39. Fight

31 5 1
                                        

Fighter, Lino, dan juga Erlan sedang dalam perjalanan menuju kelas mereka masing-masing. Mereka bangun sedikit terlambat sebab pria bernama Lee Know yang sangat sulit untuk di bangunkan sampai harus membuat Erlan berteriak ada kabakaran. Jika tidak begitu, pria itu tidak akan bangun.

"Masih kesal?" Tanya Erlan pada sosok yang berjalan di sampingnya.

"Pikirlah sendiri!"

Sosok itu jelas merajuk. Erlan menoleh pada Fighter seakan meminta pertolongan lewat tatapan memelasnya.

"Jika dia tidak melakukan itu, kau tidak akan bangun, Lin." Mendapat sedikit pembelaan, Erlan pun dengan antusias mengangguk.

Ketiganya berhenti saat Lino tiba-tiba berbalik kearah Fighter dan Erlan.

"Berkat teriakan kencang kalian tadi pagi, jantung ku jadi berdebar-debar terus sampai sekarang tahu! Kepala ku juga sakit karena di bangunkan seperti itu!"

Diingatnya kejadian pagi tadi, saat Lino langsung bangkit dari tidurnya dan berlari keluar kamar saat mendengar Erlan berteriak kencang jika ada kebakaran di kamar mereka. Dan itu membuat saraf di kepalanya menjadi terkejut.

Keduanya lantas segera menyusul Lino yang masih merajuk didepan sana.

Erlan berjalan disampingnya dan berkata. "Aku dan Fighter sudah mencoba membangunkan mu dengan cara halus, tapi kau nya saja yang tidak mau bangun."

"Tapi aku jadi tidak sarapan tahu!"

"Ayolah~ jangan merajuk begitu." Erlan merangkul bahu Lino dengan sebelah tangannya, tapi pria itu dengan cepat segera melepaskannya dan langsung ditarik kembali oleh sang pemilik lengan.

"Oke oke aku salah, maafkan aku. Bagaimana jika sebagai gantinya aku traktir kau makan siang nanti? Bagaimana?"

"Aku boleh pesan apapun yang ku mau?"

"Tentu saja!"

"Deal! Awas saja jika kau bohong padaku!"

"Tidak akan." Pria dengan rambut sedikit cokelat itu mengangkat kelima jari tangan kanannya, bukti bahwa ia telah berjanji. "Figh, kau ikutkan nanti?" Lanjutnya.

"Sepertinya tidak."

"Oh? Kenapa? Tidak seru jika hanya aku dan Erlan saja." Kata Lino.

"Alexa mengajak ku makan siang dengannya dan Lucifer."

Ahh.. jadi begitu.

"Baiklah, kita masih bisa makan siang bersama lain kali." Kata Erlan yang mendapat anggukan setuju dari Lino.

Ketika masih dalam perjalanan, mereka kemudian berpapasan dengan Vivian, Nara, dan juga Jessi. Lino segera saja menyapa mereka.

"Teman-teman!" Ia tersenyum seraya melambaikan tangannya. Wajah masam yang tadi sudah tidak ada.

"Hai!" Sapa mereka. Lebih tepatnya Vivian dan Jessi.

"Mau ke kelas?" Tanya Jessi.

"Uhm! Bagaimana dengan kalian?" Tanya Lino.

"Kami akan pergi ke ruangan dosen." Jawab Jessi.

"Ruangan dosen? Untuk apa?" Tanyanya lagi. Wajahnya nampak kebingungan.

"Tentu saja melihat nama mentor kita. Apa lagi?" Kata Nara. Entah mengapa gadis itu selalu kesal ketika berbicara dengan Lino.

"Mentor? Untuk apa?" Fighter yang sedari tadi diam kini ikut terlibat dalam pembicaraan tersebut.

"Pada intinya, mentor ini yang akan membantu kita dalam hal matkul atau apapun. Ku dengar, dewan kemahasiswaan yang membaginya." Semua mendengarkan dengan baik ketika Jessi memberi penjelasan.

HAZARD Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang