44. Strategi Baru

1.6K 35 0
                                        

Sontak Ester menarik diri dan memberi jarak antar mereka untuk menanyakan maksudnya.

Jadi semua ini bukan kebebasan yang tulus?
Justru masih bersyarat? 

"Apa syaratnya?"

"Kamu ambil alih perusahaan milikku, kelola dan jalankannya semaumu. Asal tetap di bawah pengawasanku."

Sejenak Ester terdiam, ia berpikir keras untuk mengingat sesuatu yang sebenarnya memang tak pernah ia ketahui sebelumnya.

"Perusahaan? Siapa? Maksudnya apa sih?"

Pertanyaan random dari istrinya membuat Damian tersenyum simpul dan menyandarkan tubuh pada punggung ranjangnya. Ia nyaris menutup rapat soal ini, padahal seharusnya Ester sudah jauh lebih tahu dulu daripada orang yang sekadar mengenal namanya.

Ah bagaimana bisa?
Jika Damian saja memang tak pernah mengungkapkannya sedikit pun terhadap Ester? 

"Perusahaan milik almarhum mama yang masih ada sampai sekarang," ujar Damian terus terang tak lama kemudian.

Ester yang memang benar-benar baru mengetahui hal tersebut sempat terkejut. Ia tak pernah berpikir jauh soal ini, sama sekali. 

"Dan perusahaan itulah yang masih diperebutkan Dito sampai sekarang," lanjutnya.

"Dito? Maksudmu, papa kandungmu itu?" 

Damian terdiam sejenak dan menghela napas pelan. 

"Maaf aku belum pernah cerita soal ini denganmu." 

"Dan papaku hanya Dani Margajasa," lanjut Damian dengan menegaskan bahwa Dito tak lagi dianggapnya.

Tatapan keduanya sontak bertemu kala Ester memutuskan untuk tak bersuara lagi. Ia sengaja membisu dan membiarkan pria itu larut dalam sendu. Sorotan mata yang biasa tajam dan mengintimidasinya kini tampak sayu, siapa kira jika Damian bersikap begitu. Terutama padanya.

Tanpa sadar dan refleks, Ester mengulurkan tangannya ke lengan sang suami. Ia hanya bermaksud untuk menenangkan, tak lebih dan tak berharap jauh. Sekadar itu. 

"Banyak hal yang belum kamu tahu, dan sebanyak itu pula aku mulai mengkhawatirkanmu." 

Suara Damian kembali memecah keheningan, dahi Ester berkerut lantas ia membuka suara.

"Atas dasar anak ini kau jadi mengkhawatirkanku?" 

Dengan segan pria itu menggelengkan kepala. 

"Lebih dari itu, Ester." 

"Lantas?"

"Semua yang ada pada dirimu adalah milikku sekarang. Kamu istriku. Dan kalian tanggung jawabku penuh." 

Benar saja, Damian sudah mengambil alih tanggung jawab Ester dari Bian. Terlepas dari sekadar bayi yang di kandungnya tapi Ester juga berperan sebagai istrinya sekarang. 

Sedangkan Ester termangu mendengar kalimat itu, entah kenapa ia selalu senang jika Damian mengatakan dengan gamblang jika ia ini adalah istrinya. 

"Astaga, Ester! Sadar, pernikahan ini hanya karena kecelakaan. Jangan berharap lebih!"

Meski kenyataannya memang begitu, ia terus dan selalu saja denial. 

[One Night Sleep]

PLAK

Tamparan keras mendarat bebas di pipi pemuda itu. Bahkan belum sempat merasakan sakit, ia sudah dihujani banyak pukulan mentah hingga membuatnya refleks tersungkur. Sudut bibirnya sudah berantakan oleh darah yang disapu asal, ringisan tipis turut keluar dari mulut yang berdesis pelan. Ternyata tak hanya itu, saat ingin beranjak bangkit pun usahanya dicegah dengan tendangan keras sampai benturan jelas terdengar. 

One Night Sleep Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang