Kalian mungkin bertanya-tanya apa keuntungan menjadi dewan hazard? Mengapa Lucifer sangat tidak rela jika dewan hazard di bubarkan? Seberapa besar pengaruh dewan hazard di Independent University? Maka kalian harus membaca bagian selanjutnya.
Giovi berniat kembali ke kelasnya setelah melewatkan beberapa mata kuliah. Setelah ruangan itu di tutup, ruang hazard terasa seperti berbeda. Seperti ada bagian yang hilang dari tempat yang selama ini menjadi tempat favorit bagi Giovi. Jadi ia memutuskan untuk kembali ke kelas dan mengikuti mata kuliah Sejarah siang ini.
Sesampainya di kelas, dosen pengampu rupanya sudah ada di kelas dan sedang menerangkan materi. Dengan santai Giovi berjalan masuk tanpa memperdulikan anak-anak lain yang terkejut melihat kehadirannya disana dan duduk dengan tenang di kursinya.
“Tumben sekali kau ikut matkul Ibu, Gio? Tidak izin acara hazard lagi?” Tanya dosen Wanita yang berusia sekitar 36 tahun.
Seseorang menyela sebelum Giovi sempat menjawab pertanyaan sang dosen.
“Apa Ibu tidak tau? Dewan hazard sudah resmi di bubarkan pagi ini.”
“Oh benarkah? Itu berita bagus. Kau jadi bisa fokus ke kuliah mu mulai sekarang.”
Laki-laki yang tadi berkata lagi dengan cepat.
“Ya, itu bagus. Adam juga hazard, tapi dia masih bisa mengikuti kelas. Dia nya saja yang sok sibuk dan ingin bolos!”
Giovi tau jika anak itu memang kurang menyukainya sejak awal. Namun baru kali ini anak itu berani berbicara begitu, apalagi didepan dosen dan teman-teman kelasnya. Giovi yang emosi lantas segera bangkit dari duduknya.
“Kau tau apa tentang tugas ku?” Katanya sinis.
“Aku memang tidak tau apa-apa tentang tugas mu, tapi bukankah itu sekarang sudah bubar? Jangan memakai alasan yang sama lagi untuk bolos kelas. Tidak adil bagi yang lain!” Ucapnya tak mau kalah, keduanya sama-sama dalam posisi berdiri.
Jika seseorang izin atau bolos kelas, sudah pasti akan mendapat point yang nantinya bisa berdampak pada keputusan DO (Drop Out) jika point yang terkumpul melebihi batas maksimal. Namun jika itu dewan harard, itu menjadi pengecualian. Tidak akan ada point bahkan jika mereka tidak meminta izin lebih dulu pada dosen yang mengajar.
“Sudah-sudah jangan rebut!. Kita lanjutkan pelajaran. Dan untuk mu Giovi, Ibu akan memberi mu point jika kau bolos lagi, karena sekarang kau sudah bukan lagi dewan hazard..”
Dengan nafas memburu, Gio akhirnya duduk kembali dengan wajah sedikit memerah. Di belakang sana, anak laki-laki yang tadi kondisinya tak jauh berbeda. Ia menatap punggung lebar Giovi dengan tatapan sengit. Gio mulai menyesali keputusannya untuk kembali ke kelas, mood nya hari ini benar-benar hancur.
Tak jauh berbeda dengan Giovi, Zoey juga mengalami hal serupa. Ia baru saja akan masuk kedalam kelasnya saat tiba-tiba seorang dosen laki-laki berkata dari dalam kelas.
“Maksimal telat 15 menit, dan kau sudah telat selama 45 menit. Apa kau pikir kelas Bapak adalah lolucon?”
Pada saat itu juga ia langsung memutar kembali tubuhnya meninggalkan kelas tanpa mengatakan sepatah kata pun. Mengabaikan dosen di belakangnya yang mungkin sedang meneriakinya dengan sumpah serapah.
Sementara Louis cukup beruntung karena tidak mengalami hal serupa. Dosen di kelasnya bahkan tak berkomentar saat ia hanya sibuk dengan headphone di telinganya sementara sang dosen menerangkan materi didepan kelas. Mulutnya sibuk mengunyah sesuatu didalam sana_permen karet.
Goresan tipis hingga tebal mulai tercipta, ia sedang menggambar salah satu karakter favorit nya di game dan hal itu berlangsung cukup lama hingga ia tak menyadari jika kelas sudah berakhir.
KAMU SEDANG MEMBACA
HAZARD
Teen FictionMenceritakan tentang sebuah organisasi bernama 'Hazard' dan segala sesuatu yang terjadi di Independent University. "Dewan Hazard itu baik tapi juga jahat disaat yang bersamaan."
