Selamat Datang Di Bali

26 3 0
                                        

Kala itu semua sudah habis tak tersisa, Den Andy tidak punya daya memperbaiki apa yang sudah hancur lebur.

Apartemen pun sudah tidak bisa lagi kami tempati , 2 mobil kami ditarik leasing, semua toko kami tutup.

Habis? Semua.

2 minggu lamanya aku tinggal di jalanan. Tidur di emperan toko dan kadang tidur dan mandi dari pom bensin ke pom bensin.

Akhirnya,
Tidak ada pilihan lain selain mengizinkan ku kembali bekerja, namun setelah sekian lama aku tidak diizinkan Den Andy untuk bergaul, rasanya dunia luar begitu asing untuk ku.
Akupun kehilangan jejak rekan bermusik ku yang lalu.

Sehingga sulit bagi kami untuk memulai karir lagi di Jakarta. Setelah sekian lama aku menjadi tawanan atas nama cinta oleh Den Andy di apartemen, rasanya dunia luar sulit ku gapai kembali.

Den Andy tidak pernah kehabisan akal, Den Andy mengatur semuanya, dia membuat berbagai portofolio tentangku sebagai seorang pianist.

Dia mengklaim posisi manager pribadi untukku, karena dia ingin walau aku bekerja, semua harus dibawah kendalinya.

Singkat cerita, Den Andy menyebarkan portofolio ku sebagai seorang pianist ke semua kota via email. Tidak hanya Jakarta, tapi juga bandung, bogor, jogja, malang, Sumatra, Bali, bahkan papua.

Dari ratusan lokasi yang membutuhkan pianist, hanya Bali yang merespon.

Maka Den Andy memutuskan membawaku ke Bali untuk peluang pekerjaan tersebut.

Keluarga ku sangat tidak setuju, bahkan ibuku terpingsan-pingsan saat aku pamit ke Bali.

Tentunya keluarga ku tau aku sendirian ke Bali, tanpa Den Andy. Sebegitu besar kebencian keluarga ku terhadap Den Andy.

Walau begitu,
Tapi kami mendapat dukungan dari ibunya Den Andy,
Dia mengizinkan kami pergi dengan syarat menikah siri.

Ya, kami melakukan nikah siri sebelum ke Bali, walau aku meragukan kekuatan hukum dan agama dalam sertifikat nikah siri yang kami punya.
Dan aku meminta Den Andy berjanji untuk tidak berlaku kasar lagi padaku, saat di Bali. Karena aku tidak ingin hal buruk terjadi disaat aku jauh dari keluarga.

Akhirnya,
Kami pergi ke Bali.
Aku meninggalkan anakku dengan ibuku bukan karena aku tidak ingin membawanya,
Tetapi keluarga ku sangat takut jika cucu kesayangan mereka jatuh ke tangan Den Andy.

Pergilah kami ke Bali...

Sesampainya kami di Bali, beberapa tawaran pun aku terima, aku menjadi seorang pianist pendatang yang banjir job dimana-mana.

Untuk telur yang baru menetas di Bali,
Pendapatan ku saat itu terhitung lumayan.

Sayang nya semua uang ku nanti akan masuk ke rekeningnya. Bukan rekening ku.

Beberapa minggu bekerja sebagai pianist Den Andy sudah meminta bagiannya untuk membuat tattoo di kakinya.
Hatiku cukup miris untuk itu, mengapa bisa-bisanya dia tidak bijak menggunakan hasil jerih payahku.

Tapi apalah dayaku, aku terbiasa mematuhi apa yang dia katakan.

"NINGRAT"Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang