Selesai pemakaman di Malang, akupun tidak memiliki arah, aku tidak lagi mengerti apa yang harus ku lakukan, aku pun pulang ke Jakarta menemui keluarga dan anakku.
Aku bersimpuh menangis dihadapan mereka, semua keluarga memelukku tanpa berkata sedikitpun.
Seolah didalam pelukan itu aku mendengar kata yang tidak terucap "Kami memaafkanmu, kamu hebat, kamu kuat.."
Beberapa hari kepulangan ku di Jakarta dari Malang itu, aku berfikir bagaimana mungkin aku meneruskan pekerjaan ku di Bali? Sedangkan rasanya aku tidak akan sanggup menginjakan kakiku lagi di Bali, tempat yang menyisakan trauma berat dihidupku.
Pikirku, aku tidak lagi akan melanjutkan perjalanan ku di Bali, karena asing rasanya selama ini almarhum Den Andy yang membawaku kesana.
Akupun bingung karena aku tidak punya uang untuk sekedar membeli tiket pesawat ke Bali.
Lalu aku menceritakan tragedi ini kepada beberapa tempatku bekerja di Bali, akupun memohon maaf bila aku tidak lagi akan kembali ke Bali.
Namun salah satu tempat bekerja ku sangat menginginkanku kembali mengajar, mereka membelikan ku tiket pesawat di hari Sabtu siang.
Akhirnya ku pikir yasudahlah biarlah aku kembali bekerja sambil menyendiri ke Bali dan mengobati luka ku disana.
Tiba di hari keberangkatan,
Ternyata disaat mendekati waktu boarding pesawat, KTP ku tertinggal.
Aku berteriak, memaki diriku sendiri. Kali itu aku ketinggalan pesawat, hingga ibuku menguatkanku dan berkata "Mungkin kamu memang tidak diizinkan pergi lagi, sudahlah nak, lanjutkan hidupmu di Jakarta. "
Lalu aku pulang dengan perasaan campur aduk, betapa bodohnya aku meninggalkan kartu penting sehingga aku melewatkan penerbanganku.
Beberapa jam setelah ku pulang, tempat kerjaku yang lain di Bali tiba-tiba menghubungiku dan mengatakan mereka sudah membelikan ku tiket penerbangan ke Bali, besok hari Minggu. Tanpa aku menceritakan aku sudah hampir terbang siang tadi.
Tuhaaaannnnnn...
Apalagi ini......
Aku sudah benar-benar merelakan tidaklah harus aku kembali ke Bali, tetapi tanpa ku usahakan, ternyata orang lain di Bali yang mengusahakan untuk aku kembali.
Mungkin inilah jalannya,
aku merasa bukan manusia yang memanggilku ke Bali.
Entahlah siapa yang sesungguhnya memanggilku,
Tetapi aku sepertinya harus kem-Bali.
Sesampainya di Bali aku terus menerus menangisi kepergian Den Andy, sambil terus mempelajari, ada apa sebetulnya.
Aku yakin ada alasan besar yang tersurat dibalik kematian Den Andy yang sedikit janggal di Bali.
Jika ada istilah Bali memilih siapa yang boleh tinggal di pulau tersebut, maka kenapa Den Andy tidak boleh???
Hingga ku pelajari lagi dan baru ku sadari, mengingat Den Andy berasal dari Kesultanan Demak, ini mungkin bukti bahwa leluhur Majapahit tidak bisa memaafkan Kesultanan Demak yang memicu runtuhnya kerajaan Majapahit di masa lampau.
Aku perlu terus belajar mengenai ini.
Tapi biarlah aku menata hidup baru ku lagi saat aku kem-Bali.
KAMU SEDANG MEMBACA
"NINGRAT"
Espiritual• Jembatan Tak Terlihat Antara Jawa dan Bali • Sebuah Kisah Nyata Inspiratif Tentang Perjalanan Hidup Seorang Wanita Bangsawan Yang Tidak Biasa
