Belum juga masuk ke dalam mulut, Ester sudah lebih dulu mual karena sebuah daging yang tampak nikmat namun memuakkan itu. Ternyata penyebab dari rasa mual yang tiba-tiba timbul itu lantaran ia mencium aroma amis dan melihat jelas sedikit darah dari daging tersebut. Kepalanya jadi pusing, perut yang semula lapar kini jadi penuh. Namun saat ingin dimuntahkan, tak ada apapun yang keluar dari mulutnya.
"Makanannya gak enak ya, Ce? Tapi tadi mama masak sesuai request dan kesukaan kamu, steak dagingnya juga mateng."
Ester menggelengkan kepala lemah dengan deru napas panjang. Wanita paruh baya yang berada di samping Ester sontak menangkup tubuh lemah putrinya yang seakan ingin jatuh. Tampak wajah khawatir tergambar kala melihat wajah Ester yang mulai pucat.
"Kepalaku pusing banget, Ma."
Mendengar itu, Vani bergegas menuntun putrinya menuju ke kamar yang ada di lantai 2. Saat itu kondisi rumah kebetulan sepi, lantaran Damian dan Bian tengah bekerja dan Elang juga sedang berkuliah. Alhasil hanya ada Vani yang bisa membantu Ester saat ini.
"Mama bikinin makanan lagi aja ya, kamu mau apa?"
Ester menggelengkan kepala pelan dengan merebahkan dirinya di atas ranjang.
"Aku udah gak nafsu makan, Ma. Perutku gak enak," keluhnya.
"Tapi daritadi pagi kamu belum makan nasi, Ce. Minum susu pun gak habis. Kasian bayinya, Ce."
"Tapi aku gak enak makan, Ma. Semuanya kelihatan eneg."
"Terus mau diisi makan apa perutnya? Mama bilangin Damian aja gimana? Barangkali nanti biar dibeliin makanan di luar?"
Vani menghela napas panjang karena ternyata Ester sudah tertidur saat beliau sendiri baru saja membenarkan selimutnya. Akhirnya beliau tak mengganggu Ester sementara dan keluar dari kamar, memutuskan untuk tetap mengabari Damian soal kondisi sang puan saat ini.
Di lain sisi saat sore menjelang, pria muda dengan perawakan tinggi tegap bergegas pergi meninggalkan pelataran kampus. Setelah mendapat kabar dari ibu mertuanya tentang kondisi istrinya, ia berinisiatif untuk membelikan sang puan makanan saat perjalanan pulang nanti. Namun tanpa disadari sedikitpun, ternyata ada dua orang yang sedang mengintai pergerakannya dari belakang. Bukan yang pertama kali, namun mereka selalu mencoba meski sering gagal akhirnya.
"Tujuan kita sebenernya itu Ester atau Damian sih? Kenapa sekarang harus mata-matain dia?"
Plak.
Sontak ia meringis pelan sembari mengusap kepala yang baru saja dipukul oleh kakak sepupunya barusan.
"Kau ini bodoh atau memang sangat bodoh? Dito kemarin bilang apa sama kita?"
Sang empu menghela napas dan mengikuti skenario yang sudah mereka susun sebelumnya dengan sembunyi-sembunyi.
[One Night Sleep]
Setibanya di rumah, Damian bergegas menemui istrinya. Tampak Ester masih terlelap di atas ranjang, dengan inisiatif ia duduk di sisi ranjang begitu pelan tanpa berniat untuk membangunkannya. Ternyata wajah Ester sangat pucat, rasa khawatir mulai menyeruak sampai refleks menyentuh kening sang puan untuk memastikan apakah suhu tubuhnya tinggi atau tidak.
"Hangat," gumamnya pelan.
Perlakuan spontan dari Damian sontak membangunkan wanita itu dari tidurnya. Ia mengernyitkan dahi sebelum membuka kedua matanya setelah merasakan dingin pada bagian keningnya saja.
"Maaf, kamu jadi kebangun."
Tak menimpali apapun, Ester langsung bangkit dari tidurnya dan menyandarkan diri pada punggung ranjang.
KAMU SEDANG MEMBACA
One Night Sleep
RomanceBACA GRATIS SELAGI ON GOING❗ ⚠️ 21+ area. (Jangan DENIAL baca jika masih di bawah umur!). ⚠️ Contains harsh language, swearing and vulgarity. ⚠️ Full Fiction. ~~~ Bukan CEO, bukan mafia, apalagi starboy ibu kota. This is the sole heir to the misch...
