“Kapan kau akan pindah ke asrama, Figh? Kau tau? Beberapa orang sudah mulai pindah hari ini.”
“Ohya? Entahlah. Aku belum memikirkannya.”
“Bagaimana dengan nanti besok? aku berencana akan pindah ke asrama besok sore. Kita bisa jadi teman sekamar!”
“Tidak.”
“Oh? Kenapa?”
“Karena kau terlalu berisik.”
“Ayolah Fighter, jangan seperti itu. Lagipula kita kan sekelas.”
Fighter merotasi matanya malas. Saat ini ia sedang dalam perjalanan menuju gerbang untuk pulang ke rumah. Tapi sosok Lino kembali ‘menempelinya’ sejak keluar dari kelas beberapa saat yang lalu. Pria berkulit putih pucat itu terus memaksanya untuk pindah ke asrama kampus. Sejujurnya Fighter belum sempat membicarakan hal ini dengan orang tuanya, itu sebabnya ia menolak untuk pindah sore ini.
“Teman-teman!” Seseorang dari arah depan berteriak keras sambil melambaikan tangannya. Keduanya lantas berhenti.
“Bukankah itu Erlan?” Tanya Lino.
Sosok itu akhirnya sampai didepan mereka dan benar saja, dia adalah Erlan yang datang dengan nafas tidak beraturan karena berlari.
“Ada apa Lan?” Tanya Lino, lagi.
“Itu… disana…. Hahh… “ Katanya tergopoh-gopoh sambil menumpu kedua tangannya diatas lutut. Fighter hanya diam memperhatikan.
“Disana ada apa? Bicara mu tidak jelas.” Kesal Lino.
“William dan teman-temannya sedang berkelahi dengan Kak Lucifer di parkiran depan!”
Saat otak Lino masih mencerna apa yang Erlan katakan, sosok Fighter sudah dulu mengambil langkah seribu. Erlan segera menarik tangan Lino untuk mengejar Fighter yang sudah jauh didepan mereka.
Pemandangan pertama yang Fighter lihat saat sampai disana adalah sosok Lucifer yang sedang berduel dengan William dan teman-temannya. 1 Vs 3.
Tidak, luka Lucifer yang kemarin bahkan kering!
Maka dengan cepat Fighter segera berlari untuk menghentikan perkelahian itu dengan cara menarik tubuh Lucifer menjauh. Erlan dan Lino yang baru saja sampai juga langsung membantu menjauhkan William dan teman-temannya.
“Lepaskan! Biar ku beri pelajaran bocah tengik ini!” Lucifer terus meronta, membuat Fighter harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menahannya.
Demikian juga dengan William yang terus meronta saat Lino menahannya dari belakang.
“Heyyy jangan terus bergerak! Tangan ku sakit, oh astagaa.” Keluh Lino. Sebab tubuhnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan tubuh William.
Saat keadaan mulai tak terkendali, sosok Dylan datang bersama dengan Laura. Keduanya dengan cepat turun dari motor.
“Berhenti! Oh astaga..”
“Kalian berhentilah!”
“Lucifer hentikan!” Teriak Laura yang tidak berani mendekat. Ia berada tak jauh dari mereka bersama kedua teman William yang sudah berhenti dengan beberapa luka tonjok di wajah mereka.
Setelah berusaha cukup lama, baik Lucifer maupun William akhirnya berhenti saling menyerang. Dylan berdiri di tengah-tengah mereka.
Erlan segera membantu Lino untuk berdiri. Pria itu terpental ketika berusaha menahan William tadi. Sementara William? Ah, kondisinya sangat mengenaskan dengan mata kiri yang memar. Ia bahkan harus dibantu kedua temannya untuk berdiri dengan benar. Dylan menatap ngeri luka di wajah William. Firasatnya mengatakan ini akan menjadi pertanda buruk kedepannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
HAZARD
Fiksi RemajaMenceritakan tentang sebuah organisasi bernama 'Hazard' dan segala sesuatu yang terjadi di Independent University. "Dewan Hazard itu baik tapi juga jahat disaat yang bersamaan."
