46. Wrong

25 2 0
                                        

Lucifer memesan sepotong crossaint dan segelas kopi panas untuk makan siangnya. Awalnya ia ingin bergabung bersama Louis dan yang lainnya, tapi Alexa menariknya ke meja lain. Ia sudah mengajukan protes, tapi Alexa hanya menjawa dengan satu kata "diam." dengan begitu ia tak berani lagi mengajukan protes.

Pria berambut cokelat dengan iris mata abu-abu itu sudah setengah hati duduk disana, tapi sesuatu berhasil membuat hatinya terbakar. Di meja lain dibelakang Alexa, ia melihat Laura dan Dylan tengah tertawa bersama. Sebenarnya bukan hanya ada mereka berdua, tetapi Giovi, Zoey, Alfaro dan hazard lainnya juga ada disana dan mereka semua tertawa saat Kavin memarahi Alfaro yang gagal menangkap lemparan kacangnya.

Tapi Lucifer tidak ingin repot-repot melihat semua itu, sejak awal ia hanya terfokus pada sosok Laura yang mengenakan kemeja merah muda. Lucifer meletakkan gelas kopi ditangannya dengan keras hingga terdengar bunyi 'Clang!'.

Semua gerak-gerik Lucifer tak lepas dari pengawasan Alexa. Bahkan tanpa menoleh ke belakang pun Alexa sudah bisa menebak apa yang membuat suasana hati Lucifer menjadi buruk siang ini. Tak berselang lama Hellen datang membawa dua gelas kopi dan langsung mendudukan dirinya disamping Alexa.

Melihat kedatangan Hellen membuat suasana hati Lucifer menjadi semakin buruk, apalagi ketika ia harus melihat 'pemandangan' saling suap-menyuapi oleh dua orang didepannya. Lucifer hendak pergi, tapi tangan Alexa mencekalnya secepat cahaya yang membuatnya harus melihat adegan 'kotor' itu hingga beberapa menit lamanya.

Apa mereka sengaja ingin pamer kemesraan?! Hell, itu menyakiti mata Lucifer!

Tidak, bukan itu bagian terburuknya. Bagian terburuknya adalah ketika Hellen pergi meninggalkan meja mereka. Awalnya Lucifer ingin bersorak untuk merayakannya, tapi rencana itu langsung pudar ketika Hellen kembali dengan membawa sosok lain bersamannya.

Sosok lain itu adalah Laura.

Meja yang Alexa pilih hanya memiliki 4 kursi dan 3 diantaranya sudah terisi, jadi mau tak mau Laura harus duduk disebelah Lucifer. 

Kedua alis Lucifer bertaut manakala Hellen tiba-tiba tersenyum dan melambaikan tangan entah pada siapa.

"Apa kau sudah gila?" Tanya Lucifer.

Hellen menarik sudut bibirnya keatas. "Aku tidak gila. Lihat disana, aku sedang menyapa Lino. Oh? Bukankah itu Fighter?"

Mendengar nama Fighter, bukan hanya Lucifer, tapi Alexa dan Laura juga dengan refleks melihat kearah yang ditunjuk Hellen. Benar, dari sini mereka bisa melihat sosok Fighter yang duduk berdua dengan pria berponi. Itu adalah Lino.

"Haruskah kita ajak dia kemari?" Tanya Hellen pada Alexa.

"Dia tidak akan mau bahkan jika aku yang memintanya. Jadi biarkan dia disana." Balas Alexa. Dia jelas tau Fighter sepertinya tidak terlalu suka berada disekitar teman-teman hazardnya. Hellen hanya bisa mengangguk dan melanjutkan makan siangnya.

Beberapa menit telah berlalu, Fighter terlihat meninggalkan mejanya disusul oleh Lino. Entah apa yang terjadi disana.

Kemudian Hellen merasa udara disekitarnya semakin menipis ulah dari dua orang di depannya. Padahal cuaca diluar sedang panas, tapi mengapa ia justru  kedinginan? Sesekali ia akan melihat kearah pria disebelahnya seolah meminta tolong. Dan pria tinggi disebelahnya akan menatapnya seolah menjawab "Jangan lihat aku sayang."

"Apa kalian berdua akan terus diam seperti ini? Tidak lelah?" Tanya Hellen saat merasa jengah. Dua orang didepannya seperti sedang perang dingin.

Lucifer dan Laura hanya saling melirik sepintas, Laura yang lebih dulu memutus kontak. "Apa.. maksud mu? Kami baik-baik saja." Elaknya, sengaja mengalihkan perhatian pada sepiring camilan didepannya.

HAZARD Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang