Clik!
Api keluar dari ujung sebuah pemantik sedetik setelah seseorang menyalakannya. Gulungan kertas berisi tembakau diletakkan diatas api hingga ujung gulungannya terbakar.
Fiuhh
Alexa menghembuskan asap dari mulutnya, tangan karinya berkacak pinggang, sementara tangan kanannya mengapit sebuah putung rokok dengan dua jarinya. Sebenarnya ia bukan tipikal perokok aktif, ia hanya menyesap gulungan tembakau itu saat pikirannya sedang kacau saja dan sekarang otaknya seperti akan meledak sebentar lagi.
Lima meter dibelakangnya, sosok Jess berdiri sambil memperhatikan punggung Alexa sejak tadi. Pria itu membawanya ke sebuah area pemancingan yang sangat sepi, mereka berdiri tepat di tepi kolam. Keringan dingin membanjiri dahi Jess, sepuluh jari-jarinya saling bertautan, menunjukkan betapa groginya ia saat ini.
“Kak Alexa.” Panggilnya ragu, terdengar sedikit bergetar.
“Hm?” Sahutnya tanpa menoleh.
“Apa.. kakak kuliah di Independent University?”
“Jika sudah tau kenapa bertanya?”
Skakmat. Jess kehilangan kata-katanya dalam sekejap. Anak itu menjadi diam untuk beberapa saat hingga rokok di tangan Alexa hampir habis terbakar. Tapi Jess tidak tahan jika harus berdiam diri sampai kakanya datang, jadi dengan sisa-sisa keberaniannya ia mencoba untuk mengajak bicara kembali Alexa.
“Kakak ku juga kuliah disana. Dia baru masuk tahun ini, dia di jurusan Teknik Arsitektur.”
Alexa menghentikan kegiatan merokoknya, mematikan benda itu dengan cara menginjaknya lalu berbalik kearah Jess.
“Teknik Arsitektur?”
“Mn! Teknik Arsitektur.” Angguknya penuh semangat. Tanpa sadar mengulas senyum saat membayangkan sang kakak.
“Siapa namanya?”
“Namanya adalah..”
“Jess!”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, seseorang menyebut namanya dengan sangat lantang hingga membuat Jess dan Alexa menoleh ke sumber suara. Seorang pria dengan setelah kemeja putih panjang dan celana hitam berlari kencang kearah keduanya.
“Apa yang kau lakukan disini?! Bukannya kau bilang akan pergi belajar kelompok?!” Kata orang itu menyentuh kedua bahu Jess. Wajahnya terlihat sedikit kesal.
“I-itu…”
“Jadi dia adalah adik mu?”
Tersadar jika ada sosok lain disana, pria yang tadi berbicara dengan Jess lantas menoleh.
“Kau..”
“Atitude mu masih perlu diperbaiki ternyata.”
“Berhenti basa-basi, dan katakan kenapa adikku bisa bersama mu?”
Senyum tipis terlukis diwajah tampan Alexa. Pria itu memasukkan kedua tangannya kedalam saku blazer. “Adik mu baru saja membeli narkoba.”
Mendengar kalimat itu, kakak Jess lansung saja memelototi adiknya.
“Tidak kak! Itu bukan milikku!”
“Adik mu sepertinya sudah menjadi pesuruh seseorang.”
“Apa maksud mu?!” Jengkelnya.
“Kau tidak salah dengar. Dia diminta seseorang untuk mengambil narkoba di belakang gedung sekolahnya. Jika gurunya tau, kau pikir apa yang akan terjadi dengannya?”
KAMU SEDANG MEMBACA
HAZARD
Novela JuvenilMenceritakan tentang sebuah organisasi bernama 'Hazard' dan segala sesuatu yang terjadi di Independent University. "Dewan Hazard itu baik tapi juga jahat disaat yang bersamaan."
