47. Apology

19 2 0
                                        

"Vivian..."

Benar. Orang yang baru saja memanggilnya adalah Vivian. Gadis yang ia cari sejak pagi. Fighter berjalan mendekati gadis itu tanpa ragu. Langahnya begitu lebar seakan-akan jalan dibawahnya akan runtuh sebentar lagi.

"Hei, maafkan aku. Aku salah... Aku tak bermaksud membentak mu waktu itu."

Rasanya Fighter ingin sekali memeluk sosok didepannya dan mengucapkan beribu kata maaf yang selama ini hanya ada dalam benaknya. Tapi kemudian ia sadar, mungkin itu bukan hal yang benar untuk dilakukan saat ini.

Namun tidak ada sesuatu yang gadis itu ucapkan. Ia hanya berdiri dan menatapnya dengan mata kecilnya.

Tapi tunggu, gadis itu tidak datang kearahnya. Melainkan kepada sosok anak kecil dibelakangnya?

"Kau tidak apa? Apa dia menyakiti mu?" Tanyanya seraya memutar tubuh anak laki-laki itu.

"Kakak, aku lapar." Kata anak itu. 

'Hei, aku tidak sekasar itu pada anak kecil!' batin Fighter.

"Tidak dengar? Aku sedang bicara dengan mu."

Vivian meminta kembali tas nya, ia kemudian memberi selembar uang seratus ribu rupiah yang diambil dari dalam dompetnya.

"Ambil ini, beli apapun yang kamu mau tapi jangan mencuri barang orang lain lagi lain kali, ya?" Anak laki-laki itu mengangguk.

"Baju sekolah mu jadi kotor begini." Dibersihkannya seragam itu dengan tangan kurusnya. Namun tiba-tiba anak itu mundur beberapa langkah.

"Terimakasih uangnya kak. Maaf untuk yang tadi." Dan sosoknya menghilang begitu saja.

'Cepat sekali larinya.' Pikir Vivian.

Merasa telah diabaikan cukup lama, Fighter akhirnya berdehem dan ternyata idenya berhasil. Vivian akhirnya menoleh kearahnya.

"Aku tidak melakukan apa-apa pada anak itu."

"Mn. Aku tahu." Fighter memangkas jarak diantara mereka selagi Vivian memakai kembali tasnya.

"Seharusnya kau tak memberinya uang."

"Dia bilang lapar. Aku tidak mungkin mengabaikannya begitu saja."

Kini jarak keduanya kurang dari satu meter. Mereka berada didepan toko mainan yang kala itu tengah sepi.

"Tapi dia bukan tanggung jawab mu. Dia punya orang tua, mereka harusnya mendidik anak mereka tentang apa yang boleh dan tidak boleh untuk dilakukan."

Jika saja ada orang yang melintas, mereka pasti akan mengira keduanya adalah sepasang kekasih yang sedang beradu argumen. Terlebih lagi perbedaan tinggi badan keduanya yang terlihat sangat menggemaskan.

"Kamu tau? Beberapa anak di dunia ini terlahir dengan keadaan kurang beruntung. Ada yang terlahir dari keluarga kurang mampu, ada juga yang tumbuh tanpa peran orang tua. Kita tidak bisa menghakimi seseorang hanya karena cara dia tumbuh berbeda dengan kita."

Fighter masih disana, sejujurnya ia cukup terkejut mendengar bagaimana cara Vivian berpikir. Gadis itu benar-benar berpikir luas dan tidak ingin menghakimi siapa pun.

"Apapun alasannya, bukankah mencuri tidak bisa dibenarkan?"

Vivian mengangguk kecil. "Benar. Itu sebabnya aku memberinya uang agar dia tak perlu mencuri."

"Kamu tau? Kamu sangat baik."

"Tidak sebaik dirimu."

"Aku?" Fighter menunjuk dirinya sendiri dan Vivian sekali lagi mengangguk. "Aku tidak melakukan apapun."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 07, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

HAZARD Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang