44. Wooden House

29 2 0
                                        

Dini hari, tepat pukul satu, jalanan sempit di gang itu sunyi nyaris tanpa suara. Hanya sesekali terdengar anjing menggonggong dari kejauhan, bercampur dengan dengung serangga yang malas bersembunyi. Seorang pria muda melintas, menunggangi motor laki-laki berwarna hitam yang mesinnya meraung pelan sebelum akhirnya berhenti di depan sebuah rumah sederhana dengan cat tembok yang telah lama terkelupas.

Ia turun, melepas helm, lalu berjalan pelan ke arah pintu kayu yang kusam. Begitu disentuh, engsel pintu itu berderit panjang, seakan mengaduh karena jarang digerakkan. Dari dalam, kegelapan menyambutnya—dingin, kosong, dan hening. Sekilas, Jeff mengira rumah itu tak berpenghuni. Tidak ada suara, tidak ada tanda-tanda kehidupan, hanya aroma lembab yang menusuk hidung.

Namun ketika tangannya meraih saklar dan lampu kuning redup menyala, bayangan pertama yang terlihat membuat Jeff terdiam. Di sudut ruangan, di atas sofa tua yang penuh bercak jamur dan sobekan kain, tubuh kecil itu meringkuk. Wajahnya setengah tersembunyi, rambut kusut menutupi sebagian pipi. Tubuhnya tampak rapuh, seperti berusaha menyusut dari dunia. Sofa itu sendiri seakan menolak menopang, busa mengintip dari celah-celah robekannya, tapi tubuh mungil itu tetap bertahan di sana, diam, tak bergerak.

Jeff menahan napas. Pikirannya masih terhenti antara heran dan ngeri. Cukup lama Jeff menatap sosok itu dengan segala emosi yang terpancar dimatanya. Perlahan, ia mendekati sosok ringkih itu.

"Bangun, Jess."

Sosok anak kecil dengan rambut lusuh, dan tubuh ringkih itu tak lain adalah Jess, adik kandungnya sendiri sekaligus saudara satu-satunya yang ia miliki. Jeff sangat membenci perasaanya saat ini.

"Jess, bangun." Setelah beberapa kali usahanya, Jess akhirnya mengerjapkan mata dan duduk.

"Kakak?" Anak kecil itu menguap dan mengerjapkan matanya berkali-kali seolah ingin memastikan sosok yang ada didepannya benar-benar kakaknya.

"Pindah ke kamar mu."

"Aku tidak mendengar suara motor kakak? Kapan kakak pulang?"

"Bagaimana bisa kau mendengar suara motor jika kau tidur begitu lelap?"

"Maaf, kak. Aku ketiduran saat sedang menunggu mu."

Saat menggulirkan matanya, ia tanpa sengaja melihat ada begitu banyak bekas gigitan nyamuk di lengan dan paha Jess.

"Lain kali, jangan menungguku."

"Uhm!" Angguknya lucu.

"Ayo pindah ke kamar. Bukankah besok kau sekolah?" Jeff memungut dua bantal diatas sofa yang keadaannya juga tak lebih layak dari sofanya.

"Kakak."

Pergerakan Jeff terhenti ketika tangan kurus itu menyentuh lengannya. Lagi-lagi Jeff merasa hatinya memanas.

"Ada apa?"

"Apa kakak punya uang? Aku belum makan sejak pulang sekolah." tanyanya lirih, suara itu pecah, separuh takut, separuh putus asa.

Jeff terdiam, dadanya mengeras, seperti ada batu besar yang tiba-tiba menghimpit. Kata-kata itu menghantamnya lebih dalam daripada yang bisa ia tunjukkan.

"Dimana ayah?"

Gelengan kepala Jess berikan pada sang kakak.

"Tadi siang ayah pulang sebentar. Ayah meminta uang padaku dan aku bilang aku tidak punya uang. Ayah kemudian marah dan menendang pintu, dia pergi setelah itu."

Sepuluh jari Jeff seketika terkepal kuat. Tulang rahangnya menjadi semakin keras.

"Tunggu disini, ku belikan sesuatu diluar. Tapi mungkin kau hanya akan mendapat nasi goreng karena semua toko tutup."

HAZARD Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang