Sekembalinya aku merawat dia sendirian, aku mulai kebingungan dengan kondisinya yang semakin menurun.
Kebutuhan merawat ia sakit pun sudah mulai tidak bisa ku tangani, aku bingung, jika aku bekerja maka aku harus meninggalkan 'pasien' ku, jika tidak bekerja maka bagaimana aku menutupi kebutuhan perawatannya.
Sedikitnya, 3 hari sekali selama dirumahkan, aku harus bolak-balik ke rumah sakit menggunakan ambulance.
Biaya dan biaya lagi,
Tidak terbayang hutangnya saat sehat, dan saat sakit.
Di Bulan Januari 2023,
Aku mulai mencari pekerjaan tambahan yang mungkin bisa ku ambil di malam hari saat suamiku sudah tuntas obat-obatan dan tidak begitu berat meninggalkannya di waktunya tidur malam.
Hingga dalam keadaan terbaring Den Andy mencarikan ku pekerjaan tambahan untuk malam hari, kenal lah Den Andy dengan seorang manager entertainment sebuah Hotel Bintang 5, di Kuta,Bali.
Ia bernama Pak Gus Arya, Den Andy awalnya berkomunikasi dengan Pak Gus Arya agar aku terkoneksi menjadi seorang pianist di sebuah hotel tersebut itu karena terdapat shift entertainment jam 10 malam hingga jam 1 dini hari.
Di bulan Januari 2023 adalah bulan terberat bagiku, karena aku harus mengajar pagi, tetapi harus menyiapkan segala kebutuhan suamiku sebelum aku mengajar, dan sepulang mengajar aku merawatnya tanpa istirahat hingga malam hari aku bekerja lagi di hotel hingga pulang jam 2-3 pagi.
Kualitas mengajar ku disekolah menurun, bahkan kualitas menjadi entertainer pun aku menurun. Lambat laun aku tidak bisa menutupi betapa lelahnya hari-hari ku.
Ku lihat suamiku mulai ngelantur, seperti seolah ajal akan segera menjemputnya.
Dia banyak meninggalkan pesan
"Bunda, kalau aku sudah gak ada.. Jaga diri ya.. "
"Bunda, aku banyak salah sama kamu selama ini, kalau aku mati maafin semua kesalahanku ya Bunda... "
"Bunda, kalau nanti bunda hidup sendiri di Bali, siapapun yang menolong bunda harus tau terimakasih ya... "
Hingga tiba tepat tanggal 27 Januari 2023,
Den Andy tiba-tiba saja demam tinggi di jam 2 pagi, kata yang terucap hanya tinggal "Bunda".
Jam 2 pagi aku jalan kaki sangat jauh untuk mencari obat demam, aku tidak tidur melihat dia yang mulai semakin menurun kondisinya di setiap menit.
Tetapi paginya aku tetap mengajar di sekolah.
Pagi itu aku mulai merasakan keanehan di tubuhku, saat mengajar di sekolah sepertinya aku kehilangan cairan, tapi aku cukup minum.
Seperti aku kelaparan, tapi aku cukup makan.
Seperti ada energi yang terbang meninggalkan tubuhku. Aku tidak bisa menceritakan lebih spesifik lagi seperti apa rasanya.
Hingga aku mencoba menghubungi Den Andy tapi tidak ada jawaban, mengajarpun aku tidak konsentrasi.
Aku sedikit tenang karena aku menghubungi pemilik kost untuk sekedar mengecek suamiku, karena aku sangat khawatir meninggalkannya pagi tadi dalam keadaan demam.
Untunglah suamiku katanya hanya tidur.
Sepulangku dari sekolah, aku lihat darah di mana-mana.
Kotorannya pun sudah menyeplak ke kasur.
Ini tidaklah biasa.
Dia muntah dan muntah darah. Kotoran yang keluar dari tubuhnya tidak terkendali.
Aku mau membawanya ke rumah sakit, tapi Den Andy tidak mau. Dia hanya bisa mengangguk, menggelengkan kepala, dan satu kata yang dia bisa ucapkan "Bunda.."
Hingga sejak pulang sekolah aku tidak bisa istirahat dan tidak bisa melakukan aktivitas lainnya hingga keesokan paginya kondisinya semakin kritis.
Sabtu Pagi, 28 Januari 2023.
Den Andy menghembuskan nafas terakhirnya, dipelukanku.
Sendirian.
Iya, sendirian.
Aku terpaku melihat jasad orang yang kucintai mati didepan mataku sendiri.
Aku berada di pulau orang jauh dari keluarga, tidak banyak teman.
Aku tidak lagi sanggup menangis, berkatapun aku tak bisa.
Ingin rasanya aku tergeletak di lantai sekedar menangis meraung-raung atas meninggalnya Den Andy yang begitu aku cintai, tapi jika aku lakukan itu, maka siapa yang mengurus jenazah nya?
Aku tidak punya banyak waktu, aku ditolong pemilik kost untuk menghubungi ambulance, akhirnya aku membawa jenazah suamiku ke rumah sakit terdekat untuk dimandikan, lalu keluarganya memilih Malang, Jawa Timur. sebagai tempat peristirahatan terakhirnya.
Di Malang, almarhum papanya
yaitu Raden Elang Soepardjo dimakamkan.
Aku dan separuh diriku yang sudah menjadi jenazah menyebrang dari pulau Bali menuju Pulau Jawa.
Sepanjang perjalanan aku tidak banyak menangis,
Aku berfikir keras dan bertanya...
Bagaimana bisa fisik muda mu membusuk secepat kilat di Bali?
Bagaimana bisa kamu mati disaat kita belum pernah menikmati keindahan Bali?
Bagaimana mungkin kamu pergi diusia semuda ini?
Bagaimana mungkin kamu belum sempat dioperasi hingga kematian datang tanpa pernah menjawab apa sakitmu?
Dan...,
Bagaimana mungkin perkataanku tentang "Aku merawatmu hanya sampai akhir bulan" itu berarti karena ajalmu di akhir bulan?
Ribuan pertanyaan ku itu akan aku simpan untuk kucari jawabannya suatu hari nanti.
Tibalah di Malang,
Dan ibu mertuaku sujud dikaki ku saat aku turun dari mobil ambulance.
Saat aku lihat banyak keluarga berkumpul, disaat mertuaku sujud, tubuhku tidak lagi sekuat sebelumnya.
Aku terjatuh pingsan,
Aku baru merasakan kehilangan dan kelelahan luar biasa.
Aku tak kuasa berdiri tegak lagi, akupun mengizinkan tubuhku terjatuh dan menikmati ketidakberdayaan diriku sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
"NINGRAT"
Spiritual• Jembatan Tak Terlihat Antara Jawa dan Bali • Sebuah Kisah Nyata Inspiratif Tentang Perjalanan Hidup Seorang Wanita Bangsawan Yang Tidak Biasa
