Manusia punya keinginan, akan tetapi Tuhan punya rencana-Nya sendiri. Mencari dia bagaikan mencari jaruh di tumpukan jerami, ada namun terasa mustahil untuk di temukan.
Dewan hazard kini dibuat pusing bukan kepalang sebab sampai saat ini Johnny Suh belum juga ditemukan meski mereka berlima sudah mencari sejak pagi-pagi buta. Giovi menghela nafas panjang untuk kesekian kalinya.
“Sudah ku cari di berbagai tempat, tapi bajingan itu tetap tidak ketemu.”
“Bagaimana sekarang Lex?” Tanya Zoey disampingnya yang sedang berkacak pinggang. Dadanya naik turun setelah berlari kemari tadi.
Cukup lama Alexa terdiam sebelum akhirnya menjawab dengan nada santai.
“Kita pulang.” Balas Alexa. Semua orang mengangguk tanpa berkomentar lebih jauh. Louis yang lebih dulu meninggalkan tempat itu di susul Lucifer dan yang lainnya.
Hari sudah mulai sore dan saat ini seharusnya mereka sedang bersantai di asrama sembari menikmati hari libur dengan secangkir kopi dan membaca tumpukan novel yang penuh inspirasi. Tapi rencana indah itu tinggal bayangan, saat pagi tadi Alexa meminta semua dewan hazard untuk pergi mencari Johnny Suh yang sampai sekarang masih menjadi buron.
“Kemasi barang-barang mu dan barang teman-teman mu jika hari ini Johnny Suh tidak ketemu.” Begitu isi pesan yang Pak Julian kirimkan kepada Alexa pagi tadi sehingga membuat si ketua hazard harus bertindah cepat.
Waktu berjalan dengan cepat, pagi hari pun tiba. Hari ini adalah hari pertama perkuliahan bagi semua orang, terutama para mahasiswa baru yang memiliki antusias tinggi di hari pertama kuliahnya. Para dosen biasanya masuk ke kelas sedikit lebih lambat di hari pertama kuliah, entah apa sebabnya.
Gadis dengan jepit rambut Mutiara di sisi kiri rambutnya menolehkan kepala ke kanan dan kiri sembari memperhatikan satu persatu orang di sekitarnya. Ia menoleh cepat ketika seseorang mencolek lengan kirinya.
“Bagus tidak, Vi?” Suara itu milik Nara. Ia menunjukkan pita merah muda yang mengikat sedikit bagian dari rambut pendeknya.
“Kamu terlihat imut dengan pita itu.” Vivian rasa bukan hanya ia yang merasa jika Nara terlihat sangat imut dan lucu dengan pita di rambutnya.
“Terimakasih Vivian, aku mencintai mu!!” Ucapnya senang memeluk Vivian.
Lima menit kemudian, suasana kelas yang tadinya cukup ramai seketika senyap ketika seorang wanita dengan tinggi sekitar 173cm berjalan masuk dengan membawa tumpukan buku di tangannya. Wanita itu memakai rok span hitam dibawah lutut yang dipadukan dengan kemeja satin berwarna abu-abu muda. Langkah kakinya begitu anggun meski sedikit berisik ketika hak sepatunya beradu dengan kerasnya lantai putih di bawahnya. Atensi semua orang kini tertuju pada wanita itu.
“Selamat pagi semuanya, saya Ms. Alena, dosen Ilmu Keperawatan sekaligus dosen wali untuk kelas Keperawatan semester satu.”
Beberapa orang di belakang mulai berbisik. kebanyakan dari mereka memuji penampilan sang dosen yang dinilai begitu muda dan fresh.
“Hello Ms. Alena!” Sapa semua orang di kelas.
“Ada berapa mahasiswa di kelas ini?”
“Dua puluh empat Miss!” Jawab salah satu anak.
“Baiklah. Kalian masuk bersama, jadi saya harap kalian juga akan lulus bersama. Dua puluh empat orang, tidak kurang dan tidak juga lebih. Sekarang bisa kita mulai kelas all?”
“Yes Miss!!”
~H.A.Z.A.R.D~
Bel istirahat sudah berdering beberapa saat yang lalu. Kini saatnya bagi semua orang untuk mengisi perut sebelum mata kuliah selanjutnya dimulai.
KAMU SEDANG MEMBACA
HAZARD
Ficção AdolescenteMenceritakan tentang sebuah organisasi bernama 'Hazard' dan segala sesuatu yang terjadi di Independent University. "Dewan Hazard itu baik tapi juga jahat disaat yang bersamaan."
