanan hingga tak sadar jika keduanya sudah sampai didepan rumah sakit tempat ibunya di rawat.

"Aku akan langsung pulang."

"Ya, terimakasih sudah mengantar ku. Ha___"

Brrmmmm

"___Hati-hati di jalan."

Vivian menggantung kalimatnya, sebab pria yang baru saja mengantarnya langsung menancap gas tanpa menunggu ia menyelesaikan ucapannya.

"Dasar bodoh, harusnya aku tidak tertidur. Dia pasti merasa seperti tukang ojek. Vivian kau bodoh sekali." Berulang kali Vivian memukul kepalanya sendiri hingga dua orang wanita yang sedang lewat sontak memperhatikan tingkahnya.

Merasa malu dengan tingkah konyolnya, Vivian segera beranjak masuk kedalam untuk mengecek kondisi ibunya. Sudah dua hari ini ia tak melihat wajah satu-satunya keluarganya yang tersisa. Vivian merindukan ibunya dan semoga ibunya baik-baik saja selama ia tinggal dua hari kemarin.

~H.A.Z.A.R.D~


Setelah mematikan mesin motornya dan melepas helm di kepalany. a. , Fighter turun dari atas motor sambil menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jari tangannya yang panjang. Setelah mengantar Vivian, Fighter kembali ke Independent University ; lebih tepatnya ke asrama untuk mengembalikan kunci motor Lucifer. Semoga saja pria itu tidak mengamuk karena ia meminjam motor miliknya tampa izin lebih dulu.

Beruntung keadaan di parkiran asrama saat itu sedang sepi, jika tidak orang-orang pasti akan bertanya untuk apa seorang peserta maba ada di parkiran asrama tengah malah begini? Sebab, tidka sembarang orang bisa masuk ke lingkungan asrama kampus karena penjagaannya yang ketat.

Fighter yang sedang berjalan santai dengan membawa tas ransel di punggungnga sontak bersembunyi dibelakang sebuah mobil saat dua orang pria berjalan kearahnya.

"Apa kau sudah melihatnya?" Kata salah satu dari mereka.

"Ya, aku melihatnya di TV tadi. Kebakaran itu sangat besar hingga butuh 2 mobil kebakaran untuk memadamkan apinya. Beritanya bahkan masuk ke semua saluran televisi!"

HAZARD Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang